Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Pagi yang panas


__ADS_3

Jam 7 pagi waktu setempat. Hana bangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya yang sangat tampan walau sedang dalam keadaan tidur.


Dante tidur miring menghadap Hana. Tangan kirinya ia gunakan sebagai bantal, dan tangan kanannya memeluk pinggang istrinya dengan erat.


Hana memperhatikan wajah suaminya yang sangat tampan tanpa cela. Usianya sudah 40 tahun, namun wajah Dante masih terlihat muda, bahkan ia tidak melihat kerutan di wajah tampan itu. Hidung bangir, alis tebal, rahang tegas dan bibir yang tipis namun sexy, membuat visual Dante bertambah sangat sempurna.


"Ah, Daddy, kenapa kamu begitu sangat tampan?" ucap Hana, tangan kirinya terulur untuk menelusuri wajah suaminya yang tampan itu. Di mulai dari alis hingga berakhir di bibir. Bibir tipis yang tadi malam mencium dan mencumbunya. Mengingat hal itu, wajah Hana bersemu merah. Dan rasanya ia ingin lagi dan lagi, bercumbu dan bercinta dengan suaminya.


"Kamu mengganggu tidurku, Sweetie," ucap Dante serak, kedua matanya masih terpejam.


Mendengar suara suaminya, Hana langsung menarik tangannya, karena terkejut.


"Daddy sudah bangun?" tanya Hana, menatap suaminya yang masih terpejam.


Perlahan Dante membuka kedua matanya.


Manik biru itu menatap Hana dengan dalam, dan membuat Hana menjadi salah tingkah.


"Maaf, tadi aku hany--arggh!" Hana memekik ketika tubuhnya di tindih suaminya.


"Dad--"

__ADS_1


CUP


CUP


"Ciuman selamat pagi," ucap Dante, membelai wajah cantik istrinya.


Hana tersenyum lembut, dan menatap suaminya dengan penuh cinta, kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh suaminya.


"Jangan memancingku, Sweetie." Dante menggeleng pelan ketika salah satu tangan Hana merambat turun, menyetuh dada bidangnya, lalu turun lagi dan berhenti tepat di sela pahanya. Memegang dan mengurut senjatanya sudah berdiri tegak dan keras.


"Aku ingin," bisik Hana, menggoda suaminya. Salah satu tangannya menurunkan Boxer yang di kenakan oleh suaminya.


Dante menegakkan tubuhnya, kedua lututnya ia jadikan tumpuan. Ia menarik underware berwarna merah yang di kanakan sang istri, lalu membuangnya asal. Membuka kedua kaki Hana dengan lebar, lalu ia memosisikan dirinya, menuntun senjatanya ke pintu lembah milik istrinya.


"Ahhh ..." dessah Hana ketika senjata suaminya sudah masuk sempurna kedalam lembahnya yang basah dan licin itu.


CUP


Dante mencium bibir istrinya dengan sangat rakus, sambil menggerakkan senjatanya naik turun dengan gerakan cepat.


Suara dessahan tertahan dari Hana membuat Dante semakin bergairah.

__ADS_1


TOK ... TOK ...


Dante mengumpat kesal saat mendengar suara ketukan pintunya di ketuk dari luat. Suara Dom beberapa kali memanggilnya.


"Dante!" seru Dom sembari menatap jam tangan mewahnya yang melingkar di lengan kanannya.


Sudah pagi, tapi Boss-nya belum keluar dari kamar. Sedangkan pagi ini adalah jadwal Dante ke kantor.


Sedangkan di dalam kamar. Dante tidak memedulikan ketukan pintu itu. Ia terus berpacu di atas tubuh istrinya. Meneguk madu kenikmatan untuk menuntaskan rasa dahaganya.


Dom mendengus kesal, masih berdiri di depan pintu kamar tersebut. Lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Rapat di tunda satu jam!" ucap Dom dengan datar. Lalu segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Apakah mereka pingsan?" ucap Dom, melirik jam tangannya lagi. Tidak biasanya Dante dan Hana bangun kesiangan.


***


Mereka lagi anu Dom. Sabar ya 🤣🤣


Jangan lupa dukungannya ya, bestieā¤

__ADS_1


__ADS_2