
Hana memandang rumah megah yang berdiri kokoh di depan matanya. Perasaan ragu untuk memasuki rumah tersebut. Rumah yang dulunya seperti penjara dan neraka baginya. Ingatan kelam itu melintas sejenak di benaknya, namun Hana segera menepisnya karena sebuah tekat. Ia ingin menemui Gery—mantan suaminya—yang dulu sering menyiksa dirinya.
Menghela nafas sejenak ketika ia ingin mengayunkan kakinya, mendekati pintu gerbang berwarna emas dan menjulang tinggi ke atas.
Di sebelah kiri ada pos satpam yang untuk menjaga keamanan di rumah tersebut.
“Permisi,” sapa Hana kepada Satpam yang sedang bertugas pada siang hari itu.
Satpam bertubuh tambun berjalan mendekati Hana.
“Loh, Non Hana?” Satpam tersebut terkejut, lalu membukakan pintu gerbang tersebut untuk Hana.
“Pak, jangan memanggil saya seperti itu, karena saya bukan istri Gery lagi,” ucap Hana.
“Saya tidak peduli, Non. Mari silahkan masuk. Non Hana mau ketemu dengan Bibi?” tanya Satpam tersebut ketika Hana sudah memasuki kawasan rumah mewah itu.
“Ya, salah satunya itu. Tapi, tujuam utama saya adalah ingin bertemu dengan Gery, ada?” jawab Hana sekaligus bertanya.
“Tuan Gery belum pulang kuliah, Non. Mau menunggu di dalam? Silahkan,” ucap Satpam tersebut.
__ADS_1
“Tidak, Pak. Terima kasih, saya menunggu di sini saja,” jawab Hana sembari mendudukkan diri di kursi panjang yang terbuat dari besi di luar pos satpam itu.
Satpam tersebut pun tidak memaksa. Ia masuk ke dalam rumah mengambil air minum sekaligus memanggil Bibi kepala pelayan di rumah tersebut.
“Ya, sudah kamu keluar sana,” ucap Bibi kepada Satpam tersebut.
Bibi keluar rumah dengan tergesa untuk menemui Hana.
“Non,” panggil Bibi dengan perasaan senang.
“Bibi.” Hana berdiri lalu memeluk wanita paruh baya itu dengan rasa senang.
“Aduh, semakin cantik,” puji Bibi setelah mengurai pelukan tersebut sembari memperhatikan wajah Hana yang semakin bersinar semenjak menjadi Janda muda. Jelas saya, karena Hana melakukan perawatan mahal dengan uang Dante. Bukan tanpa sebab Hana melakukannya, karena semua itu atas perintah Dante sebelum kembali ke Italia.
“Ayo, masuk ke dalam, Non,” ajak Bibi, namun Hana dengan cepat menolak secara halus.
“Loh, kenapa? Ini juga rumah Nona. Mr. Dante dan Tuan Gery berpesan sebelumnya jika pintu rumah ini terbuka lebar untuk Nona Hana,” terang Bibi, lalu memaksa Hana masuk ke dalam rumah tersebut.
“Bi, sebenarnya aku ke sini karena ingin bertemu dengan Gery,” ucap Hana ketika sudah masuk ke dalam rumah mewah itu dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
__ADS_1
“Sebentar lagi Tuan Gery pulang. Sekarang Tuan Gery sudah menjadi pria yang baik. Bibi bersyukur karena setelah perceraian itu terjadi bisa membuat hati dan pikiran Tuan Gery terbuka,” jelas Bibi.
“Syukurlah.” Hana menanggapi penuh kelegaan.
“Saya buatkan minuman dulu untuk Nona,” ucap Bibi.
“Bi, tidak perlu repot-repot,” seru Hana kepada Bibi yang sudah berlalu ke dapur.
Terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Dan ia yakin jika itu adalah Gery yang sudah pulang dari Kuliah.
“Hana?”
Benar ‘kan tebakannya jika pria tersebut adalah Gery.
“Kamu datang ke sini untuk apa?” tanya Gery.
“Aku ingin menanyakan kabar Daddy, kenapa sampai sekarang dia tidak pernah menghubungiku?” tanya Hana to the point, menatap Gery yang terlihat salah tingkah.
Sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
***
Mengiba kasih Vote dan Like dong. Hari ini crazy up ya❤❤