
Tiga Bulan kemudian ...
Dante beberapa hari ini tidak bisa tidur karena usia kandungan istrinya sudah memasuki genap sembilan bulan. Seperti malam ini dirinya tidak bisa tidur, karena takut jika istrinya mengalami kontraksi, ia ingin menjadi suami yang siaga untuk istrinya. Dante memandang istrinya yang terlelap di sampingnya. Wajah yang begitu cantik terlihat sangat damai di dalam tidurnya. Dante membelai pipi mulus Hana dengan penuh kelembutan, lalu beralih menyentuh perut istrinya yang buncit. Pergerakan sang buah hati dapat di rasakan oleh Dante. Ia tersenyum, setiap menyentuh perut Hana, sang bayi pasti memberikan resposn.
“Kamu tidak tidur?” bisik Dante di dekat perut istrinya. Seolah sedang berbicara dengan bayinya. Bibir Dante melengkung ke atas, saat mendapatkan respon lagi dari bayinya, berupa tendangan kecil dari dalam perut Hana.
“Tidurlah, jangan membuat Mommy terbangun,” bisik Dante lagi lalu mengusap perut Hana dengan penuh kelembutan, tidak lupa mengecup perut buncit itu berulang kali, seolah melimpahkan kasih sayangnya untuk anak dan istrinya.
“Dad ...” Hana mengerjapkan kedua matanya, dan menatap suaminya yang sedang menciumi perutnya.
“Ya, Sweetie, aku membangunkanmu?” tanya Dante, kini merebahkan dirinya di samping Hana.
“Tidak. Kenapa belum tidur?” tanya Hana, memeluk perut suaminya.
“Ini baru mau tidur,” jawab Dante, membalas pelukan istrinya.
“Ya, tidurlah. Ini sudah lewat tengah malam. Jangan begadang terus.” Hana berbicara sambil memejamkan kedua matanya.
Baru saja akan memejamkan kedua mata. Dante terjaga kembali saat merasakan pergerakan dari Hana. “Ada apa?” tanya Dante.
__ADS_1
“Aku ingin ke kamar mandi,” jawab Hana.
Sebagai suami yang siaga, Dante langsung membantu istrinya turun dari tempat tidur, memapah istrinya menuju kamar mandi.
“Aku bisa sendiri,” ucap Hana ketika Dante akan menurunkan underware-nya.
“Jangan sungkan. Aku ini suamimu.” Dante tidak menerima penolakan. Hana hanya bisa pasrah dan menerima bantuan dari suaminya. Ia merasa bersyukur dan sangat beruntung karena mempunyai suami seperti Dante yang sangat perhatian kepadanya.
“Dad, aku ingin pipis lagi,” ucap Hana saat akan keluar dari kamar mandi.
“Lagi?”
Dante kembali membantu istrinya dengan sangat telaten dan penuh kesabaran.
“Dad, sepertinya aku akan melahirkan,” ucap Hana, saat merasakan sedikit mulas di perutnya.
“Sweetie, apa yang kamu rasakan?” tanya Dante, berjongkok di hadapan Hana yang duduk di closet.
“Sedikit mulas,” jawab Hana.
__ADS_1
Wajah Dante langsung panik, ia beranjak dan ingin segera membawa istrinya ke rumah sakit, namun Hana menahannya.
“Kata Mama proses pembukaannya akan lama, jadi tidak perlu tergesa,” ucap Hana, sambil mengulas senyum.
“Pembukaan apa?” Dante tidak mengerti dengan bahasa warga Indonesia. Kemudian Hana menjelaskan dengan detail kepada suaminya, akhirnya Dante paham, tapi tetap saja yang namanya suami melihat istrinya kesakitan pasti akan menjadi panik dan tidak tenang.
“Aku akan membangunkan Mama,” ucap Dante, dan di angguki oleh Hana, bertanda setuju. Tapi, sebelum itu dirinya membantu istrinya kembali ke tempat tidur.
Dante keluar dari kamar, berjalan menuju lantai bawah untuk membangunkan ibu mertuanya.
“Ada apa Dante?” tanya Kartika saat membuka pintu kamar, karena Dante mengetuk pintunya beberapa kali.
“Maaf, sudah membangunkan Mama. Hana sepertinya akan melahirkan,” ucap Dante dengan sopan.
“Benarkah?!” Kartika segera menutup pintu kamarnya perlahan, dan mengikuti Dante menuju lantai atas, di mana kamar anak dan menantunya berada.
***
Jangan lupa like, vote, komentar, dan gift-nya.
__ADS_1
Mampir juga ke karya baru aku berjudul Boy For Rent