
Gery keluar dari ruang laundry dengan perasaan lega dan puas.
Lega karena ia bisa menyalurkan hasratnya dan puas karena servis pelayan tersebut sangat memuaskan. Walau pun hanya seorang pelayan, namun wanita itu sangat cantik dan mempunyai body yang sexy.
Sedangkan pelayan yang masih berada di ruang laundry, mengatur nafasnya yang kembang kepis. Ia merasakan kedua kakinya yang terasa gemetar.
Berpegangan di mesin cuci agar tubuhnya tidak tumbang. Ini sungguh gila. Pemuda itu membuatnya lemas tidak berdaya, dan permainannya lebih hebat dari beberapa tahun yang lalu saat pemuda itu masih berumur 17 tahun.
“Ale, sejak tadi kamu belum selesai?” tanya Kepala pelayan, saat memeriksa pekerjaan pelayan tersebut.
“Maaf, Madam. Saya sedikit tidak enak badan,” jawab Allegra.
“Oh, istirahatlah kalau begitu. Aku akan mengalihkan pekerjaanmu kepada pelayan lain,” ucap Kepala pelayan saat melihat kening Allegra berkeringat dan kaki bergetar.
“Terima kasih.” Pelayan tersebut segera berjalan keluar dari ruangan laundry.
“Kenapa jalannya seperti bebek?” gumam kepala pelayan ketika melihat Allegra berjalan tidak seperti biasanya.
*
*
“Kamu dari mana?” tanya Dante ketika memasuki rumah bersama Haan, melihat Gery berjalan sambil bersiul-siul.
“Aku baru saja mendapatkan Jackpot,” jawab Gery sembari memperlihatkan ponselnya yang masih menyala memperlihatkan sebuah Game yang tidak di mengerti Dante.
__ADS_1
Gery sebenarnya hanya beralasan saja. Ia tidak ingin ayahnya mengetahui kelakuan bejatnya yang ia lakukan kepada salah satu pelayan di rumah besar tersebut.
“Kalian sudah pulang? Cepat sekali.” Gery mengalihkan pembicaraan.
“Ya, besok kami akan menikah, jadi harus segera istirahat,” jawab Dante.
“Oke,” jawab Gery segera berlalu menuju kamarnya.
“Kenapa dia sangat aneh?” tanya Hana.
“Aneh bagaimana?” tanya Dante.
“Apakah Daddy tidak memperhatikan jika dia terlihat seperti habis lari maraton?” jawab Hana.
Iya, Dad, habis olah raga. Olah raga anu maksudnya. 🤣🤣
*
*
“Emh ... Daddy.” Hana melenguh ketika Dante menyambar bibirnya dengan sangat rakus ketika baru memasuki kamar.
“Sejak tadi aku ingin sekali memakan bibirmu ini,” ucap Dante saat melepaskan ciumannya, lalu mencaplok bibir Hana lagi dengan menuntut.
Hana mendorong dada bidang Dante agar ciuman tersebut terlepas.
__ADS_1
“Kenapa kamu melepaskan ciuman kita?” protes Dante.
“Sabar Dad, kita besok sudah Sah, jadi Daddy bisa bebas melakukan apa saja. Untuk sekarang tunda dulu keinginan Daddy yang ingin menciumku,” jawab Hana.
“Jika di Indonesia, calon pengantin harus di pingit dulu,” ucap Hana lagi.
“Apa itu di pingit?” Dante tidak mengerti.
“Di pingit itu kita tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan tiba,” jawab Hana.
“Ck! Apakah aku harus mengikuti tradisi di Indonesia?”
“Iya,” jawab Hana diiringi dengan anggukan kepala.
“Sweetie. Ayolah. Kita ‘kan sedang berada di Italia. Lupakan tradisi itu,” pinta Dante.
“Tidak! Tradisi tetap tradisi, tidak boleh di bantah. Lagi pula untuk malam ini saja, Dad. Besok kita sudah sah menjadi suami-istri,” jawab Hana berusaha untuk memberikan calon suaminya yang sudah kebelet itu.
“Bailah, aku akan tidur di kamar sebelah,” ucap Dante mengalah.
***
Sudah siap kondangan belum??
Yuk siap-siap, nanti bakalan ada Jet pribadi Daddy Dante yang akan menjemput kalian. Jangan lupa bawa kado berupa kopi satu drum dan bunga sekebun. 🤣🤣
__ADS_1