
Selesai menikmati waktu berdua dan melepaskan penat di Sempione Park, Hana mengajak suaminya makan di restoran Indonesia.
“Aku ingin makan sate, rendang, tempe goreng, soto betawi, dan nasi goreng,” ucap Hana kepada pelayan yang berdiri di dekat mejanya, kebetulan pelayan tersebut juga warga Indonesia.
“Baik, untuk minumnya?” tanya Pelayan tersebut yang memperhatikan Hana sejak tadi, kagum akan kecantikannya.
“Daddy, mau apa?” tanya Hana kepada suaminya yang terlihat kesal kepadanya.
“Lemon tea,” jawab Dante ketus.
“Oke, Lemon tea dua,” ucap Hana kepada pelayan tersebut.
Kemudian pelayan tersebut mengulangi pesanan Hana, takut jika ada yang kurang. “Di tunggu ya, Kakak Cantik, pesanannya akan segera kami siapkan,” ucap pelayan tersebut segera beranjak dari sana.
Dante menatap istrinya dengan tajam.
“Kenapa Daddy menatapku seperti itu?” tanya Hana.
“Aku cemburu, aku tidak suka melihatmu di puji oleh pria lain!” jawab Dante mengutarakan kekesalan di hatinya. Hanya dirinya saja yang boleh memuji dan menganggumu kecantikan istrinya.
__ADS_1
“Ayolah, Dad. Kenapa harus cemburu? Aku juga tidak menanggapinya, hatiku sudah untuk Daddy, hanya untuk Daddy seorang,” jawab Hana, lalu menggenggam salah satu tangan yang ada di atas meja.
Hana menatap suaminya dengan lembut, dan penuh cinta, tentu saja itu berhasil meluluhkan hati Dante yang sedang mode cemburu.
Dante menghela nafas kasar, ia sebenarnya tidak mau berbagi, bahkan jika bisa ia ingin menyembunyikan istrinya di dalam kamar saja agar tidak di lihat oleh pria lain.
“Jika nanti aku sudah tidak gagah atau sudah tidak tampan lagi apakah kamu masih mau denganku?” tanya Dante menatap kedua manik hitam legam itu dengan sendu.
Usianya sudah tua, dan istrinya masih muda dan sangat cantik. Ia hanya takut jika Hana berpaling ke lain hati jika waktu itu sudah tiba.
Hana menggenggam tangan suaminya sangat erat. “Aku akan tetap selalu mencintai Daddy sampai kapan pun. Jadi mulai sekarang, Daddy harus memulai hidup sehat, agar tetap awet muda, panjang umur agar bisa melihat anak dan cucu kita nanti,” ucap Hana, memandang suaminya dengan penuh cinta.
“Aku juga sangat mencintai, Daddy,” jawab Hana. Lalu keduanya itu saling memandang dengan penuh kekaguman.
Tidak berselang lama menu makanan yang mereka pesan akhirnya sudah tersaji di atas meja. Dante dan Hana mulai makan dengan tenang, diiringi dengan candaan.
*
*
__ADS_1
“Maaf, Kak. Bolehkah saya meminta nomor ponselmu?” tanya pelayan pria kepada Hana yang sudah ingin keluar dari Restoran tersebut.
Dante melepaskan tangan istrinya, lalu berkacak pinggang menatap sengit pemuda yang berdiri di depannya itu.
Hana menahan suaminya yang sudah tersulut emosi. “Biar aku saja,” ucap Hana kepada Dante.
Dante mendengus kesal menanggapinya.
“Maaf, aku tidak bisa memberikannya. Karena ada hati yang harus aku jaga,” ucap Hana, memeluk lengan kekar suaminya.
Pemuda itu terdiam, mencerna ucapan Hana.
“Ini adalah suamiku,” jelas Hana. “Dan aku sangat mencintainya.”
Pemuda tersebut menjadi malu dan meminta maaf atas kelancangannya.
“Maaf, aku kira tadi, dia adalah ayahmu,” ucap pemuda itu kepada Hana.
“Apa kamu bilang!!” geram Dante, menatap tajam pemuda yang sudah berani mengagumi istrinya bahkan dengan berani meminta nomor ponsel Hana.
__ADS_1
Rasanya Dante ingin menonjok pemuda tersebut.