
"Sweetie, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Dante. Sudah hampir tengah hari namun istrinya itu masih memejamkan di atas tempat tidur. Bahkan istrinya itu melewatkan sarapannya, membuat Dante sangat cemas.
"Aku ngantuk," jawab Hana, masih terpejam. Kedua matanya terasa sangat lengket dan sulit untuk di buka.
"Kamu sudah tidur seharian. Jangan membuatku cemas, apakah kamu sakit? Mana yang sakit?" tanya Dante sangat cemas, lalu menyibakkan selimut yang di gunakan istrinya. Tubuh polos Hana terpampang sempurna di depan mata.
"Daddy!" omel Hana lalu menarik selimut itu kemnali, untuk menutupi tubuhnya.
"Sweetie."
"Jangan menggangguku!" omel Hana lagi dengan rasa kesal.
"Baiklah, tapi pakai bajumu dulu," ucap Dante.
"Pakaikan, aku malas sekali," jawab Hana dengan manja, kedua matanya masih terpejam.
"Baiklah." Dante berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil pakaian istrinya, lalu memakaikannya dengan sangat telaten dan penuh kesabaran.
"Sudah selesai," ucap Dante.
"Hemm," jawab Hana memejamkan kedua matanya lagi, menarik selimut sampai batas leher.
Dante mengelus pipi istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu mengecup pipi itu dengan mesra.
Dante keluar dari kamar, kemudian ia meminta kepada Kepala Pelayan untuk menghubungi Dokter keluarga William. Ia merasa ada yang tidak beres dengan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Dad, ada apa?" tanya Gery ketika melihat Dante mondar-mandir di ruang tengah.
"Menunggu dokter," jawab Dante.
"Siapa yang sakit? Little Mommy?" tabak Gery, lalu Dante menganggukkan kepalanya.
Dokter yang di tunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Lalu Dante menuntun Dokter tersebut menuju kamarnya, di ikuti Gery dari belakang.
*
*
"Bagaimana Dok?" tanya Dante kepada Dokter yang baru selesai memeriksa keadaan istrinya.
Dante terkejut, namun raut wajahnya terlihat bahagia. "Maksud Dokter, istri saya---"
"Iya, kemungkinan besar, istri anda mengandung," jawab Dokter sangat pasti karena melihat gejala yang di rasakan oleh Hana seperti gejala di awal kehamilan. Ia sudah sering mendapati pasien seperti ini, dan diagnosanya tidak pernah salah.
"Terima kasih," ucap Dante.
Dokter tersebut mengangguk pelan, lalu segera membereskan perlatan medisnya, kemudian segera pamit undur dirin karena masih ada pasien yang harus ia tangani.
"Kamu dengar itu, jika kamu sedang mengandung," ucap Dante penuh haru, lalu menciumi wajah istrinya dengan penuh cinta.
"Tapi, kita belum ke dokter kandungan untuk memastikannya, Dad," jawab Hana dengan lirih.
__ADS_1
"Dad, aku akan mempunyai adik dan juga anak?" tanya Gery tersenyum meringis.
"Memamg apa salahnya?" ketus Hana kepada Gery.
"Sini kamu!" Hana menyuruh Gery untuk mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Gery ketika sudah berada di dekat ibu tirinya itu.
"Tundukan kepalamu!" ucap Hana.
Gery menurut saja, menundukkan kepalanya namun tiba-tiba ia memekik kesakitan saat telinganya di tarik oleh Hana.
"Arghh!! Sakit!" pekik Gery, memiringkan kepalanya mengikuti rasa sakit di telinganya.
"Dasar anak nakal!!" kesal Hana, setelah melepaskan telinga Gery yang kini terlihat merah.
Gery menggosok daun telinganya yang baru saja di tarik oleh Hana sembari menggerutu kesal.
"Apakah kamu balas dendam kepadaku?!" kesal Gery.
"Kalau iya kenapa?! Rasanya aku juga ingin memukul bokongmu, agar tidak bandel lagi!" jawab Hana.
Dante hanya terkekeh geli melihat perdebatan itu, tanpa berniat untuk melerai.
"Dasar ibu tiri kejam!" sungut Gery, keluar dari kamar tersebut dengan perasaan kesal.
__ADS_1