Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Melepas Rindu


__ADS_3

“Aku sangat khawatir dengan keadaan Daddy. Bagaimana bisa dirinya mengalami kecelakaan?” Hana berbicara pelan seperti gumaman dan masih di dengar oleh Gery.


“Ini semua terjadi karena musibah, Hana,” sahut Gery.


“Iya, kamu benar,” jawab Hana.


Menempuh perjalanan selama belasan jam dan satu kali transit akhirnya mereka sampai di Bandara Internasional di Negara tersebut.


“Tunggu!” Hana menggandeng tangan Gery ketika melihat beberapa pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam berada di lobby Bandara tersebut.


“Ada apa?” tanya Gery ketika merasa jika Hana ketakutan.


“Yang aku tahu Italia adalah sarangnya Mafia. Ehm, aku takut jika di intai, dan nanti kita di culik, lalu tubuh kita di potong-potong,” ucap Hana pelan, tubuhnya merinding dan mual membayangkannya.


“Khayalanmu terlalu jauh Hana!”


“Apa kamu tidak melihat beberapa pria yang berdiri di depan lobby itu? Mereka menatap kita. Oh, Astaga, benar dugaanku jika kita sedang di Intai,” ucap Hana dengan segala pemikirannya sendiri, membuat Gery berdecak kesal.


“Mereka adalah pengawal Daddy yang di tugaskan untuk menjemput kita,” jelas Gery.


“Ah, benarkah? Apakah Daddy adalah orang penting di sini? Kenapa harus di kawal segala? Tidak seperti di Indonesia?” Hana melontarkan banyak pertanyaan yang membuat kepala Gery pusing.


“Tentu saja Daddy adalah orang penting. Karena beliau adalah pengusaha kapal pesiar sukses di Negara ini,” jelas Gery.


“Lalu ken--”


“Diam!” Gery sudah sangat pusing. Mereka kini sudah berhadapan dengan pengawal Dante.


“Selamat datang, Tuan dan Nona,” ucap Ke-empat pengawal itu kompak dengan bahasa Italia.


Hana hanya tersenyum saja, karena ia tidak mengerti dengan bahasa yang mereka ucapkan, namun ia tahu jika mereka sedang menyapa dirinya dan Gery.


“Terima kasih,” jawab Gery.


Hana terbengong ketika dirinya di persilahkan masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Gery menyenggol lengan Hana, agar segera masuk ke dalam mobil.


Hana dan Gery sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke Mansion Dante.


Hana bertanya-tanya di dalam benaknya. Seberapa kaya kekasih Hot Daddy-nya itu? Hana sangat penasaran.


Tidak berselang lama mobil yang di tumpangi Hana dan Gery sudah sampai di halaman Mansion yang sangat megah, seperti istana kerajaan.


Hana dan Gery keluar dari mobil mewah itu. Mereka di sambut oleh beberapa pelayan.


Hana berdecak kagum ketika melihat kemewahan Mansion tersebut.

__ADS_1


“Di mana Daddy?” tanya Hana kepada Gery.


“Ada di Kamarnya,” jawab Gery.


“Aku ingin menemuinya,” ucap Hana tidak sabaran.


Asisten Dante mendekati Hana dan Gery, menyapa dengan ramah.


“Aku Dom,” ucap pria gagah dan tampan yang berdiri di hadapan Hana, memperkenalkan dirinya.


“Anda bisa berbahasa Indonesia?” Hana sangat senang, karena sejak tadi ia hanya mendengar semua orang berbicara bahasa Italia yang tidak ia mengerti.


“Ya, tentu saja, Hana,” jawab Dom.


“Anda juga mengetahui namaku?”


“Karena Dante sangat menyukaimu, maka dari itu aku juga harus mengetahui tentang dirimu,” jawab Dom datar.


“Aku ingin istirahat di kamarku. Ajak dia bertemu dengan Daddy, Dom,” ucap Gery kepada Asisten Ayahnya.


*


*


Hana berjalan menapaki anak tangga, mengikuti pria berwajah tampan dan sangat gagah itu menuju lantai dua di Mansion mewah itu.


Dom mempersilahkan Hana masuk ke dalam kamar tersebut.


“Anda tidak masuk, Tuan Dom?” tanya Hana.


“Tidak!” jawab Dom.


Hana mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia melangkah masuk dan Dom segera menutup pintu kamar itu,


Hana menoleh ke belakang ketika pintu tertutup dari luar. Hana mengedarkan pandangannya di seluruh kamar mewah itu. Kedua matanya terpaku pada sosok pria yang tertidur di atas ranjang mewah dan besar.


“Daddy?” Hana segera berjalan mendekat, menatap pria yang di rindukannya.


“Katanya terluka dan habis kecelakaan? Tapi kenapa tubuhnya terlihat baik-baik saja?” batin Hana sembari menelisik tubuh Dante yang terlihat sehat.


“Akhirnya kamu datang,” ucap Dante sembari membuka kedua matanya, dan berhasil membuat Hana sangat terkejut.


“Astaga! Daddy!” pekik Hana tertahan, sembari memundurkan langkahnya.


“Sweetie,” ucap Dante memandang wajah Hana yang sangat cantik dan sangat ia rindukan.

__ADS_1


“Dad, apa kamu baik-baik saja?” tanya Hana, seraya mendudukkan diri tepian tempat tidur. Menyadari jika Dante sedang tidak baik-baik saja.


“Ya, kecelakaan itu membuat tangan kiriku patah,” jawab Dante, Hana terkejut mendengarnya.


“Tapi tenang saja. Semua sudah membaik, dan akan segera pulih,” lanjut Dante, agar Janda cantik itu tidak mencemaskan keadaannya.


Padahal ada yang lebih parah dari itu. Dante sampai mengalami koma beberapa hari karena kecelakaan mobil yang ia alami.


Hana menggenggam tangan kanan Dante dengan erat. Kedua mata Hana berkaca-kaca. Ia menempelkan telapak tangan itu di pipinya.


Terasa hangat, tangan Dante menyalurkan kehangatan yang merasuk ke dalam relung hatinya dan menghantar sebuah kenyamanan.


“Kenapa tidak memberikanku kabar? Aku sangat mengkhawatirkanmu, Dad,” ucap Hana yang kini sudah terisak.


“Maafkan aku, Sweetie,” jawab Dante dengan perasaan bersalah.


“Maaf saja tidak cukup,” ucap Hana di sela isak tangisnya.


“Hem, mendekatlah. Aku merindukan madu yang ada di bibirmu itu, ucap Dante seraya menarik tangannya yang masih di genggam Hana.


“Lagi sakit masih saja nakal!” Hana pura-pura kesal, kemudian ia menundukkan dirinya, mendekati wajah Dante, lalu melabuhkan ciuman di bibir Dante dengan lembut.


Bibir Dante menyambut, meneguk madu yang ada di bibir Hana. Mereka berciuman dengan penuh kelembutan, menyalurkan segala rasa rindu yang terpendam di dalam dada.


Tautan bibir mereka terlepas ketika Hana sudah kehabisan nafas. Hana dan Dante saling pandang, lalu mereka saling melemparkan senyum.


“Ah, ada yang bangun,” ucap Dante.


“Siapa?” tanya Hana.


Dante tersenyum mesum menatap Hana.


“Jangan mesum, Dad!” Hana merasa gregetan dengan Dante, lalu mencubit gemas hidung mancung Hot Daddy-nya itu.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap Dante menatap Hana dengan tatapan sayu. Lalu ia mendudukkan diri dan bersandar di Headboard tempat tidur, sembari menyangga tangan kirinya yang masih terasa sakit.


“Aku ingin memelukmu, Sweetie.”


Hana naik ke atas tempat tidur yang besar itu. Kemudian ia memeluk Dante dengan erat, dan merebahkan kepalanya di dada bidang yang lebar itu.


***


Sudah puas belum Crazy up-nya. Kalau belum, besok lagi ya bestie. Tak rehat dulu, karena Emak udah setengah Crazy ini🤣🤣


Jangan lupa dukungannya. Like, komentar, Vote dan kasih Gift. Jangan bosan kalau Emak mengingatkan kalian. Karena satu like dan komentar sangat berarti untukku❤❤

__ADS_1


See you, sampai jumpa lagi di sebelah ya. Luv you, all❤❤😗


__ADS_2