Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Pendarahan


__ADS_3

Hana sudah selesai di tangani oleh Dokter. Janin yang di kandungnya masih bisa di selamatkan. Hana juga sudah di pindahkan di ruang rawat untuk sementara waktu.


Saat ini Dokter yang menangani Hana berbicara serius dengan Dante di ruangannya.


“Istri Anda mengalami pendarahan ringan, beruntung segera mendapatkan pertolongan medis, dan istri Anda harus menjalani bedrest sampai kandungannya kembali kuat,” ucap Dokter.


“Iya, Dokter,” ucap Dante bernafas lega, namun rasa sesal memenuhi dadanya.


“Ya,” jawab Dokter tersenyum dan mengangguk pelan.


*


*


“Mom, syukurlah kamu sudah sadar,” ucap Allegra kepada Hana baru membuka kedua mata.


Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang bernuansa putih dan asing baginya. “Alle, aku di mana? Dan anakku--” Hana memegangi perutnya, ingin mendudukkan diri namun di cegah oleh Allegra.


“Kamu di rumah sakit. Kandunganmu baik-baik saja, jangan banyak bergerak,” ucap Allegra.


Hana bernafas lega, ia mengusap perutnya berulang kali dengan penuh kasih sayang. Bersyukur di dalam hati karena kandungannya baik-baik saja.


Ceklek

__ADS_1


Dante memasuki ruang rawat istrinya. Hana memalingkan wajahnya, enggan menatap suaminya.


Allegra beranjak dari posisinya, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Dante menatap Allegra yang keluar dari ruangan tersebut, menantunya itu tahu kondisi jika dirinya ingin berbicara empat dengan istrinya.


“Sweetie,” panggil Dante, mendudukkan diri di kursi yang ada di dekat tempat tidur pasien.


Hana masih enggan menatap suaminya, bahkan ia tidak merespon panggilan Dante.


“Maafkan aku. Maafkan keegoisanku yang sudah membuatmu seperti ini,” ucap Dante dengan tulus, walau ia menelan kegetiran karena istrinya mengabaikannya.


“Aku ingin sendiri,” ucap Hana, tanpa menatap suaminya.


“Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Biarkan aku di sini menemanimu,” ucap Dante meraih tangan istrinya, namun Hana segera menepisnya.


Hana memejamkan kedua matanya dengan erat, bersamaan dengan air matanya yang mengalir di kedua sudut matanya. Ia tidak membenci suaminya, tapi dia hanya marah kepada Dante yang sudah sangat keterlaluan kepadanya.


“Aku akan tetap berada di sini walau pun kamu menyuruhku pergi,” ucap Dante kepada Hana yang sama sekali tidak meresponsnya.


*


*

__ADS_1


“Bagaimana dengan keadaan Hana?” Dom berlari menghampiri Allegra yang duduk di depan salah satu ruangan.


“Kandungnya masih bisa di selamatkan,” jawab Allegra.


Dom mengucap puji syukur kepada Tuhan dan bernafas lega mendengarnya. Dom melepaskan jas dan juga dasinya, tubuhnya terasa gerah karena berlari karena panik saat mendengar kabar tentang Hana.


“Aku haus,” ucap Dom kepada Allegra.


Allegra menyerahkan sebotol air mineral yang di berikan oleh pihak rumah sakit kepadanya.


“Terima kasih,” ucap Dom lalu segera membuka botol tersebut dan segera meminumnya hingga habis tidak tersisa.


“Calon istriku baik-baik saja,” ucap Dom membuat Allegra mengernyit heran.


“Apakah kamu sudah gila! Meng-klaim bayi yang belum lahir sebagai calon istrimu?!” Allegra menjadi curiga kepada Dom, jangan-jangan pria tersebut mempunyai kelainan?


Hih! Allegra menjadi bergidik ngeri lalu menggeser duduknya, menjauhi Dom.


“Memangnya kenapa? Aku yakin jika anak yang di kandung Hana adalah perempuan,” jawab Dom.


“Kamu sudah tidak waras!” ucap Allegra sambil menggelengkan kepalanya.


Dom acuh menanggapinya.

__ADS_1


***


Satu bab lagi nanti malam ya. Jangan lupa like, komentar dan Vote.


__ADS_2