
Sudah dua minggu lamanya Dante dan Hana menjalin hubungan jarak jauh. Namun sudah dua minggu juga Dante belum memberikan kabar kepada Hana. Bahkan pesan dan teleponnya pun tidak pernah di balas atau pun din angkat.
Hana menjadi overthingking.
"Se-sibuk itukah dia? Sehingga lupa memberikan kabar untukku?" Hana membolak-balikkan ponselnya, jenuh.
Seandainya Italia adalah Negara yang dekat, mungkin dirinya sudah berangkat ke sana untuk menemui Dante. Tapi, sayang sekali Negara itu sangat jauh. Bahkan di tempuh melalui jalur udara membutuhkan waktu belasan jam.
Rindu?
Tentu saja Hana sangat merindukan sang pangeran hati, si Hot Duda yang sudah mengambil hatinya sepenuhnya.
Tok ... Tok ...
Pintu kamar Hana di ketuk dari luar. Hana yang sedang tengkurap di atas tempat tidur, langsung beranjak untuk membuka pintu tersebut.
"Mama," ucap Hana ketika ia sudah membuka pintu kamar, dan ternyata yang di balik pintu tersebut adalah ibunya.
"Boleh Mama masuk?" tanya Kartika kepada putrinya.
Hana mengangguk sebagai jawaban, lalu mempersilahkan masuk ibunya ke dalam kamarnya, setelah itu ia menutup pintu kamar tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hana, menatap Ibunya yang duduk di tepian tempat tidur.
Hubungan Hana dan kedua orang tuanya sedikit renggang setelah Hana mengetahui semua yang sudah terjadi kepadanya. Ada rasa asing dan canggung, ketika dirinya satu ruangan dengan ibunya atau ayahnya.
"Kenapa beberapa hari ini kamu sering mengurung diri di dalam kamar?" tanya Kartika, mengayunkan salah satu tangannya, bertanda jika Hana harus mendekat.
"Aku sedang tidak berselera keluar kamar," jawab Hana berjalan mendekat ke arah ibunya.
"Apakah kamu masih marah dengan Mama dan Papa?" tanya Kartika.
Jujur dari hatinya yang paling dalam, Kartika merasa bersalah kepada putrinya.
"Tidak," jawab Hana, walaupun hatinya masih terasa sakit ketika mengingat semua kejadian yang sudah menimpa dirinya. Memaafkan bukan berarti melupakan.
"Lalu kabar Mr. Dante bagaimana? Apakah kalian masih menjalin hubungan?" tanya Kartika lagi.
"Daddy Dante, pergi meninggalkan aku. Karena Mama dan Papa tidak memberikan restu! Puas?" jawab Hana dengan suara yang kesal tertahan.
"Apakah aku tidak boleh bahagia?" tanya Hana.
"Apakah aku harus menderita sendirian? Malang sekali nasibku!" lanjut Hana menyindir ibunya yang tertunduk.
__ADS_1
"Maafkan Mama dan Papa, Nak. Kami tidak menyetujui hubungan kalian karena hubungan kalian ini sangat bertentangan dengan masyarakat. Hubungan kalian terlarang," jelas Kartika, berusaha untuk memberikan penjelasan kepada putrinya.
"Daddy Dante bukan ayah kandung Gery, Ma. Jadi hubungan kami tidak terlarang," jelas Hana.
"Mama sudah tahu. Tapi tetap saja kamu adalah menantu dan Mr. Dante adalah ayah mertuamu. Mohon mengertilah," ucap Kartika lagi.
Hana terdiam. Kenapa serumit ini kisah cintanya? Dan kenapa Dante juga tidak pernah menghubunginya lagi? Apakah pria bule itu sudah melupakannya? Sudah menemukan penggantinya di sana?
Pikiran Hana semakin kalut. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak keras.
"Di luar sana masih banyak pria yang lebih muda, kaya dan tidak kalah tampa dari Mr. Dante," ucap Kartika.
"Apakah kalian ingin menjualku lagi?" tanya Hana yang begitu menohok di hati kartika.
"Bukan seperti itu, Sayang. Maafkan Mama dan Papa, kejadian buruk itu tidak akan terulang kembali," ucap Kartika.
"Siapa yang bisa menjamin?" Hana berkata datar dan dingin.
***
Mau crazy up?
__ADS_1
Satu minggu besok Emak akan crazy up. Jadi jangan lupa berikan dukungan, like, komentar, dan vote. Terima kasih.❤