
“Alle, kamu kenapa?” tanya Hana kepada Allegra, saat ini mereka berada di taman belakang Mansion tersebut. Duduk bersisian di kursi panjang yang di sediakan di sana.
“Mom, aku sedih karena Gery tidak menghubungiku,” jawab Allegra dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ia merasa sangat takut jika Gery akan meninggalkannya.
Hana tersenyum, mengerti dengan kegelisahan yang di rasakan oleh Allegra. Ia mengusap punggung menantunya itu dengan lembut.
“Dia ‘kan sedang ujian. Dia juga sedang fokus belajar.” Hana berusaha untuk menenangkan.
“Tapi, kenapa dia tidak memberikan kabar atau mengirim pesan?” Allegra tidak bisa tenang sama sekali.
“Alle, aku tahu, Gery mempunyai masa lalu yang buruk, tapi percayalah saat ini dia sudah berubah, tanamkan rasa percayamu kepada dia,” ucap Hana kepada Allegra dengan pelan dan hati-hati, agar ibu hamil itu tidak tersinggung.
Allegra menundukkan kepalanya, benar yang di katakan Hana, seharusnya ia percaya kepada suaminya bukan berburuk sangka seperti ini.
“Maafkan aku,” cicit Allegra. Hana mengangguk sebagai jawaban.
*
__ADS_1
*
Gery sudah melewati hari pertama ujiannya dengan sangat berat.
Bagaimana tidak? Jika ia mengalami muntah dan mual yang sangat parah. Ia tidak menyangka berjauhan dengan Allegra membuat dirinya menjadi tersiksa seperti ini.
“Aku merindukannya,” gumam Gery berjalan menuju parkiran kampusnya, namun langkahnya di hadang oleh mantan kekasihnya, Kara.
“Ada apa?” tanya Gery dengan datar.
“Aku sibuk!” jawab Gery dengan datar, lalu berjalan melewati Kara begitu saja.
“Gery! Aku menyesal, aku ingin kita kembali lagi seperti dulu!” teriak Kara sambil menatap punggung Gery yang kini menghentikan langkahnya. Kara tersenyum senang, ia yakin jika Gery tidak akan bisa menolak pesonanya.
Gery memutar tubuhnya, lalu mengangkat tangan kanannya menunjuk jari manisnya yang tersemat cincin pernikahan. “Kamu lupa jika aku sudah menikah!” jawab Gery tersenyum sinis, lalu melanjutkan langkahnya lagi tanpa memedulikan kekesalan Kara.
Kara mengentakkan kedua kakinya dengan kesal, namun seingatnya pernikahan Gery tidak harmonis. Ia masih punya kesempatan untuk merebut Gery kembali.
__ADS_1
Ya, Kara belum mengetahui perceraian Gery dengan Hana. Jadi ia berpikir jika istri Gery saat ini adalah Hana.
Gery bernafas lega karena berhasil menghindari mantan kekasihnya.
Jangan sampai imannya yang setipis helaian rambut itu goyah karena melihat keseksian Kara yang luar biasa.
“Huh!” Gery menghembuskan nafas kasar, mengambil minyak telon yang tersimpan di dalam tasnya. Ia menghirup aroma khas bayi itu untuk meredakan rasa mualnya.
“Aku harus segera menyelesaikan ujianku. Agar aku bisa kembali ke Milan. Aku sudah sangat merindukannya,” ucap Gery sembari menyalakan mesin mobilnya, melajukannya dengan perlahan dan hati-hati karena saat ini dirinya masih merasakan pusing dan mual. Sesekali ia menghentikan menepikan mobilnya jika merasa tidak kuat menahan mual.
“Huekkk.” Gery memuntahkan isi perutnya di tepi jalan.
“Astaga, kamu masih sebesar biji kacang hijau sudah menyiksa ayahmu. Awas saja jika kamu lahir nanti, aku akan menggigit pipimu sampai merah.” Gery merasa gemas sendiri, namun ia juga menikmati kehamilan simpatik yang sedang ia rasakan saat ini. Lebih baik dirinya yang menderita dari pada istrinya.
Kamu manis sekali Gery. Emak author jadi terharu, wk wk wk.
Jangan lupa like, komentar, vote dan saweran kembangnya, terima kasih. ❤
__ADS_1