Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Ektra Part 7


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Dante sebelumnya, jika kedua orang tua Hana akan datang ke Milan, Italia. Dan hari yang ditunggu telah tiba. Dom, ditugaskan untuk menjemput kedua orang tua Hana di Bandara.


Fernan dan Kartika sudah berada di dalam mobil mewah yang di kendari Dom.


"Excuse me, Mr." Fernan berbicara kepada Dom yang duduk di balik kemudi.


"Gunakan Bahasa Indonesia dengan benar," ucap Dom dengan datar.


"Oh, oke, ternyata bisa Bahasa Indonesia," ucap Fernan.


Dom tidak menjawab, melainkan langsung melanjukan mobilnya menuju Mansion. Suasana di dalam mobil tersebut terasa hening. Fernan dan Kartika saling pandang, lalu menaikkan kedua bahu mereka bersamaan, seolah berkata, "ikuti saja, jangan banyak bicara."


Sedangkan Dom menyetir dengan diam, tenang, dan seperti biasa wajahnya tampak datar.


Hampir setengah jam perjalanan, mobil yang di kendarai Dom berhenti di depan pintu gerbang yang sangat tinggi, megah, dan mewah. Di depan pintu gerbang tersebut di jaga ketat oleh beberapa pria berpakaian serba hitam.


"Apakah menantu kita sangat kaya?" bisik Fernan kepada istrinya


"Diam!" omel Kartika dengan nada berbisik.


Pintu gerbang terbuka, menggeser ke samping. Dom melajukan mobilnya, memasuki halaman Mansion yang begitu luas seperti lapangan sepak bola.

__ADS_1


"Tuan, apakah ini rumah menantu kami?" tanya Fernan, sembari menyembulkan kepalanya dari jendela mobil, menatap bangunan megah dan sangat mewah, berdiri kokoh di depan sana.


"Iya," jawab Dom singkat padat dan jelas.


Mobil sudah berhenti tepat di teras Mansion mewah itu. Ada beberapa pelayan yang mempunyai tugas untuk membukakan pintu mobil, dan mengeluarkan barang bawaan Fernan dan Kartika.


Hana dan Dante menyambut kedua orang tuanya dengan penuh suka cinta.


"Mama." Hana ingin menghampiri ibunya, namun Kartika melarang.


"Jangan bergerak, biar Mama yang ke sana." Kartika langsung berjalan menghampiri putrinya yang sangat di rindukannya, lalu memeluk ibu hamil itu dengan erat dan melepaskan rindu yang bercekol di dalam dada.


Sedangkan Fernan menatap bangunan yang ada di hadapannya ini sambil berdecak kagum, jiwa matrenya meronta-ronta.


Dante menyalami ibu bertuanya dengan sopan santun, lalu beralih menghampiri ayah mertuanya. "Apa kabar, Pa," ucap Dante sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Oh, Tuan Dante." Fernan tersenyum canggung lalu menjabat tangan menantunya.


"Dante saja, jangan terlalu formal," ucap Dante, mengulas senyum tipis.


"Baiklah, Dante."

__ADS_1


"Mari, masuk ke dalam. Kami sampai lupa." Dante mempersilahkan kedua mertuanya masuk ke dalam Mansion.


Sampai di dalam, Fernan dan Kartika di buat melongo saat melihat kemewahan Mansion tersebut. Seperti istana, bahkan di Jakarta saja tidak ada yang mempunyai rumah semewah dan sebagus itu.


"Ma, Pa." Hana menuntun kedua orang tuanya menuju ruang keluarga.


"Aku sangat merindukan kalian," ucap Hana kepada kedua orang tuanya yang duduk di sisi kanan dan kiri.


"Kami juga rindu dengan kamu, Han. Lalu apa kabar cucu Papa?" ucap Fernan menatap perut buncit putrinya.


"Dia baik, dan sangat sehat," jawab Hana tersenyum lebar, lalu memeluk lengan ayahnya.


"Syukurlah," jawab Fernan dan Kartika bersamaan.


Dante dan Dom duduk di sofa sebereng. Sembari melihat Hana yang sangat bahagia bertemu dengan kedua orang tuanya. Tidak ada dendam di antara mereka, karena semua sudah berbaikan dan saling memaafkan.


"Hana, pria yang tidak punya ekspresi itu siapa?" tanya Kartika dengan nada berbisik.


"Itu Dom, asissten Dante," jawab Hana.


"Menyeramkan," gumam Kartika.

__ADS_1


"Mama mengatakan sesuatu?" tanya Hana, mendengar ibunya bergumam.


"Tidak!" Kartika menjawab dengab cepat.


__ADS_2