Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Hukuman untuk Alle


__ADS_3

"Aku siap," ucap Dante sembari membuka kaos polo yang melekat di tubuhnya, memperlihatkan dada bidang dan roti sobek yang sangat menggoda di mata Hana.


"Daddy mau apa?" tanya Hana seraya mengalihkan pandangannya, ia tidak tahan melihat tubuh suaminya yang Hot jeletot seperti itu. Ia harus menahan diri lebih dulu, karena ada hal penting yang harus segera di selesaikan.


"Kita mau membuat bayi 'kan?" tanya Dante sembari menghampiri istrinya, lalu menarik pinggang Hana hingga tidak berjarak sama sekali dengan tubuhnya.


"Tunggu!" Hana memundurkan kepalanya sembari menahan dada bidang Dante, ketika suaminya itu ingin mencium bibirnya.


"Ada apa lagi, Sweetie?" Dante menjadi kesal karena istrinya seolah menghindarinya.


"Maka dari itu, berikan aku waktu untuk menjelaskannya," jawab Hana.


Dante menghela nafas kasar, lalu melepaskan pinggang istrinya dengan kesal. Kemudian segera memakai kaosnya lagi.


"Jangan marah. Aku berjanji akan memenuhi keinginanmu, tapi dengarkan aku dulu," ucap Hana, panik ketika melihat suaminya menatapnya dengan datar.


"Iya, katakan," ucap Dante pada akhirnya. Ia harus meredam gairahnya yang sudah berkobar, hingga membuat kepalanya atas bawah menjadi pusing tidak karuan.


Hana menarik tangan suaminya, untuk duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Hana menggenggam tangan Dante dengan penuh kelembutan, lalu menghembuskan nafas berat sebelum berbicara.


"Alle, hamil," ucap Hana, sembari menatap suaminya.

__ADS_1


"What?!" Dante mengerutkan keningnya, menatap istrinya dengan selidik. "Ulangi!" ucap Dante dengan datar, takut jika salah dengar.


"Gery sudah membuat perut Alle melendung," jawab Hana.


Dante mendesis kesal, karena ia tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan oleh istrinya. "Pakai bahasa indonesia yang benar!"


"Gery sudah menghamili Alle, Dad." Hana berkata dengan jelas, singkat dan padat.


Dante terkesiap ketika mendengarnya. Kemudian, ia mengumpat berulang kali, hingga membuat Hana ketakutan.


"Apakah anak itu sudah bosan hidup!" geram Dante, rahang mengeras dan kedua matanya semakin menajam. Menandakan jika pria bule itu sangat emosi.


"Dad, tenang," ucap Hana, namun Dante yang sudah di kuasai emosi tidak mendengarkan ucapan istrinya. Ia segera keluar dari kamarnya menuju kamar Allegra dengan langkah lebar.


BRAK


Dante mendobrak pintu kamar Allegra yang tertutup rapat.


Allegra yang meringkuk di atas tempat tidur terkejut dan langsung bangkit dari sana.


Aura Dante begitu gelap dan sangat menyeramkan, membuat siapa pun akan ketakutan melihatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Allegra segera berlutut di bawah kaki Dante.


Hana yang berdiri di belakang suaminya lansung menerobos masuk dan membantu Allegra berdiri. "Alle jangan seperti ini," ucap Hana, namun Allegra tidak bergeming.


"Apakah yang di katakan Hana benar jika kamu mengandung benihnya Gery?" tanya Dante sangat dingin dan datar.


Allegra mengangguk sebagai jawaban. Dan menangis lirih di sana.


"Jangan mempersulit dia, Dad!" Hana menatap kesal suaminya.


Dante mendengus lalu keluar dari kamar tersebut.


"DOM!" teriak Dante dengan sangat keras, hingga suaranya menggema di setiap sudut mansion mewah itu.


"Ah, shiit!" Dom yang baru saja akan merebahkan diri di atas tidurnya, segera beranjak dan keluar dari kamar menuju sumber suara Dante yang memanggilnya.


Para pelayan yang sudah akan beristirahat pun keluar dari kamar masing-masing, namun mereka langsung masuk ke dalam kamar lagi dan mengunci pintu dengan rapat ketika melihat Dante berdiri di depan kamar Allegra.


"Ada apa?" Dom datang dengan tergesa menghampiri Dante yang terlihat emosi.


"Kerjakan tugasmu! Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan!" ucap Dante datar.

__ADS_1


Dom menelan ludahnya dengan kasar, lalu berjalan masuk ke dalam kamar Allegra.


"Eh, tidak, tidak. Apa yang akan kamu lalukan kepada Alle, Dom?!" teriak Hana histeris.


__ADS_2