Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Suara dari Ruang Laundry


__ADS_3

Dante mengurai pelukan tersebut, lalu menangkup sebelah sisi wajah Hana yang sembab, kemudian mengusap air mata Hana dengan ibu jarinya.


"Don't Cry," ucap Dante dengan lembut.


Hana mengangguk pelan dengan kedua mata yang berkaca-kaca menatap Dante.


"Simpan air matamu yang sangat berharga ini. Wajahmu terlihat seperti si itik buruk rupa jika sedang menangis," ledek Dante.


Hana menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


"Tapi, Daddy sangat mencintai si itik buruk rupa ini 'kan?" ucap Hana, sembari meninju pelan dada Dante, dan bibirnya mengerucut sebal.


Dante tersenyum lalu mencubit gemas hidung mancung Hana. "Aku tidak mencintamu, tapi sangat sangat sangat mencintaimu," jawab Dante seraya menciumi seluruh permukaan wajah Hana tanda ada yang terlewat sama sekali.


Hana tertawa geli, dan membiarkan Dante berbuat sesukanya. Jambang Dante yang lebat itu menggesek kulit wajah Hana, dan memberikan sensasi geli-geli enak.


"Ayo, aku ajak kamu mengelilingi Kota Milan," ajak Dante seraya menggandeng tangan Hana, keluar dari kamar tersebut.


"Dom! Dominic!" seru Dante kepada Asistennya yang sejak tadi ia panggil tidak ada menyahut.


"Ya!" sahut Dom dari arah dapur, berjalan mendekati Dante dan Hana.


"Antar kami untuk melihat keindahan Kota Milan," ucap Dante, seraya berjalan keluar rumah sembari menggandeng tangan Hana.

__ADS_1


Milan adalah salah satu kota yang terkenal di Italia. Milan terletak di Italia utara, yang merupakan kawasan maju. Ada satu hal yang sangat menonjol dari kota Milan, yaitu dunia olahraga sepak bolanya.


Dom menggaruk kepalanya, baru saja akan mengisi perutnya. Namun, ia harus mengurungkan niatnya. Berjalan mengikuti Boss-nya yang sudah menuju garasi mobil.


Hana membuka mulutnya dengan lebar ketika melihat deretan mobil mewah yang ada di dalam Garasi tersebut.


"Ternyata calon suamiku seorang Billionaire," batin Hana berdecak kagum.


Dom memasuki salah satu mobil mewah, tapi sebelum itu ia membukkan pintu mobil untuk Dante dan Hana.


"Daddy, kenapa pria itu tidak pernah tersenyum?" bisik Hana kepada Dante.


"Ehem!" Dom berdehem pelan seraya melirik ke arah spion tengah, di mana pasangan yang sedang di mabuk cinta itu tengah membicarakannya.


"Dia mempunyai pendengaran yang sangat tajam," bisik Dante.


"Kelelawar? Apa itu?" tanya Dante.


Sedangkan Dom hanya diam dan fokus menyetir mobil, sambil merasakan perutnya yang terasa keroncongan.


Kasihan ya kamu, Dom. 🤣🤣


"Bateman," jawab Hana, membuat Dante tergelak, begitu pula dengan Dom yang menahan senyumannya.

__ADS_1


*


*


Di Mansion Dante, Gery sedang merayu salah satu pelayan yang ada di sana.


"Cantik, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kamu tidak merindukan aku?" tanya Gery sembari menghimpit pelayan tersebut di ke dinding ruang laundry. Di sana tidak ada siapa pun, hanya ada Gery dan pelayan wanita tersebut.


"Gery, jangan seperti ini," jawab pelayan tersebut.


"Kamu menolakku?" Gery mengusap sela paha pelayan tersebut dengan gerakan sensual.


"Emh ..." Wanita tersebut melenguh ketika Gery mencapai titik sensitifnya.


"Gery bisa bahaya jika ada yang melihat kita." Pelayan tersebut menahan tangan Gery yang masuk ke dalam underware-nya.


"Tenang, tidak ada yang melihatnya," jawab Gery lalu segera menyambar bibir wanita tersebut. Ia butuh pelampiasan hasrat, agar persedian di tubuhnya tidak terasa kaku.


Beberapa menit kemudian, hanya terdengar suara ******* dan lenguhan lirih di ruang laundry tersebut.


Apa sih yang mereka lakukan di dalam sana?


Mana author tahu 'kan ruang laundry-nya di kunci dari dalam.🤣🤣🙈

__ADS_1


Bayangin sendiri-sendiri ya 🤣


Jangan lupa berikan vote, like, dan subscribe, terima kasih. Jumpa lagi besok ya. Crazy up lagi😗😗


__ADS_2