
Jakarta, 11:30 WIB.
Kehamilan Allegra sudah memasuki bulan ke tujuh. Di usia kandungannya itu, Allegra sudah kesulitan untuk bergerak, kedua kakinya juga terlihat bengkak.
"Bi," seru Allegra kepada kepala pelayan.
Selama empat bulan di Jakarta, dirinya juga belajar Bahasa Indonesia. Namun, ia masih belum begitu fasih dan lidahnya masih terasa kaku saat berbicara dengan Bahasa Indonsia.
"Iya, Nyonya," jawab Bibi, dengan langkah tergesa menghampiri Allegra yang duduk di ruang keluarga.
"Bi, sakit," ucap Allegra sembari menunjuk perutnya yang terasa kram dan sangat sakit.
Bibi langsung mendekati Allegra lalu mengelus perut majikannya yang terlihat besar itu. "Apakah sudah waktunya akan melahirkan?" tanya Bibi.
Allegra menggeleng sebagai jawaban. Ia terus mengaduh karena perutnya terasa semakin sangat sakit.
Bibi menjadi panik dan minta salah satu pelayan untuk menghubungi Gery yang masih berada di kantor.
Ya, pria tersebut sudah lulus kuliah dan mendapatkan nilai yang memuaskan, dan saat ini sudah di percayakan lagi untuk memimpin perusahaan Dante.
Gery yang sedang sibuk dengan pekerjaanya kalang kabut saat mendapat kabar jika istrinya akan melahirkan. "Bawa ke rumah sakit terdekat, aku akan segera ke sana," ucap Gery sambil berlari keluar dari ruangannya. Tidak lupa, ia memanggil asistennya terlebih dahulu untuk menggantikan posisinya.
__ADS_1
*
*
Bibi segera menyiapkan segala keperluan persalinan untuk para bayi yang akan lahir.
"Sabar, Nyonya. Seperti ini rasanya jika akan melahirkan," ucap Bibi, sembari memapah Allegra dengan hati-hati menuju halaman rumah.
"Aku tak ingin beranak lagi!" ucap Allegra dengan bahasa yang tidak begitu fasih.
Bibi yang sudah panik dan cemas sampai menggigit lidahnya, menahan tawa saat mendengar ucapan Allegra.
"Iya, lagi pula Nyonya sudah punya tiga bayi sekaligus," jawab Bibir masih berusaha untuk menahan tawa.
"Rasanya aku ingin berjongkok agar bayi-bayiku segera keluar, ini sangat sakit, hiks ... hiks ..." Allegra sudah tidak tahan lagi, ia menangis sekencang-kencangnya seperti bayi yang kehilangan dot-nya,
Suasana di rumah tersebut yang terasa tegang kini mencair saat mendengar celetukan Allegra. Para pelayan yang melihatnya pun menahan tawa.
Allegra dan Bibi sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju rumah sakit terdekat.
Mobil sudah melaju dengan perlahan, membuat Allegra menjadi gemas sendiri.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin melihatku kesakitan?!" omel Allegra kepada Sopir.
"Nyonya tenangkan diri Anda. Jangan marah-marah terus," ucap Bibi sambil mengusap-usap perut Allegra.
"Pak, tambah laju kecepatan mobilnya!" Bibi berkata kepada Sopir pribadi Allegra.
*
*
"Daddy!" teriak Hana kepada suaminya.
"Ada apa, Sweetie?" jawab Dante sedikit berteriak, karena saat ini dirinya berada di dalam kamar mandi.
"Gery baru mengabari jika istrinya akan melahirkan," teriak Hana lagi dengan sangat antusias.
Dante buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya.
"Benarkah? Kenapa cepat sekali? Bukankah usia kandungannya sama denganmu?" tanya Dante mendekati istrinya yang duduk di tepian tempat tidur.
"Iya, ini sering terjadi jika hamil bayi kembar itu akan lahir prematur. Semoga Allegra dan ketiga bayinya selamat semua, amin." Doa Hana untuk menantu dan ketiga cucunya.
__ADS_1
"Amin," jawab Dante. Ia menjadi cemas katika mendengar kata 'prematur'. Kemudian ia segera menghubungi Gery lagi, namun tidak kunjung di angkat.