
Di Jakarta.
Seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi namun masih terlihat cantik, sedang berkutat di dapur bersama beberapa karyawannya.
"Ini adonan kuenya. Nah, harus kalis seperti ini biar nanti hasil kuenya bagus dan mengembang sempurna," ucapnya begitu telaten mengajari karyawan barunya.
"Bu Kartika, ada seorang pria yang mencari," ucap seorang kasir wanita yang bertugas menjaga untuk menjaga toko.
"Siapa, Mbak?" tanya Kartika, segera mencuci tangannya sampai bersih.
"Tidak tahu, beliau tidak menyebutkan namanya," jawabnya, segera kembali ke Toko karena banyak pembeli hari ini.
Ruko tersebut terdiri dari tiga lantai. Lantai satu untuk toko kue, lantai dua untuk dapur pembuatan kue, sedangkan lantai tiga untuk tempat tinggal Kartika selama ini. Walau pun jauh dari kata mewah namun ia sangat bersyukur karena masih mempunyai tempat untuk berteduh di tengah ibu kota yang kejam itu.
Setelah di rasa tangan sudah bersih. Kartika segera turun dari lantai dua menuju toko untuk menemui orang yang mencarinya.
"Tika," panggil seorang pria yang sangat di kenalinya.
__ADS_1
"Mas Fernan," lirihnya ketika melihat suaminya berada di sana. Bagaimana bisa suaminya menemukan dirinya? Padahal dalam sebulan ini dirinya berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
"Akhirnya aku menemukan kamu," ucap Fernan dengan perasaan lega, dan dari ekspresinya terlihat sangat bahagia.
"Untuk apa menemuiku?" tanya Kartika tanpa basa-basi.
"Tika, maafkan aku. Maafkan segala perbuatanku selama ini," ucap Fernan penuh sesal.
"Aku sudah bosan mendengar kata maaf dari kamu. Aku sudah muak! Lebih baik, kamu kembali dan jangan pernah temui aku lagi!" tegas Kartika segera beranjak dari sana, namun keburu di tahan oleh Fernan.
"Surat cerai darimu tidak akan pernah aku tanda tangani. Aku sudah membuangnya," ucap Fernan sembari mencekal tangan wanita yang masih menjadi istrinya.
Kali ini Kartika tidak ingin terkecoh dengan permohonan suaminya. Luka yang di torehkan di dalam dadanya suda sangat dalam dan sulit untuk di sembuhkan.
"Lebih baik kamu pulang. Perbaiki diri dan introfeksi diri kamu, Mas. Jujur aku sudah lelah hidup bersamamu. Hidup dalam sebuah penderitaan yang tidak berujung. Bahkan putrimu sendiri saja kamu sakiti," ucap Kartika dengan kedua mata yang berkaca-kaca, lalu melepaskan cekalan tengan Fernan dengan pelan.
Fernan diam tidak menjawab. Di dalam hatinya ada sebuah sesal yang sangat luar biasa. Ia sadar tanpa istri dan anaknya, dirinya bagai orang yang kehilangan arah dan tujuan.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu. Kartika segera meninggalkan Fernan yang masih terdiam. Ia berjalan menuju lantai atas, masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Bagaikan menelan pil pahit, Fernan segera beranjak dari sana, namun sebelum itu dirinya memborong semua kue yang ada di toko istrinya.
"Jadi Bapak ini adalah suami Bu Kartika?" tanya Kasir wanita yang sedang menyiapkan semua kue yang di beli oleh Fernan.
"Iya, kalau boleh tahu kapan toko kue ini berdiri?" tanya Fernan.
"Sudah lama, Pak. Mungkin sekitar lima tahunan," jawab Kasir tersebut dan Fernan mengangguk paham.
"Apakah aku boleh minta tolong kepadamu?" tanya Fernan.
"Minta tolong apa?"
"Tolong jangan sampai Kartika tahu jika aku yang memborong semua kue ini," jawab Fernan, karena ia tahu jika istrinya itu tidak akan menerima uang darinya lagi.
Tanpa banyak tanya wanita tersebut mengagguk, paham.
__ADS_1
***
Dukungannya jangan lupa bestie❤