Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Mencari alasan


__ADS_3

Dante dan Hana mengerang bersamaan ketika sudah sampai puncak bersama.


Sungguh pagi yang menggelora bagi pasangan suami istri yang masih bisa di katakan pengantin baru itu.


Kemudian keduanya segera membersihkan sisa percintaan mereka di dalam kamar mandi bersama.


"Aku sudah lemas, Dad," lenguh Hana ketika Dante menggerayangi tubuhnya di bawah derasnya air shower yang membasahi tubuh mereka berdua.


"Aku masih lapar," ucap Dante, lalu segera menghimpit tubuh Hana ke dinding kamar mandi dan ronde kedua pun di mulai.


*


*


Dom berada di ruang makan. Ia sudah selesai dengan sarapannya, menatap ke arah tangga, tidak ada tanda-tanda jika Dante akan turun dari sana. Ia mengetuk-ngetuk meja makan berulang kali, lalu mengintip jam tangannya. Sudah setengah jam dirinya menunggu namun Dante tidak kunjung keluar dari kamar.


"Sebenarnya mereka sedang apa sih?" kesal Dom.


"Anda tidak tidak apa-apa, Dom?" tanya kepala Pelayan yang menatap Dom sejak tadi terlihat resah.


Dom menoleh ke arah wanita paruh baya itu lalu menjelaskan keresahannya.

__ADS_1


"Jadi, apakah kamu tahu apa yang mereka lakukan? Atau mereka sedang sakit?" tanya Dom kepada Kepala pelayan yang terlihat bingung.


"Emh, begini ... bagaimana menjelaskannya ya?" Kepala pelayan itu bingung sendiri, karena di balik Dom yang datar dan tanpa ekspresi, pria itu masih sangat polos dan lugu.


"Ck! Tidak perlu menjelaskan. Itu mereka!" Dom menatap ke arah tangga, di mana Dante dan Hana berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Kepala pelayan menundukkan kepala, menyapa Dante dan Hana bergantian.


"Kenapa wajahmu kusut?" tanya Dante, menarik kursi untuk istrinya. Setelah istrinya duduk di kursi ruang makan, ia mendudukkan di kursi samping Hana.


"Kamu belum bersiap?" tanya Dom, menatap Dante memakai pakaian santai.


"Bersiap untuk?" Dante bertanya balik, membuat Dom menggeram kesal.


"Astaga! Kenapa kamu tidak membangunkanku lebih awal?!" keluh Dante.


"Cih!" Dom berdecih kesal sebagai jawaban.


"Aku sudah membangunkanmu sejak tadi, bahkan aku mengundurkan rapat karena kamu tidak kunjung bangun! Sebenarnya apa yang kalian lakukan?!" Dom saat ini seperti anak kecil yang marah kepada kedua orang tuanya. Menatap sebal kepada Hana dan Dante bergantian.


"Ah ... Emh ..." Dante membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurungkannya, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

__ADS_1


Ia sedang mencari alasan yang tepat.


Sedangkan Hana menunduk dalam, sambil memakan sarapannya. Rasanya seperti sedang di intrograsi, wajahnya kini bersemu merah.


"Mungkin tadi kami sangat pulas tidur. Jadi kami tidak mendengarmu membangunkan aku," jawab Dante pada akhirnya, lalu menyenggol lengan istrinya, seolah meminta dukungan.


"Ah, iya. Maaf, Dom. Jangan marah lagi," jawab Hana.


Dom menghela nafas kasar, lalu beranjak dari duduknya. "Aku tunggu di depan!" ucap Dom dengan datar.


"Oke," jawab Dante, segera memakan sarapannya.


"Dia sangat polos, jadi kita harus berhati-hati jika berbicara dengannya. Jangan sampai otaknya terkontaminasi seperti Gery," ucap Dante, dan di anggukin oleh Hana.


"Gery nanti malam sampai di sini?" tanya Hana. "Aku tidak sabar ingin menjewer telinganya!"


"Tapi, bagaimana jika mantan istrimu ikut ke sini?" tanya Hana dengan cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya berhadapan dengan Marge lagi.


"Dia tidak akan berani. Kamu tenang saja," jawab Dante, sembari mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut.


***

__ADS_1


Sawerannya mana bestie? Hari ini crazy up❤


__ADS_2