Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Damai


__ADS_3

Kenapa penyesalan selalu berada di belakang? Karena jika berada di depan, kita semua tidak akan pernah melakukan kesalahan. Dan dari penyesalan itu kita bisa mengintrospeksi diri sendiri, dan juga memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Semua itu sedang di rasakan dan di lakukan oleh Fernan saat ini. Ia berusaha untuk memperbaiki diri sendiri, agar menjadi pria, suami dan ayah yang lebuh baik lagi. Ia akan membuktikan jika dirinya sudah berubah dan sudah menyesali semua kesalahan dan perbuatan yang sudah ia lakukan selama ini.


“Hana,” ucap Fernan kepada putrinya.


Ya, saat ini Fernan sedang menelepon putrinya menggunakan ponsel istrinya.


Hanya panggilan biasa, ia belum sanggup jika harus melihat wajah putrinya. Ia merasa malu dan rasa bersalahnya masih begitu besar kepada putrinya itu.


“Papa,” suara Hana terdengar bergetar di ujung telepon sana.


Fernan meneteskan air matanya, namun sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara tangis. Begitu pula dengan Hana yang melakukan hal yang sama. Ia berusaha untuk menguatkan hatinya, sedangkan Dante memberikan kekuatan, menggenggam salah satu tangannya dengan erat.


Untuk sesaat ayah dan anak itu saling diam. Bayangan masa lalu tentu saja berputar di dalam benak masing-masing.


“Papa minta maaf. Papa banyak salah sama kamu,” ucap Fernan pada akhirnya setelah hampir satu menit mereka saling terdiam.


“Pa, aku sudah memaafkan Papa jauh sebelum Papa minta maaf kepadaku,” jawab Hana dengan suata bergetar.

__ADS_1


“Rasanya Papa tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu. Papa bukan Ayah yang baik untukmu. Papa jahat kepadamu.” Fernan terisak setelah mengatakan itu semua.


“Jangan berkata seperti itu, Pa,” ucap Hana.


“Papa dengar kamu sudah hamil? Papa senang mendengarnya, karena Mama dan Papa sebentar lagi akan menggendong cucu,” ucap Fernan menyeka air matanya dengan kasar.


“Iya,” jawab Hana sambil mengerjapkan kedua matanya berulang kali.


“Semoga kamu selalu bahagia, dan semoga kamu selalu di berkati oleh Tuhan. Salam untuk suamimu, dan sampaikan kata maaf dari Papa,” ucap Fernan sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Rasanya ia sudah tidak kuat berbicara dengan putrinya. Dadanya terasa sesak, karena mengingat kesalahan di masa lalunya.


Kartika juga tidak bisa membendung air matanya, namun dengan cepat dirinya segera menghapus air matanya.


“Sekarang kamu sudah tahu dengan keadaan putrimu. Aku harap kamu benar-benar berubah Mas,” ucap Kartika tanpa menatap suaminya.


“Ya, aku sudah menyadari semua kesalahanku. Aku sudah mengambil banyak pelajaran dari semua kesalahanku,” jawab Fernan diiringi dengan anggukan kepala.


“Syukurlah,” ucap Kartika.

__ADS_1


“Lalu apakah kamu sudah memaafkan aku, Tika?” tanya Fernan, mendekati Kartika.


Kartika menoleh lalu menganggukkan kepalanya.


“Jadi, apakah kamu masih mau menemani pria tua yang penuh dosa ini sampai tua?” tanya Fernan lagi, seraya menarik salah satu tangan istrinya lalu mengecup punggung tangan itu dengan mesra.


Kartika terdiam, dan tidak sempat menolak dengan aksi Fernan, karena kejadian itu belangsung dengan cepat.


“Fernan jangan seperti ini. Kita ini sudah tua, jadi bersikaplah sewajarnya,” ucap Kartika, menarik tangannya dari genggaman suaminya.


“Apa salahnya? Walaupun kita sudah tua masih bebas berekspresi,” jawab Fernan, membuat Kartika salah tingkah.


“Itu buburmu sudah dingin, silahkan di makan,” ucap Kartika mengalihkan pembicaraan.


“Kamu tidak merindukan aku?” tanya Fernan, semakin menyudutkan Kartika.


“Ha ha ha ha.” Kartika tertawa kaku menanggapinya. “Sepertinya demam bisa membuatmu menjadi aneh,” jawab Kartika seraya beranjak dari duduknya, namun tangannya di cekal oleh suaminya.


“Sepertinya Hana masih pantas jika mempunyai adik lagi,” ucap Fernan, lalu menarik tangan istrinya hingga jatuh terlentang di atas tempat tidur.

__ADS_1


Dan selanjutnya bayangin sendiri ... 🤣🤣


__ADS_2