
Melihat istrinya yang sudah tidur pulas. Dante beranjak dari atas tempat tidur dengan perlahan lalu mengecup kening dan bibir istrinya bergantian. Kemudian ia segera memakai pakaiannya, mengambil seprei yang ada noda darah istrinya, dan membawanya menuju ruang laundry.
"Dante ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan yang sedang mencuci baju di sana.
"Iya, bagaimana caranya menggunakan mesin cuci ini?" tanya Dante sembari menunjuk mesin cuci yang ada di dekatnya.
"Anda ingin mencuci? Biar saya saja," ucap pelayan tersebut, memandang seprei berwarna abu yang ada di tangan Dante.
"Tidak perlu, aku ingin mencucinya sendiri!" tolak Dante dengan tegas.
"Baiklah." Pelayan tersebut akhirnya mengalah dan bercampur heran. Kemudian mengajarkan Dante mencuci seprei itu sendiri di mesin cuci.
"Jangan pergi jika aku belum selesai mencuci seprei ini!" Dante berkata dengan sangat datar.
"Baik," jawab pelayan tersebut patuh, berdiri di pojokan sembari menundukkan kepalanya dan menautkan kedua tangannya.
Dante menatap seprei yang berputar-putar di dalam mesin cuci. "Seharusnya aku memotret bercak darah itu, sebelum mencucinya." Dante menyesalinya.
"Sebenarnya ada apa dengan seprei itu? Kenapa terlihat sangat spesial?" batin pelayan tersebut, merasa aneh dengan sikap Boss-nya, karena baru pertama kali ini Dante memasuki ruang laundry dan mencuci sendiri.
Setelah selesai mencuci seprei dan membilasnya. Dante memerintahkan pelayan tersebut untuk menjemur sepreinya.
"Jaga seprei ini!" titah Dante sebelum keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Baik, Dante."
*
*
"Kenapa lama sekali? Kami sudah menunggu kalian sampai kelaparan. Dan di mana Hana?" protes Gery sekaligus bertanya kepada Ayahnya.
"Hana sedang istirahat," jawab Dante dengan datar, kenapa ia tiba-tiba tidak suka ketika Gery menanyakan Hana. Ia marasa cemburu.
"Apakah dia sakit?" tanya Gery lagi.
"Apakah tidak ada hal lain yang kamu tanyakan selain menanyakan ISTRIKU!" ucap Dante dengan penuh penekanan.
"Sorry," jawab Dante, lalu segera memakan sarapannya.
"Aneh!" gerutu Gery menatap ayahnya dengan sebal.
Sedangkan Dom duduk anteng di kursinya sembari memakan sarapannya dengan tenang. Ia tidak suka banyak bicara.
"Dom, bagaimana masalah di perusahaan sudah teratasi?" tanya Dante kepada Asistennya sekaligus orang kepercayaanya yang mengelola perusahaannya.
"Sudah!" jawab Dom seraya beranjak ketika sudah selesai sarapan, pergi begitu saja membuat Gery melongo.
__ADS_1
"Daddy kenapa mempekerjakan dia sih? Tidak punya sopan santun!" protes Gery kapada Dante.
"Karena kinerja dia bagus. Dan dia sangat bertanggung jawab, juga setia kepadaku," jawab Dante.
"Ya, baiklah," ucap Gery.
"Jadi kapan kembali ke Indonesia?" tanya Dante.
"Daddy mengusirku?!"
"Ck! Kamu adalah mahasiswa semester akhir, jangan keseringan mengambil cuti, jika ingin lulus tahun ini!" jawab Dante seraya beranjak dari duduknya.
"Besok kamu harus sudah kembali ke Indonesia!" titah Dante dengan tegas.
"Kalau aku tidak mau!" ucap Gery menatap ayahnya dengan sengit.
"Jangan harap mendapatkan uang bulananmu lagi!" jawab Dante, seraya berlalu dari sana, menuju ruang Gym.
"Ck!" Gery berdecak kesal. Mau tidak mau ia harus kembali ke Indonesia dari pada ia tidak mendapatkan uang bulanan. Dulu saat dirinya masih memegang perusahaan yang ada di Jakarta dirinya selalu berfoya-foya setiap hari. Tapi semenjak keuangannya dan perusahaan di ambil alih Dante, Gery merasa menjadi orang termiskin di dunia karena harus hidup menunggu uang transferan dari sang Ayah setiap awal bulan.
Menyedihkan😆
***
__ADS_1
Mengiba dong, kasih like, komentar dan Vote. Terima kasih❤