Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Bayi?


__ADS_3

Dante kini sudah terlihat sangat tampan dan bersinar. Hana menyukai penampilan Dante ketika berada di rumah. Hanya mengenakan celana panjang dan kaos oblong berwarna netral.


“Daddy sudah sangat tampan,” puji Hana diiringi dengan senyuman yang manis.


Dante yang duduk di depan meja rias dengan mudahnya menarik pinggang Hana, hingga duduk di atas pangkuannya.


“Kaki Daddy sedang sakit,” ucap Hana.


“Rasa sakitnya sudah hilang sejak kamu berada di sisiku,” jawab Dante, membuat Hana mengerucut sebal.


“Sejak kapan Daddy pandai membual?” tanya Hana yang kini tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya, karena Dante mengecup pipinya.


“Semenjak aku kenal dengan seorang Janda Muda yang bernama Farhana,” jawab Dante sembari terkekeh pelan.


“Ish!” Hana gemas lalu memukul dada bidang Dante dengan pelan.


Dante tergelak lalu memeluk tubuh Hana yang ada di atas pangkuannya dengan tangan kanannya yang tidak sakit.


Dante menaikkan dagu Hana, lalu melabuhkan ciuman lembut di bibir mungil yang sudah menjadi candunya itu.


Lagi?


Dan Lagi ... Mereka berciuman dengan lembut dan juga menuntut.


Melepaskan segala rasa kerinduan yang tertinggal di dalam dada.

__ADS_1


Suara decapan terdengar keras ketika ciuman mereka semakin memanas. Kedua tangan Hana mengalung indah di leher kokoh Dante, untuk memperdalam ciuman tersebut.


Kedua mata mereka saling terpejam menikmati tautan bibir mereka yang seolah tidak ingin terlepas.


“Ah ...” Hana melenguh disela ciuman tersebut ketika tangan Dante menyusup masuk ke dalam kaosnya.


Membelai perutnya yang rata, lalu tangan nakal itu merambat naik menyetu dua gunung kembar milik Hana yang terbungkus kaca mata busa.


“Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku ingin kita menikah besok, kamu mau ‘kan?” tanya Dante seraya menyibakkan kaos yang di kenakan Hana sampai sebatas leher.


Hana menggigit bibir bawahnya ketika Dante memainkan bukit kembarnya.


Ah, rasanya sungguh sangat nikmat dan membuat Hana terbuai, bahkan ia sampai tidak mendengarkan pertanyaan Dante, karena ia lebih fokus kepada rasa nikmat yang di berikan oleh Hot Daddy itu.


“Sweetie, kenapa diam?”


Dante tersenyum simpul ketika mendengar jawaban Hana, kemudian ia beraksi lebih ganas lagi, dan berhasil membuat Hana memekik dan mendesah.


*


*


*


“Dom, apakah kamu melihat Hana?” tanya Gery kepada pria tanpa ekspresi itu yang sedang duduk di ruang tengah sembari menekuri layar MacBook-nya.

__ADS_1


Dominic menatap ke arah anak tangga, dan tidak perlu menjawab panjang lebar karena Gery sudah memahaminya.


“Apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini? Maksudku mereka sedang apa di dalam kamar,” tanya Gery, penasaran.


“Membuat adik untukmu, mungkin.” Jawaban Dom membuat Gery kesal bukan kepalang. Bukan karena cemburu, namun dirinya tidak rela jika mempunyai adik di usianya yang sudah dewasa.


“Kau membuatku kesal, Dom!” geram Gery.


Dom menutup MacBook-nya dengan kasar sembari menatap sebal pria yang lebih tua dua tahun darinya itu.


Gery sudah mengganggunya dan membuatnya tidak berselera untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak mengintipnya saja!” balas Dom dengan geram.


Keributan itu terhenti ketika mendengar suara Dante dari arah tangga.


“Apa yang kalian ributkan?!” tanya Dante dengan nada datar, sembari menggandeng tangan Hana dengan mesra.


“Sedang membicarakan bayi,” jawab Dom datar, dan kedua tatapan yang tajam dan datar juga.


“Hei!” protes Gery kepada Dom tanpa suara.


“Bayi?” Dante dan Hana saling pandang, kemudian mereka saling melemparkan senyuman.


***

__ADS_1


Like, komentar, Vote, dan kasih ulasan bintang lima. Terima kasih.❤


__ADS_2