
Hana menumpahkan tangisnya di pelukan suaminya. Seperti biasa dada bidang dan pundak Dante selalu ada di saat ia membutuhkannya. Hana merasa sangat bersyukur akan hal itu.
“Jangan menangis lagi, Sweetie,” ucap Dante sambil mengusap-usap punggung Hana dengan penuh kelembutan.
“Ini tangisan bahagia, Dad. Akhirnya Papa merestui hubungan kita,” jawab Hana disela isak tangisnya.
“Iya,” jawab Dante, mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali.
“Jika kamu bahagia, kamu tidak boleh menangis. Ingat di sini ada anak kita, nanti dia sedih jika tahu Mommy-nya menangis,” ucap Dante, sembari mendorong kedua sisi pundak istrinya, lalu mengusap kedua pipi Hana yang berlinang air mata.
“Maaf, aku terlalu terbawa perasaan,” jawab Hana lalu menarik ujung kaos suaminya.
SROTTT
Hana tanpa malu dan tanpa merasa bersalah membuang cairannya di ujung kaos suaminya.
“Hana!” Dante langsung beranjak dari duduknya, menatap kaosnya yang basah karena ingus istrinya.
“Kenapa kamu jijik?” tanya Hana dengan ketus.
Dante melepaskan kaosnya lalu melemparkannya ke dalam laundry bag di sudut kamar tersebut. Kemdian ia berkacak pinggang lalu menatap kesal istrinya.
“Kamu harus membayar mahal, karena sudah berani mengotori bajuku,” ucap Dante dengan nada kesal.
__ADS_1
Hana beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan suaminya yang bertelanjang dada itu.
“Daddy ingin menghukumku?” tanya Hana menyentuh dada bidang suaminya dengan jari telunjuknya, dan dengan gerakan yang sensual.
“Yakin?” tanya Hana lagi. Jari yang tadinya meraba dada bidang itu kini semakin turun hingga berhenti tepat di sela paha Dante yang terlihat menggembung, menyimpan sebuah harta karun.
Harta karun apakah itu? Wk wk wk wk.
Dante mendesis ketika Hana meremas nakal senjatanya yang sudah mulai berdiri tegak.
“Jangan menggodaku, Hana. Atau kamu akan menyesal,” ucap Dante, sembari menarik pinggang istrinya hingga menempel pada tubuhnya.
“Daddy yang akan menyesal jika berani menghukumku,” jawab Hana.
“Aku yakin Daddy akan menyesal jika mengetahuinya,” jawab Hana.
“Tidak akan pernah.” Dante berkata sembari meremas dada montok istrinya itu, membuat Hana mendesis nikmat.
“Tidur di luar!” tegas Hana, membuat Dante terkesiap, menghentikan gerakan tangannya yang sedang nakal.
“Hana,” Dante seolah tidak percaya dengan yang ia dengar, kemudian ia segera menyambar bibir istrinya dengan sangat rakus. Tidak memberikan kesempatan istrinya untuk melawan.
“Dad.”
__ADS_1
“Berani sekali kamu ingin menghukumku. Jadi sekarang kamu yang harus di hukum. Aku akan membuatmu mendessah sepanjang malam.” Dante membawa istrinya ke atas ranjang yang sebentar lagi akan bergoyang.
Tok ... Tok ...
Baru saja akan mengganggahi istrinya, terdengar suara ketukan pintu kamar, menghentikan aksi Dante.
"Kali ini kamu selamat, Sweetie," ucap Dante, mengecup bibir istrinya sekilas, lalu beranjak turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu.
"Huh!" Hana menghembuskan nafasnya dengan perasaan lega. Ia segera memperbaiki pakaiannya yang berantakan.
"Gery, ada apa?" tanya Dante, ketika sudah membuka pintu kamarnya.
"Dad, aku ingin membawa Allegra ke Jakarta. Lusa aku ujian," ucap Gery, meninta izin kepada ayahnya.
"Apakah tidak terlalu cepat? Alle sedang hamil muda. Dan perjalanan yang kalian tempuh membutuhkan waktu belasan jam. Ini sangat berbahaya untuk bayi yang di kandung istrimu," jelas Dante.
"Lalu aku harus bagaimana??" Wajah Gery terlihat lesu.
"Tunggu sampai kandungan istrimu kuat. Untuk sementara kalian harus menjalani hubungan jarak jauh," jawab Dante, semakin membuat Gery frustrasi.
***
Udah 6 bab hari ini. Jangan lupa jempol dan komentarnya, biar aku semakin semangat crazy upnya.💃💃
__ADS_1