Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Bagai sebongkah berlian


__ADS_3

"Daddy di sini rupanya." Hana berkata sembari menghampiri suaminya yang sedang bertelanjang dada sembari mengangkat barber.


Dante terlihat berkali-kali lipat sangat tampan jika berolah raga seperti itu. Tubuhnya yang berotot terlihat mengkilat karena keringat yang membasahi tubuh kekarnya itu.


Dante meletakkan barbel ke tempat semula, mengambil handuk kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk mengelap keringatnya.


"Kamu sudah bangun Sweetie. Jangan mendekat, aku berkeringat," cegah Dante ketika Hana ingin memeluknya.


"Peluk sedikit saja," jawab Hana, lalu memeluk tubuh suaminya tanpa memedulikan tubuh suaminya yang lengket karena keringat, justru Dante yang merasa tidak nyaman jika di peluk seperti ini.


Melihat Hana yang nyaman ada di pelukannya, membuat Dante bisa pasrah.


Hana mendengarkan detak jantung Dante yang mengalun begitu indah. Ia memejamkan kedua matanya, menikmati moment seperti ini, terlihat sederhana namun sangat romantis.


Setelah puas, Hana mengurai pelukan tersebut. Mendongak dan menatap sang suami yang juga tengah menunduk menatapnya.


Cup


Dante mengecup bibir semanis madu itu sekilas. "Jangan membuatku khilaf di sini," ucap Dante, lalu mencubit gemas hidung mungil istrinya.


Hana mengerucut sebal sembari mengusap hidungnya. "Daddy kalau di rumah jangan bertelanjang dada seperti ini," rajuk Hana, ia tidak ingin tubuh suaminya yang super seksoi dan kekar itu di lihat para pelayan wanita yang ada di rumah tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, istri kecilku yang posesif," jawab Dante seraya tersenyum, segera memakai bajunya lalu menarik tangan Hana keluar dari ruang Gym itu.


"Kamu belum sarapan? Kemana Allegra, seharusnya dia yang menyiapkan semua kebutuhanmu!" ucap Dante ketika melihat gelengan kepala dari istrinya.


"Aku bisa mengambil sarapan sendiri, Dad. Ini bukan masalah besar," jawab Hana, mencegah suaminya yang sudah ingin marah.


"Tidak bisa! Dia di gaji untuk melayani semua kebutuhanmu!" geram Dante, lalu memerintahkan salah satu pelayan untuk memanggil Allegra.


Hana menghela nafas panjang. Susah berbicara dengan sang penguasa, batin Hana.


Tidak berselang lama Allegra datang ke ruang makan dengan tergesa.


"Maaf, Dante, Hana," ucap Allegra ketika berhadapan dengan pasangan suami istri itu.


"Iya, menjadi Asisten Hana, menyiapkan segala kebutuhannya, dan mengikutinya kemana pun dia berada," jawab Allegra.


"Lalu?"


"Maaf Dante, tadi aku sakit perut." Allegra beralasan.


"Siapkan sarapan untuk istriku!" Dante berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Baik." Allegra segera menuju pantry untuk menyiapkan sarapan untuk istri Boss-nya.


"Sudah aku buatkan! Kamu dari mana saja? Apakah kamu ingin membangunkan singa yang tidur?" Koki memberikan sepiring hidangan makanan khas indonesia kepada Allegra.


"Maafkan aku. Tadi aku sakit perut," ucap Allegra menerima piring tersebut dengan kening berkerut. "Apa ini?" tanya Allegra melihat makanan yang menurutnya sangat asing.


"Itu bubur ayam. Cepat berikan sarapan ini, sebelum harimau putih itu mengamuk," ucap Koki tersebut.


Allegra segera kembali ke meja makan, dan menyajikan makanan yang ia bawa di atas meja dengan sangat hati-hati.


"Terima kasih, Alle," ucap Hana dengan senyuman manis.


"Jangan tersenyum seperti itu jika di hadapan pria lain, kecuali aku," ucap Dante ketika melihat istrnya tersenyum terlihat begitu cantik dan menawan.


Rasanya ia tidak ikhlas jika kecantikan istrinya di lihat oleh siapa pun selain dirinya.


Hana bagaikan sebongkah berlian yang langka. Dan hanya dirinya saja yang boleh melihat dan boleh memilikinya.


Terdengar sangat berlebihan, tapi begitulah Dante jika sudah mencintai seorang wanita.


***

__ADS_1


Aku mau cowok kayak Daddy Dante satu, di bungkus pake karet dua biar nggak ketuker. 🤣🤣


Jangan lupa, like, vote, dan komentarnyaā¤


__ADS_2