
“Dad, jangan marah.” Hana menjadi serba salah dengan suaminya yang merajuk kepadanya. Ia mengikuti langkah kaki suami yang memasuki rumah mewah mereka.
“Mulai besok jangan pernah keluar rumah lagi!” Dante membalikkan badan, berkata dengan tegas kepada istrinya.
“Kenapa aku yang di hukum?” tanya Hana dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Allegra dan beberapa pelayan melihat keributan antara suami istri itu, tapi mereka tidak ada yang berani mendekat.
“Karena kamu cantik!” jawab Dante, menatap garang istrinya.
“Hah?! Alasanmu itu tidak masuk akal sama sekali!” Hana tidak mau kalah.
“Terserah, tapi yang jelas kamu harus tetap mematuhi ucapanku!” tegas Dante tidak ingin di bantah.
“Kamu egois!” Hana berkata dengan kesal, menatap suaminya dengan kecewa.
Jika dirinya di larang keluar rumah, sama saja dirinya tinggal di sangkar emas.
“Iya, aku memang egois, tapi karena aku mencintaimu! Paham!” bentak Dante, lalu segera berjalan menuju anak tangga.
Berlari kencang mengikuti suaminya. “Daddy, jangan kurung aku, aku tidak mau!” teriak Hana, masih berlari saat menaiki anak tangga.
__ADS_1
Dante tidak memedulikan istrinya, ia tetap melanjutkan langkahnya.
“Aduh!!” pekik Hana, sembari membungkuk dan memegangi perutnya. Ia berhenti di tengah tangga. Perutnya terasa kram dan sangat sakit luar biasa.
Mendengar suara pekikan istrinya, Dante menoleh dan betapa terkejutnya dirinya melihat istrinya kesakitan.
“Hana!” Dante yang sudah di puncak tangga berlari menuruni tangga lagi, lalu memeluk istrinya dengan erat.
“Apa yang sakit?” tanya Dante sangat panik.
“Sakit, perut sakit,” jawab Hana meringis kesakitan. “Daddy, anak kita.”
Melihat Dante yang terlihat panik sambil menggendong Hana yang kesakitan, membuat para pelayan juga ikut panik.
Mereka menanyakan apa yang terjadi kepada Hana. Lalu Dante menjawab jika perut istrinya sakit.
“Aku ikut!” Allegra mengikuti Dante yang berjalan keluar rumah mewah.
Allegra memanggil satu pengawal untuk menyiapkan mobil yang lebih besar untuk membawa Hana ke rumah sakit.
“Daddy, sakit,” ringis Hana sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
“Bertahan, Sayang. Cepat jalankan mobilnya!” ucap Dante kepada pengawalnya yang sudah duduk di balik kemudi.
Dante menyesali perbuatannya karena sudah kasar kepada istrinya. Jika terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya, maka ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Allegra yang duduk di depan menoleh ke belakang, memandang Hana dengan cemas.
Mobil yang di tumpangi mereka sudah melaju dengan cepat, menuju rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, Hana segera di tangani oleh para medis.
Dante merasa tidak tenang, ia mengusap wajahnya dengan gusar, mondar-mandir di depan ruang IGD.
Allegra duduk kursi yang di sediakan di sana sembari menyatukan kedua tangannya di dada, berdoa kepada Tuhan agar kandungan Hana baik-baik saja.
“Dad, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Allegra.
“Ini salahku,” jawab Dante, lalu menjelaskan kejadian tersebut dengan detail.
“Kamu seolah menuduhnya berselingkuh, sudah jelas jika Hana sangat mencintaimu. Apa yang kamu takutkan?” Allegra menjadi geram dengan ayah mertuanya itu.
Dante diam, benar apa yang dia takutkan? Kenapa dia menjadi bodoh seperti ini hanya karena cemburu dengan pemuda yang tidak jelas. Dante mengumpati kebodohannya.
“Berdoalah untuk istri dan calon anakmu,” ucap Allegra, kepada Dante yang termenung.
__ADS_1