Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Ketulusan Dante


__ADS_3

Dante keluar dari ruang rawat istrinya dengan wajah yang tertunduk lesu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar seraya menghembuskan nafas beratnya.


Allegra dan Dom menoleh, menatap Dante dengan rasa iba.


"Kalian pulanglah," ucap Dante kepada menantu dan asistennya.


"Tidak, kami di sini saja," jawab Allegra dan Dom bersamaan.


"Kalian perlu istirahat, terutama kamu, Alle," ucap Dante tidak mau di bantah.


"Untuk malam ini Hana akan di rawat di sini, dan untuk selanjutnya aku ingin dia mendapatkan perawatan di rumah. Aku tidak ingin dia berada di lingkungan yang penuh kuman dan penyakit," lanjut Dante.


"Aku akan mengurusnya dan membicarakannya kepada dokter, kamu fokus saja dengan kesehatan istrimu," ucap Dom menatap Boss-nya dengan serius.


"Terima kasih, Dom," ucap Dante.


"Iya, itu sudah menjadi bagian tugasku," jawab Dom.


"Alle, aku akan mengantarkanmu pulang. Lagi pula ini sudah hampir malam," ucap Dom kepada Allegra.


"Tapi--"

__ADS_1


"Kamu mau aku seret!" Dom sudah beranjak lalu memegang lengan Allegra dengan kuat.


"Ish! Jangan sentuh aku!" Allegra menghempaskan tangannya terlepas dari genggam Dom.


Allegra beranjak, berpamitan kepada Dante, setelah itu berjalan mendahului Dom dengan langkah kaki yang kesal.


"Aku akan kembali lagi untuk mengantarkan pakaian ganti kalian," ucap Dom, diangguki oleh Dante.


Dante mendudukkan diri di kursi, setelah kedua orang itu sudah tidak terlihat. Ia memijit pangkal hidungnya, memikirkan istrinya yang tidak ingin berbicara dengannya bahkan melihat wajahnya pun enggan.


"Aku pantas mendapatkan hukuman darimu, Sweetie." Dante bergumam sembari menatap kosong ke depan. Kemudian ia segera masuk ke dalam ruang rawat istrinya ketika mendengar suara benda jatuh dari dalam sana.


"Sweetie!" seru Dante saat melihat Hana ingin beranjak dari tempat tidur, namun kesulitan karena masih merasakan sakit di sekitar perutnya, dan tanpa sengaja ia menyengol gelas yang ada di atas nakas hingga jatuh pecah terburai di atas lantai.


"Aku ingin buang air kecil," cicit Hana.


"Kamu harus bedrest dan tidak boleh banyak bergerak. Aku akan mengantarkanmu ke kamar mandi." Dante mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Maaf," ucap Hana, merasa bersalah karena sudah membuat ke kacauan.


"Aku yang seharusnya meminta maaf," ucap Dante sembari menurunkan istrinya saat sudah tiba di kamar mandi.

__ADS_1


Dante membantu menurunkan cilini dilim istrinya lalu membantu Hana duduk di closet, untuk buang air kecil.


Pria itu begitu telaten merawat Hana, memperlakukannya dengan lembut. Bahkan Dante tidak merasa jijik saat membasuh bagian intinya dengan air bersih.


Hana meneteskan air matanya saat melihat ketulusan suaminya yang begitu nyata adanya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Dante, menoleh saat merasa di perhatikan oleh istrinya


"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mendiam Daddy, seperti tadi," ucap Hana yang sudah terisak.


Dante mengulas senyum, lalu berjongkok di depan istrinya yang masih duduk di closet. Ia menggenggam kedua tangan istrinya dengan penuh kelembutan.


"Jangan menangis. Jangan pernah meneteskan air matamu lagi, apa lagi kamu menangis karena aku. Aku sangat berdosa telah membuatmu menangis dan sedih seperti ini. Aku pantas mendapatkan hukuman darimu," ucap Dante, sedikit mendongak menatap manik hitam legam yang berembun, lalu meneteskan air mata dan membasahi pipi.


"Daddy ... Hiksss ..." Hana tidak mampu berkata-kata, tangisnya pecah lalu memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Aku sangat mencintai, Daddy," ucap Hana di sela tangisnya.


*****


Aku mewek😭😭😭

__ADS_1


Udah 6 bab hari ini. Jadi please jangan lupa komentar dan like di setiap bab-nya, terima kasih. ❤


__ADS_2