Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Rindu


__ADS_3

“Apakah kamu merindukan aku?” tanya Dante, menatap wajah cantik Hana yang terpampang di layar ponselnya.


Dante bersandar di headboard tempat tidur sembari memegangi ponselnya. Wajahnya berseri-seri dan jantungnya berdebar tidak karuan kala bisa melihat wajah sang kekasih yang sudah sangat ia rindukan.


Sedangkan di seberang sana, Hana tersenyum manis sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kirinya. Wajahnya tersipu malu. Ia pun merasakan hal yang sama seperti Dante.


“Iya, aku sangat merindukan Daddy,” jawab Hana, diiringi dengan senyuman tipis.


“Kenapa kita sama ya? Apakah itu bertanda jika kita satu hati? Emh, maksudku, kita berjodoh,” ucap Dante.


Ah, dia gemas sekali melihat pipi Hana yang tersipu malu. Ingin rasanya menggigit pipi yang merona itu.


“Iya,” jawab Hana. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Sudah terlalu baper. Wk wk wk.


Dante memandang wajah Hana yang dengan penuh damba. Rasanya ia ingin membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


Menahan rindu itu berat.


“Beri aku satu kecupan,” pinta Dante.


“Aku malu.” Hana menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, karena tangan yang satunya lagi memegangi ponsel.


“Kenapa harus malu? Cepatlah,” ucap Dante lagi.

__ADS_1


Kenapa dia menjadi narsis sekali sih? Batin Hana.


“Baiklah, baiklah,” jawab Hana, lalu memonyongkan bibir sedikit arah kamera.


“Muacchh.” Satu kecupan virtual sudah di berikan oleh Hana kepada Dante.


“Terima kasih, Sweetie. Aku akan tidur nyenyak malam ini,” ucap Dante, sembari mengelus layar ponselnya.


“Sama-sama, Daddy,” jawab Hana, melambaikan tangannya ke arah kamera.


“Good Night, Sweetie. Have a nice dream,” ucap Dante, membalas lambaian tangan Hana.


TUTT!


Begitu pula Dante, di seberang sana melakukan hal yang sama.


*


*


*


Hari sudah berganti dengan cepat.

__ADS_1


Gery saat ini sedang berada di sebuah restoran, duduk berhadapan dengan mantan mertuanya.


“Apa yang ingin kamu bicarakan? Kita sudah tidak punya urusan lagi,” ucap Fernan kepada Gery.


“Benar, kita memang tidak mempunyai urusan lagi. Tapi, ini menyangkut kebahagiaan Daddy-ku,” jawab Gery.


“Cih! Apakah kamu di perintah oleh Ayahmu?” tuduh Fernan.


“Tidak sama sekali! Aku ingin menjelaskan satu hal kepada Anda. Jika aku hanyalah anak angkat Daddy Dante. Jadi tidak masalah jika Hana dan Daddy-ku bersatu,” jelas Gery tanpa basa- basi lagi.


“Aku ingin Anda merestui hubungan mereka berdua. Aku melakukan semua ini karena aku ingin melihat Daddy-ku bahagia dan aku ingin dia membangun rumah tangga dengan wanita yang di cintainya,” lanjut Gery, menatap Fernan penuh harap.


“Maaf, jika kamu mengajakku bertemu hanya untuk membicarakan masalah ini, jawabannya tetap sama! Aku tidak akan merestui mereka! Bagaimana pun juga hubungan mereka tidak wajar!” jawab Fernan seraya beranjak dari duduknya, pergi dari restoran tersebut.


Gery menghela nafas panjang. Fernan terlalu keras kepala dan egois.


“Kata siapa tidak wajar? Sah-sah saja jika mereka bersatu.” Gery bergumam sembari beranjak pergi dari sana.


Saatnya pulang ke rumah, pulang kuliah, Gery langsung mengajak Fernan bertemu di restoran tersebut. Namun hasilnya nihil, Fernan tetap kekeuh pada pendiriannya, tidak memberikan restu untuk Ayahnya.


“Apakah harus memberikan ancaman terlebih dahulu?” batin Gery, namun Ayahnya pasti tidak setuju.


Visual Daddy Dante

__ADS_1



__ADS_2