
Jika Hana yang ada di Italia sedang berbahagia, berbeda dengan yang di Jakarta. Kartika sedang perang batin.
Antara melanjutkan sidang perceraiannya atau tidak.
Ia menatap Fernan yang terlelap di atas tempat tidurnya.
Kartika menemukan Fernan tergeletak di depan rukonya pada saat membuka pintu. Tadinya, Kartikan ingin bersikap cuek, namun pada saat melihat kondisi Fernan yang sedang tidak baik-baik saja, ia akhirnya meminta bantuan kepada dua pemuda yang kebetulan melintas di depan rukonya. Dan di sinilah Fernan berada, di dalam kamar Kartika dengan keadaan lemas tidak berdaya.
Kartika meletakkan semangkuk bubur dan teh hangat di atas nakas. Ia duduk di tepian tempat tidur, menatap pria yang masih berstatus suaminya dengan perasaan tidak menentu.
Kartika menyentuh kening Fernan, dan ternyata tubuh pria itu sangat panas. Kartika beranjak dari sana, menuju dapur yang letaknya di lantai dua untuk mengambil air es untuk mengompres Suaminya.
“Untuk apa aku berbuat baik kepadanya! Tapi, kasihan, bagaimana pun juga di masih suamiku dan ayah dari anakku,” Kartika berbicara kepada dirinya sendiri.
Ia kembali menuju kamarnya sembari membawa mangkuk kaca yang berisi air dingin dan sedikit es. Saat sampai di dalam kamar ternyata Fernan sudah sadar.
“Tika,” ucap Fernan dengan suara yang bergetar.
“Jangan Ge-er, aku menolongmu karena rasa perikemanusiaan,” ucap Kartika ketus, sembari berjalan mendekati Fernan yang duduk di tengah tempat tidur.
“Apa pun alasanmu. Aku senang karena kamu mau menolongku,” jawab Fernan lembut.
__ADS_1
Kartika menyerahkan mangkuk kaca kepada suaminya. “Kompres sendiri!”
“Tanganku lemas,” ucap Fernan, beralasan, lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur lagi. Kedua matanya mengedar di setiap sudut kamar tersebut.
Kamar yang sempit. Di dalam kamar tersebut hanya ada lemari pintu dua, kipas angin, dan tempat tidur berukuran Queen yang saat ini ia gunakan.
Fernan menyalahkan dirinya sendiri, karena dirinya lah istrinya hidup susah dan berjuang sendiri seperti ini.
“Tika, aku minta maaf,” ucap Fernan dengan tulus.
“Aku sudah memaafkan kesalahanmu,” jawab Kartika, sembari mengompres kening suaminya.
“Maaf, aku tidak bisa memberikanmu kesempatan kedua!” potong Kartika dengan tegas.
Fernan menelan ludahnya dengan kasar, tidak menyangka jika istrinya tahu arah pembicaraannya. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat cantik walau usianya sudah tidak muda lagi, wajah sama dengan Hana, putrinya.
“Hana, apa kabar?” tanya Fernan.
“Untuk apa menanyakan dia?” bukannya menjawab, Kartika melayangkan pertanyaan lain dengan nada ketus.
“Dia anakku, Tika,” jawab Fernan.
__ADS_1
Kartika menatap datar kepada suaminya yang juga tengah menatapnya namun dengan tatapan yang lembut.
“Anak? Bukankah kamu sudah tidak menganggapnya anak?!” ucap Kartika dengan sinis.
Sebuah penyesalan yang paling ia sesali saat ini adalah mengatakan hal yang menyakitkan kepada putrinya itu. Rasanya ia ingin memutar waktu, dan menarik ucapannya tersebut.
“Aku menyesalinya Kartika,” ucap Fernan penuh sesal.
“Dia sudah bahagia dengan suaminya,” ucap Kartika dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Fernan mendudukkan dirinya, menatap istrinya dengan dalam.
“Jangan pernah mengusik kebahagiaan Hana. Dia selama ini sudah menderita karenamu,” ucap Kartika lagi, sembari memegang dada. Ingatannya kembali pada penderitaan Hana, yang menimbulkan rasa sesak di dada.
Fernan melepaskan kain yang menempel di keningnya, meletakkan di atas nakas. Sebuah rasa penyesalan menyeruak masuk ke dalam dada.
“Bolehkah aku berbicara dengannya?”
***
Rasain, makanya jadi orang tua jangan egois! Gemess😤😤
__ADS_1