
Hana di bawa ke rumah sakit pada malam hari itu juga tentunya dengan pengawalan yang ketat. Dante sebelumnya juga sudah menghubungi rumah sakit terbaik yang ada di Kota Milan untuk menangani istrinya yang akan melahirkan.
“Apakah kalian tidak bisa meredakan rasa sakit yang di rasakan oleh istriku!” sentak Dante pada dokter wanita muda yang menangani istrinya.
Hana sudah di bawah ke ruang persalinan karena pembukaan jalan lahir sudah lengkap.
“Dad, aku butuh dukunganmu, bukan amarahmu.” Hana memegang tangan suaminya dengan kuat saat merasakan kontraksi yang luar biasa di perutnya.
“Maaf, Sweetie, aku terlalu cemas melihat keadaanmu yang seperti ini,” jawab Dante lalu menunduk dan mengecup kening istrinya berulang kali, seraya mengusapkan kata-kata cinta dan penyemangat kepada istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya.
“Aku baik-baik saja. Huh, rasanya anak kita sudah tidak sabar untuk melihat dunia,” ucap Hana menarik nafas panjang saat merasakan dorongan dari bayinya. “Dokter ... bayiku ingin keluar!” pekik Hana seraya menggertakkan giginya dengan kuat hingga urat-urat kecil di wajah dan lehernya menonjol. Kedua tangannya mencengkeram lengan Dante dengan sangat kuat.
Dante menahan nafas bahkan sampai menetaskan air matanya saat melihat istrinya kesakitan dan bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hatinya.
“Aku mencintaimu, Sweetie,” bisik Dante di dekat telinga Hana.
“Dorong dengan kuat, Nyonya. Iya, seperti itu ... rambut bayinya sudah terlihat,” ucap Dokter yang menangani Hana.
“Huh ... huh ...” Hana mengejan kembali setelah mengambil nafas panjang.
__ADS_1
“Ayolah cantik, kamu harus cepat keluar, rasanya Mommy sudah tidak sanggup,” ucap Hana di sela rasa sakitnya.
*
*
*
“Dom! Bisakah kamu duduk?” tanya Fernan kepada Dom yang sejak tadi duduk tidak tenang, berdiri tidak tenang, lalu berjalan mondar-mandir dengan perasaan resah dan gelisah.
“Aku hanya khawatir dengan Hana dan bayinya,” jawab Dom dengan datar, menatap tajam Fernan tanpa rasa takut sedikit pun.
“Kalian ini sejak tadi berisik sekali! Tidak bisakah kalian berdoa untuk Hana dan bayinya?” omel Kartika kepada dua pria tersebut.
“Kamu benar, Sayang. Dom, ayo kita berdoa!” ajak Fernan.
Dom langsung duduk di kursi yang ada di depan ruangan bersalin tersebut. Ia menyatukan kedua tangannya di depan dada, bersamaan dengan kedua matanya yang terpejam, lalu berdoa di dalam hati. Begitu pula dengan Fernan dan lima pengawal di sana melakukan hal yang sama.
Mereka semua yang ada di depan ruang persalinan itu terdiam beberapa saat setelah selesai berdoa bersama, dan tidak berselang lama terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras.
__ADS_1
Dom tersenyum bahagia lalu mengusap wajahnya berulang kali. “Dia sudah keluar,” seru Dom.
Fernan dan Kartika yang sedang berpelukan menoleh ke arah Dom. “Dia siapa yang kamu maksud?” tanya Fernan dan Kartika bersamaan.
“Maksudku keponakanku sudah lahir!” jawab Dom datar, senyum yang menghiasi wajahnya tadi entah hilang ke mana.
Sementara itu Dante dan Hana merasakan kebahagiaan yang tiada terkira saat melihat putri kecil mereka lahir dengan selamat, tanpa kekurangan suatu apa pun, dengan berat badan 3,5 kg. Bayi gembul yang cantik dan sangat menggemaskan.
Bayi cantik itu berada di pelukan Hana untuk melakukan proses menyusui dini dan bayi itu terlihat sedang menyedot sumber makanannya dengan sangat rakus.
“Dia cantik sekali seperti kamu, Sweetie.” Dante meneteskan air matanya ketika melihat bayinya.
“Daddy menangis?” tanya Hana.
“Iya, tapi ini tangisan kebahagiaan,” jawab Dante lalu mengecup kening istrinya dengan dalam, dan penuh cinta, tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada sang istri.
***
Congratulation Dante and Hana atas kelahiran dede gemoy-nya. ❤
__ADS_1
Btw, Dom girang banget yak😆😆😆