Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Masih dengan suara aneh


__ADS_3

Suara desaahan memenuhi kamar bernuansa putih dan sebar mewah. Gery bergerak mendominan di atas tubuh istrinya dengan sangat lembut dan hati-hati.


Allegra yang berada di bawah kungkungan suaminya hanya bisa mendessah dan menikmati hentakan demi hentakan yang di berikan oleh suaminya, terasa enak, dan sangat nikmat. Tidak berselang lama keduanya mengerang bersama bertanda jika sudah pelepasan. Dan selanjutnya, Gery tidak mengizinkan istrinya turun dari ranjang. Ia ingin memuaskan dahaganya sebelum kembali ke Jakarta.


Allegra tidak keberatan dengan keinginan suaminya, yang terpenting suaminya bermain dengan lembut.


*


*


“Dad, apakah Gery dan Allegra tidak makan malam?” tanya Hana saat mereka sudah berada di meja makan.


“Entah apa yang mereka lakukan. Ada suara aneh dari kamar mereka.” Dom yang menjawab sambil mengambil makanannya.


“Suara? Suara apa?” tanya Dante. Kemudian ia dan istrinya saling pandang, cemas jika Dom yang polos menjadi tercemar.


Dom menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban, seolah berkata, “aku tidak tahu.”


“Oh, mungkin mereka sedang berolah raga.” Hana berkata kepada suaminya.


“Iya, benar,” jawab Dante meng-iyakan ucapan istrinya, agar Dom tidak berpikir yang aneh-aneh.


Dom tidak menanggapinya, ia lebih tertarik memakan makan malamnya yang terasa nikmat, karena malam ini Koki memasak makanan khas Indonesia atas permintaan Hana yang tengah ngidam.

__ADS_1


Hana pun segera makan dengan sangat lahap. Dante menepuk pucuk kepala istrinya dengan sangat lembut. Ia bersyukur di awal kehamilan istrinya, Hana tidak mengalami mual dan muntah.


“Ada apa Dad?” tanya Hana, mendongak menatap suaminya, dengan kedua pipi yang menggembung karena penuh dengan makanan.


“Makan yang banyak agar bayi kita sehat,” jawab Dante, tersenyum tipis.


Hana mengangguk sebagai jawaban.


*


*


Selesai makan malam. Hana duduk di temani Kepala pelayan di ruang keluarga sembari menonton televisi.


“Bi, aku ingin buah Stroberi,” ucap Hana kepada Kepala Pelayan yang duduk canggung di sampingnya, pasalnya baru pertama kalinya ia duduk bersebelahan dengan majikannya.


Kepala pelayan tersebut langsung beranjak dari duduknya, lalu membungkukkan sedikit kepalanya.


“Saya akan mengambilkannya, Hana,” ucapnya dengan sopan. Ia mengingat ada sekotak buah Stroberi di dalam kulkas.


“Tidak, aku ingin makan stroberi dari pohonnya langsung,” ucap Hana .


“A-apa?” Kepala pelayan tersebut tergagap sembari melipat bibirnya. Sudah malam hari, lalu dari mana dirinya bisa mendapatkan tanaman stroberi itu.

__ADS_1


“Tidak perlu pusing. Aku akan meminta kepada Dante,” ucap Hana seolah mengerti yang sedang di pikirkan oleh Kepala Pelayan tersebut.


“Baiklah,” jawab Kepala pelayan tersebut bernafas lega.


Hana beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju ruang pribadi suaminya yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.


“Dad, apakah masih sibuk?” tanya Hana berjalan masuk ke dalam ruangan suaminya.


Terlihat Dante dan Dom sedang membicarakan hal yang serius.


“Sweetie, ada apa?” tanya Dante, menatap istrinya berjalan ke arahnya.


“Kita bicarakan nanti lagi,” ucap Dante kepada Dom, lalu mempersilahkan asistennya itu keluar dari ruangannya.


Dom mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.


“Aku ingin buah stroberi tapi makan langsung dari pohonnya,” jawab Hana.


Dante menahan nafas ketika mendengar permintaan istrinya. Padahal ia berharap jika istrinya tidak mengidam hal yang aneh.


Makan stroberi dari pohonnya langsung di malam hari seperti ini adalah hal yang aneh ‘kan?


“Tapi, ini sudah malam,” jawab Dante.

__ADS_1


“Bukan aku yang menginginkannya, tapi anak Daddy!” kesal Hana saat mendengar jawaban suaminya.


__ADS_2