
Terdengar tangisan bayi yang begitu nyaring. Tim Medis akhirnya bernafas lega, begitu pula dengan Gery dan Allegra.
“Good Girl,” puji Dokter sembari mengusap keringat yang ada di keningnya dengan lengannya. Bayi ketiga itu menangis sangat kencang, lalu segera di bersihkan oleh perawat.
“Akhirnya aku bisa bernafas dengan baik,” ucap Allegra. Wajah yang tegang kini berangsur mengendur.
Gery tersenyum lalu mengecupi seluruh wajah istrinya tanpa ada yang terlewat. “Terima kasih, sudah berjuang untuk melahirkan anak-anakku,” ucap Gery memandang istrinya dengan penuh cinta.
Allegra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
*
*
Allegra sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP di rumah sakit tersebut. Namun ia harus berpisah dengan ketiga bayinya yang saat ini berada di inkubator. Karena selain lahir prematur, ketiga bayinya itu juga mempunyai berat badan yang rendah.
“Aku baru saja memvideokan mereka,” ucap Gery menunjukkan ponselnya kepada istrinya.
“Ya ampun, mereka sangat lucu. Tapi, tunggu ...” Allegra memperhatikan video ketiga bayinya, lalu menatap suaminya dengan sengit.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Gery.
“Kenapa wajah mereka semua mirip denganmu? Bahkan rambut mereka hitam legam! Ini tidak adil, aku yang mengandungnya selama tujuh bulan!” protes Allegra kepada suaminya, lalu menyerahkan ponsel yang ia pegang kepada Gery.
“Hei, apakah kamu tidak mengingat jika aku yang mengalami mual dan ngidam hampir lima bulan!” jawab Gery tidak mau kalah.
“Oh, jadi kamu sudah merasa bangga karena mengalami mual dan muntah, kalau begitu kenapa kamu tidak mengandung sekalian!” kesal Allegra, lalu memalingkan wajahnya, enggan menatap suaminya.
Gery menghela nafasnya saat melihat istrinya marah kepadanya. Ia mengambil salah satu tangan Allegra lalu mengecup punggung tangan itu dengan mesra. “Walaupun wajah dan rambut mereka mirp denganku, tapi mereka mempunyai mata yang indah dan bibir yang ****,” ucap Gery sembari menatap istrinya.
“Benarkah?” tanya Allegra.
“Berarti tidak sia-sia aku mengandung mereka, syukurlah jika mata mereka menurun dariku,” ucap Allegra tersenyum tipis. “Itu tandanya mereka tidak akan mata keranjang seperti Papanya,” lanjut Allegra melirik sinis suaminya.
“Itu hanya masa lalu sayang,” jawab Gery lalu memeluk istrinya dengan erat.
“Ish, lepaskan aku!” kesal Allegra, namun kedua tangannya malah semakin memeluk erat suaminya.
“Kita belum mengabari Daddy dan Mommy.” Gery langsung melepaskan pelukannya, ia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah tempat tidur pasien, dan segera menghubungi kedua orang tuanya.
__ADS_1
*
*
“Hah, syukurlah ketiga anakmu lahir dengan selamat. Lalu bagaimana dengan Allegra?” tanya Dante kepada putranya. Saat ini mereka sedang Video Call.
“Allegra baik-baik saja, Dad,” jawab Gery. Ia tidak menceritakan kondisi kritis bayi ketiga saat baru lahir beberapa jam yang lalu. Karena tidak ingin membuat khawatir kedua orang tuanya.
“Maafkan Daddy dan Mommy karena belum bisa ke sana,” ucap Dante dengan rasa bersalah.
“Aku mengerti, Dad,” jawab Gery sembari melambaikan tangannya kepada Hana yang berada di belakang Dante.
Kemudian mereka berempat mengobrol, terutama Allegra yang menceritakan pengalamannya melahirkan tiga bayi secara normal.
“Kalian tidak bisa membayangkan rasa sakitnya,” ucap Allegra membuat Hana langsung mengusap perutnya yang buncit.
“Sayang, kamu membuat Mommy takut,” tegur Gery kepada istrinya.
“Benarkah? Maafkan aku,” ucap Allegra sambil memandang layar ponselnya.
__ADS_1
“Kamu membuat perutku mulas, Alle,” ucap Hana sambil tertawa pelan.