Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Garis dua


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dari semenjak Marge datang ke Mansion, dan sejak saat itu lah Hana masih mendiamkan Dante sampai saat ini.


"Dom, apakah kamu tahu caranya merayu wanita?" tanya Dante kepada Dom pada malam hari itu.


Mereka duduk di taman belakang Mansion tersebut, menikmati angin malam sembari menikmati wine bersama.


Dom menjawab dengan gelengan kepala.


Merayu wanita? Berdekatan dengan wanita saja tidak pernah, pikir Dom.


"Ah, percuma bertanya denganmu. Aku lupa kalau kamu tidak menyukai wanita." Dante masih saja mengingatnya, membuat Dom kesal saja.


Dante meminum Wine yang ada di gelasnya dengan sekali tenggakkan. Lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar, ketika mengingat istrinya masih sangat marah kepadanya.


"Jadi, Marge sudah kamu bereskan?" tanya Dante.


"Sudah. Aku mengirimnya kembali ke Indonesia, agar dia tinggal dengan putranya, Gery." Dom menjawab sembari menghela nafas berat.


Mengingat nama Gery, Dom menjadi kesal sangat kesal, karena pria itu telah mempermainkan hati Allegra.

__ADS_1


Dante beranjak dari duduknya. Sudah saatnya masuk ke dalam rumah, setelah menghangatkan badan dengan meminum sedikit wine. Sudah satu minggu juga, dirinya tidak mendapatkan jatah dari istrinya.


Malang sekali dengan nasibmu, Dad.


*


*


*


"Alle, katakan dengan jujur kepadaku siapa yang melakukannya?!" tanya Hana dengan nada yang keras, sembari menatap tajam Allegra yang terduduk lemas di tepian tempat tidur. Lalu tatapannya beralih pada benda pipih yang ada di tangannya.


Allegra menggeleng sebagai jawaban. Wajahnya memerah, dan air matanya terus membahasi pipinya.


Sudah beberapa hari ini Allegra telat datang bulan, dan ia curiga jika nafsu makannya meningkat karena ada makhluk kecil yang tumbuh di perutnya.


Dengan memberanikan diri, ia membeli alat tes kehamilan, lalu menggunakannya. Ia syok dan sangat terkejut ketika melihat garis dua tercetak jelas di benda pipih itu.


"Hana, aku mohon jaga rahasia ini," pinta Allegra sembari mengatupkan kedua tangan di dada.

__ADS_1


"Kamu mau menutupinya? Sampai kapan? Kamu tidak akan pernah bisa menutupinya, Alle. Karena bertambahnya hari, perutmu akan semakin membesar," jawab Hana.


"Sekarang katakan, siapa pria itu?" tanya Hana lagi kali ini dengan nada yang lembut, mendekati Alle lalu memeluk wanita tersebut.


Allegra tetap menggeleng sebagai jawaban. Ia tetap mengunci bibirnya dengan rapat.


"Kamu tetap tidak ingin mengatakannya? Kamu ingin menanggung semua ini sendiri?" tanya Hana sambil menghela nafas panjang.


*


*


Jika di Italia malam hari, maka di Jakarta sudah memasuki waktu subuh. Ya, waktu di Jakarta lebih cepat 6 jam dari Italia.


"Hoekk!" Gery berlari menuju kamar mandi ketika dirinya merasakan perutnya bergejolak. Sudah seminggu lebih dirinya seperti ini. Padahal dirinya sudah periksa ke dokter, namun kata dokter kondisi tubuhnya baik-baik saja.


"Arggh!!" Gery memejamkan mata erat, sembari meringis jijik ketika yang keluar dari mulutnya cairan kuning yang terasa sangat pahit bercampur masam.


Kemudian Gery membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel. Ia menatap wajahnya di pantulan cermin yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan tirus karena selama satu minggu ini dirinya sulit untuk menelan makanan.

__ADS_1


Dalam benaknya berpikir, apakah dirinya terkena penyakit yang parah atau mematikan? Atau kah dokter yang memeriksanya beberapa hari yang lalu salah mendiagnosanya?


__ADS_2