
Kartika sedang berada di dalam kamar bersama sang suami, bersiap untuk tidur. Namun, ia ngurungkan niatnya ketika ponselnya di atas nakas bergetar pendek menandakan jika ada pesan masuk. Ia mendudukkan diri, lalu mengambil ponselnya tersebut.
Kartika tersenyum bahagia ketika membaca pesan dari putrinya. Dan tidak terasa kedua matanya berkaca-kaca.
"Dia besok akan menikah. Maafkan Mama karena belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Semoga bersamanya, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Dan semoga kamu selalu bahagia," ucap Kartika sembari mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi.
"Kenapa menangis?" tanya Fernan tanpa sengaja melihat istrinya mengusap air mata.
"Putrimu besok akan menikah dengan Mr. Dante," jawab Kartika menatap suaminya yang terlihat datar.
"Dia bukan putriku lagi!" jawab Fernan terdengar sangat dingin.
Seharusnya ini adalah berita menggembirakan, namun justru malah sebaliknya.
"Mau sampai kapan kamu mengeraskan hati dan juga bersikap egois seperti ini? Tidak sadarkah dengan kesalahan yang sudah kamu perbuat kepada Hana?! Ayah macam apa kamu ini?!" Kartika menumpahkan rasa kecewanya kepada suaminya.
"Diam Kartika! Diam!" bentak Fernan. Ia tidak suka kesalahannya di ungkit lagi. Egois memang, tapi itulah Fernan yang selalu mementingkan diri sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah diam, Fernan, tidak akan pernah! Karena kamu, Hana menderita, dan pergi dari rumah ini! Sebagai seorang Ayah, di mana hati nuranimu? Hah?!" bentak Kartika dengan kuat, dan berderai air mata. Dadanya terasa sesak, namun ada sedikit kelegaan karena ia bisa menumpahkan segala lara yang selama ini ia pendam sendiri.
Telinga Fernan terasa panas dan berdengung ketika mendengar ocehan istrinya. Tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras.
"Selama 25 tahun kita membina rumah tangga, kamu tidak pernah berubah sama sekali. Selalu bersikap egois, saat ini bolehkah aku menyerah?" ucap Kartika sembari menepuk dadanya berulang kali.
"Silahkan saja! Kamu adalah orang miskin yang tidak memiliiki apa pun. Jika kamu keluar dari rumah ini sudah di pastikan kamu akan menjadi Gembel!" jawab Fernan dengan tidak berperasaan.
Hati Kartika bertambah sakit. Namun ia segera beranjak dari duduknya. "Tidak masalah bagiku jika harus hidup menjadi gembel! Dari pada harus hidup selamanya bersama monster sepertimu!" balas Kartika dengan sangat dingin, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Berani sekali dia berkata seperti itu!" geram Fernan sembari menatap istrinya yang sudah tidak terlihat lagi.
*
*
Hatinya merasa sangat sedih karena ibunya tidak membalas pesannya, tidak terasa ada buliran air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
Apakah dirinya sudah tidak di anggap anak lagi? Pikir Hana.
Dante memeluk Hana, lalu mengusap punggung Hana berulang kali. Berharap apa yang dia lakukan saat ini bisa menenangkan Hana yang sedang larut dalam kesedihan.
"Jangan bersedih lagi. Ada aku yang akan selalu berada di sampingmu," ucap Dante seraya mengecup pucuk kepala Hana berulang kali.
Tangis Hana langsung pecah. Ia menumpahkan tangisnya di dada bidang Dante.
Kenapa pria yang sedang memeluknya ini seperti malaikat yang sengaja di kirimkan Tuhan untuk dirinya? Menyelamatkan dirinya dari sebuah penderitaan, dan sekarang memberikan ketenangan dan juga kebahagiaan.
"Terima kasih," ucap Hana di sela tangisnya yang terdengar memilukan.
***
Guys, sekarang favorit sudah di ganti menjadi subscribe. Caranya, klik tanda titik (...) yang ada di pojok kanan atas, lalu klik Subscribe, agar tidak ketinggalan karya Emak.
__ADS_1
Dan untuk penilaian ulasan dan bintang lima, bisa klik tanda bintang yang ada di kiri bawah, yang sudah aku lingkari itu.
Terima kasih, jangan lupa Subscribe dan kasih ulasan bintang lima. Love sekebon tomatnya Pak Mamad. Eakkk❤🤣