
Sempione Park atau Parco Sempione adalah sebuah taman kota terbesar di Milan, Italia. Didirikan pada tahun 1888, memiliki luas keseluruhan 38,6 hektar, dan terletak di pusat bersejarah kota, di dalam divisi administrasi Zona 1. Taman ini bersebelahan dengan taman Kastil Sforza dan Arch of Peace, dua landmark utama Milan. Taman tersebut menjadi tempat favorite di musim panas.
“Udaranya sangat sejuk,” ucap Hana sembari menghirup udara segar lalu menghembuskannya secara perlahan.
Hana dan Dante bergandengan tangan, menuju hamparan rerumput hijau di yang terbentang luas di hadapannya. Di sana banyak keluarga atau pasangan muda-mudi yang sedang piknik menikmati musim panas yang sebentar lagi akan berakhir. Ada banyak pepohonan dan juga danau buatan, membuat suasana di sana terasa sejuk dan asri.
“Hati-hati menendangnya,” seru seorang wanita kepada putranya yang baru berusia sekitar 6 tahun. Dan tanpa sengaja pria kecil itu menendang bolanya ke arah Hana, lalu dengan cepat Dante menangkapnya, karena tendangan bola tersebut lumayan kencang.
“Huh, hampir saja,” ucap Dante, lalu menatap pria kecil yang lucu bersembunyi di belakang ibunya.
Dante tersenyum lalu menghampirinya.
“Carlos, minta maaf,” ucap Sang ibu memarahi putranya.
“Maaf,” ucap Carlos dengan nada lirih, dan sedikit menyembulkan kepalanya menatap takut pada Dante.
“Tidak apa-apa, lain kali hati-hati. Ini bolamu,” ucap Dante, menyerahkan bolanya, pria kecil itu mengambilnya sambil mengulas senyum.
“Maafkan putraku, Tuan,” ucap Ibunya Carlos.
__ADS_1
“Tidak masalah,” jawab Dante lalu beranjak menuju istrinya yang menunggunya tidak jauh dari sana.
Hana melambaikan tangan kanannya ke arah Carlos yang menatapnya sambil mendekap bola di dada.
“Dia pria kecil yang lucu. Mata birunya sama seperti Daddy,” ucap Hana, menggandeng tangan suaminya lagi.
Dante tersenyum menanggapinya. Kemudian mereka berdua duduk di rerumputan hijau itu, menikmati keindahan sore hari di bawah langit Milan yang cerah.
“Sorry.” Tangan mungil memberikan satu buah coklat kepada Hana.
Hana terkejut lalu tersenyum senang, begitu pula dengan Dante. Ternyata yang memberikan coklat adalah Carlos, sebagai permintaan maafnya.
“Terima kasih,” ucap Hana menerima coklat tersebut.
Ibunya Carlos melambaikan tangannya kepada Hana. Hana membalasnya dengan senyuman.
“Orang di sini sangat ramah. Aku suka,” ucap Hana, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
“Kamu betah berada di sini?” tanya Dante, di angguki Hana sebagai jawaban.
__ADS_1
“Kalau begitu, apakah kamu mau menetap di sini? Bersamaku dan anak-anak kita nanti?” tanya Dante lagi.
Hana menegakkan kepalanya, menatap suaminya dengan dalam. “Tentu saja mau,” jawab Hana, melebarkan senyumanya.
Dante langsung menarik tengkuk Hana, ingin mencium bibir istrinya namun Hana menahannya.
“Malu. Di sini banyak orang,” ucap Hana, menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitarnya.
Dante tidak mendengarkan Hana, ia melanjutkan aksinya, melabuhkan ciuman di bibir istrinya, dan menyesap atas bawah bergantian.
“Di sini tidak seperti warga +62 yang suka kepo dan julid,” ucap Dante ketika melepaskan ciuman tersebut.
Hana tertawa terbahak-bahak. “Daddy tahu bahasa gaul itu?” tanya Hana masih menyisakan tawanya.
“Aku membacanya di internet.”
“Hem, suamiku sudah menjadi alay.” Hana memeluk lengan kekar Dante.
“Alay itu apa?” tanya Dante.
__ADS_1
“Bukan apa-apa,” jawab Hana, menahan tawa.
“Aku akan mencari tahu di internet.” Dante mengeluarkan ponselnya.