Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Terbang Ke Italia


__ADS_3

“Hana sudah pergi dari rumah ini! Jangan pernah menyesali keputusanmu, Fernan!” ucap Kartika kepada suaminya yang duduk di single sofa di ruang kerja suaminya itu.


Fernan bergeming. Ia bagai patung yang bisa bernafas.


Kartika menghela nafas kasar, keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sedikit lega karena Hana sudah terbebas dari penderitaan. “Di mana pun kamu berada semoga Tuhan selalu menjagamu, dan kamu selalu di berikan kebahagiaan.” Doa Kartika di dalam hati untuk putrinya yang malang.


Hana memasuki Unit apartemen mewah itu. Terasa lengang, sepi, dan sunyi. Karena apartemen tersebut tidak ada yang menempati.


Tapi, sepertinya Bi Rumi tadi pagi baru selesai membersihkan apartemen tersebut.


Hana menyeret kopernya, memasuki kamar Dante.


Aroma maskulin menyeruak masuk ke indra penciuman Hana. Ini adalah aroma Dante yang sangat ia rindukan dan selalu membuatnya tenang.


“Daddy, aku rindu,” lirih Hana.


Hana mengedarkan pandangannya di setiap sudut kamar tersebut yang menjadi saksi bisu kemesraan dan adegan intim antara dirinya dan Hot Daddy itu.


Hana menggigit bibir mungilnya. Perasaannya membuncah ketika adegan demi adegan dengan Dante seperti kaset yang melihat bergantian di dalam benaknya. Rasa rindu semakin besar dan menyergap seluruh jiwa dan raganya.


Ia sangat merindukan Hot Daddy-nya.


Hana mengambil ponselnya, untuk menghubungi Dante, barang kali di angkat, namun sayang hanya harapan belaka.


“Apakah keadaannya belum membaik?” Hana bergumam sembari memegangi ponselnya.

__ADS_1


Drrttt ... Drrttt


Hana berjingkat kaget ketika ponselnya bergetar panjang, ada panggilan masuk. Ia berpikir jika itu Dante, ternyata salah. Gery yang menghubunginya.


“Hallo,” jawab Hana.


“Apakah kamu besok sudah siap pergi?” tanya Gery dari ujung telepon sana.


“Iya,” jawab Hana, penuh semangat.


“Baiklah besok malam aku akan menjemputmu, karena paspor dan juga Visa-mu sudah besok pagi sudah jadi,” ucap Gery.


“Tidak perlu menjemputku, karena aku akan ke rumahmu,” jawab Hana dengan cepat.


“Baiklah kalau begitu,” ucap Gery lalu segera menutup panggilan teleponnya secara sepihak.


Pagi telah menyapa. Hana tadi malam tidak bisa tidur nyenyak, karena terus memikirkan Dante.


Hana menggeliat di atas tempat tidur, merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Kemudian beranjak dari sana, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Hana bergegas bersiap menuju rumah Gery.


*


*

__ADS_1


“Kamu terlalu bersemangat, Hana,” ucap Gery yang sepertinya baru bangun tidur, jika dilihat dari wajahnya yang bermuka bantal dan rambut acak-acakan.


“Ya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Daddy-ku,” jawab Hana yang berada di ruang tamu rumah tersebut.


“Ck! Berlebihan!” cibir Gery, seraya memutar kedua matanya dengan malas.


“Kenapa kita tidak berangkat sekarang?” tanya Hana.


“No! Aku malas jika siang hari,” jawab Gery.


Hana cemberut mendengarnya.


*


*


*


Malam harinya telah tiba. Gery dan Hana sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju Italia. Hana terlihat sangat antusias sekali. Ia terus melengkungkan bibirnya, sembari menatap keindahan langit malam yang terbentang di angkasa.


“Apakah Daddy menghubungimu?” tanya Hana kepada Gery.


“Tidak. Tapi, aku sudah mengirimkan pesan kepada asistennya jika kita datang ke Italia,” jawab Gery.


Hana mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


***


Tak slepet kalian ya kalau nggak kasih Vote dan like🙄🤣


__ADS_2