Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Dante murka!


__ADS_3

Selesai sarapan, Dante segera bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Hati-hati, Dad," ucap Hana lalu mengecup bibir suaminya.


"Iya, Sweetie," jawab Dante, segera memasuki mobil.


"Jangan merajuk seperti anak gadis Dom. Ayo, jalankan mobilnya," ucap Dante kepada Asistennya itu.


Dom mendengus kesal lalu segera melajukan mobil yang ia kemudikan.


*


*


Hana menemui Allegra yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Selain menjadi asistennya, Allegra juga masih bekerja di bagian ruang laundry.


"Alle, jangan banyak beraktivitas, ingat dengan kandunganmu," ucap Hana ketika Allegra memasukkan satu persatu pakaian ke dalam mesin cuci.


"Ini bukan aktivitas yang berat. Jangan khawatir," jawab Allegra. Bagaimana pun ia harus tetap bekerja seperti pelayan lainnya. Walaupun Dante dan Hana memberikan keistimewaan karena dirinya sednag mengandung, namun ia tidak ingin berpangku tangan atau bersantai. Ia akan mengerjakan apa saja yang bisa ia kerjakan.


"Apakah kamu memerlukan sesuatu?" tanya Allegra.


"Tidak, aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja," jawab Hana.

__ADS_1


Allegra terdiam ketika mendangar jawaban Hana. Kedua matanya berkaca-kaca, namun dengan cepat mengerjapkan kelopak matanya berulang kali, agar air matanya itu tidak terjatuh ke pipi.


"Hana, terima kasih. Karena sudah sangat peduli kepadaku," ucap Allegra tulus.


"Jangan berkata seperti itu, Alle. Kita semua menyayangimu," jawab Hana, berjalan mendekati wanita hamil itu.


"Jangan menganggapnya sebagai musibah. Dia adalah anugrah," ucap Hana mengelus perut rata Allegra, sembari berdoa di dalam hati semoga segera hadir malaikat kecil di dalam perutnya.


"Hana, jujur aku merasa takut," ucap Allegra dengan sendu.


"Kenapa harus takut? Apa yang kamu takutkan? Kamu harus menjadi wanita yang kuat Alle," jawab Hana, menyemangati wanita hamil itu.


*


*


BUGH!


Sambutan yang di berikan oleh Dante kepada putranya ketika memasuki Mansion-nya. Marah dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam dada. Ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Bangun!" bentak Dante, ketika Gery tersungkur di atas lantai.


Gery berusaha untuk bangkit sembari mengusap sudut bibirnya yang robek, dan mengeluarkan darah. Kepalanya terasa pusing dan kedua matanya berkunang-kunang, ia berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tidak tumbang.

__ADS_1


"Dad, kenapa memukulku?" tanya Gery bingung. Sebenarnya ia juga merasa marah karena ayahnya memukulnya begitu saja tanpa alasan yang jelas, tapi ia mengesampingkan amarahnya ketika melihat Dante sangat murka kepadanya.


"Karena kamu pantas mendapatkannya!" jawab Dante dengan geram, kedua manik birunya semakin menajam.


"Apa salahku?" tanya Gery lagi.


Dom yang berdiri tidak jauh dari sana, rasanya ini memberikan bogem mentah ke wajah Gery yang sok tampan itu.


"Apa yang kamu lalukan kepada Allegra selama berada di sini?" tanya Dabte dingin.


GLEK


Gery seketika menelan ludahnya dengan kasar. Tubuhnya mendadak kaku dan jantungnya berdetak tidak karuan, wajahnya pun menjadi pucat pasi.


"Jawab!!!" bentak Dante lagi.


"A-aku ... Dad ... Maaf ..." ucap Gery tergagap. Rasa takut mulai menyergapnya.


Dante berkacak pinggang, memalingkan wajahnya sembari mengusap wajahnya kasar, lalu mengumpat berulang kali.


"Ini terakhir kalinya kamu membuat masalah, dan membuat kepalaku pusing! Sebagai pertanggung jawabanmu, kamu harus menikahi Allegra!!" ucap Dante dengan tegas, dan tidak ingn di bantah.


DEG

__ADS_1


__ADS_2