
Warning!!!
“Ah, Daddy,” desaah Hana, ketika ciuman Dante turun ke lehernya.
Salah satu tangan Dante melepas satu persatu kancing kemeja yang di kenakan oleh Hana.
Kemeja yang di kenakan Hana telah teronggok di atas lantai. Tersisa kaca mata busa berwarna hitam yang menutupi dua bukit kembar yang terlihat bulat, kenyal, putih dan mulus itu.
Kedua mata Dante menatap kagum tubuh Hana yang sempurna.
Kedua mata terpejam erat, seolah dirinya pasrah dan membiarkan Dante menggagahi tubuhnya.
“Ah ...” Hana mendessah ketika Dante memegang dan sedikit meremass dua bukit kembarnya bergantian.
“Daddy, lakukan. Please,” pinta Hana, ia tidak tahan lagi. Gejolah gairah sudah menguasainya, bagian bawahnya sudah berkedut, terasa basah karena rangsangan yang di berikan oleh Dante.
Dante tidak menjawab ucapan Hana. Ia fokus pada bukit kembar yang terasa kenyal. Tidak tahan lagi. Ia melepas dan melempar kaca mata busa yang menghalangi tangannya.
“Ugh!” Hana memekik dan membusungkan dada ketika Dante menyesap pucuknya bergantian.
Rasanya geli, enak dan sangat nikmat. Sebuah rasa yang tidak mampu di jelaskan dengan kata-kata. Sebuah rasa yang berhasil membuat Hana terbang melayang sampai langit ke tujuh.
Begitu pula dengan Dante, sisi liarnya sudah memberontak di bawah sana. Gairahnya sudah memuncak di ubun-ubun. Ia sudah tidak tahan lagi.
__ADS_1
“Daddy, please,” rengek Hana.
Dante menatap wajah Hana yang terlihat memerah karena menahan sebuah gairah.
“Kamu yakin?” tanya Dante sembari mengelus sebelah sisi wajah sang kekasih.
Hana mengangguk sebagai jawaban. Lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dante, dan menarik tengkuk pria itu kemudian melumatt bibir Dante dengan sangat menuntut.
Dante yang awalnya terkejut kini membalas ciuman Hana tidak kalah menuntut.
Salah satu tangannya menyentuh perut Hana yang rata, putih dan mulus itu dengan gerakan lembut. Dan gerakan tangan Dante semakin turun lagi menyusup masuk ke dalam celana Jeans yang di kenakan oleh Hana. Ia mencari sesuatu di dalam sana.
Ah, Dapat!
Dante menyentuh lembah yang sudah terasa lembah dan basah. Membuat gairah Dante tidak terbendung lagi.
“Sayang,” ucap Dante dengan seraknya. Manik birunya menatap Hana dengan sayu.
“Ya?” tanya Hana.
“Aku tidak bisa,” jawab Dante. Lalu menarik diri dari atas tubuh Hana. Menggulingkan tubuhnya ke samping kiri Hana.
Di saat gairahnya yang mulai meracuni pikirannya. Masih ada akal sehat yang membuat dirinya tersadar. Jika belum saatnya ia melakukannya.
__ADS_1
“Dad?”
“Sorry. Kita sudah melewati batas. Maafkan aku Sweetie,” ucap Dante seraya memejamkan kedua mata, berusaha untuk meredam api gairah yang masih berkobar di dalam tubuhnya.
“Tidak masalah, Daddy,” jawab Hana memiringkan tubuhnya, ingin memeluk Dante, namun pria bule tersebut malah menjauhinya, menuju kamar mandi.
Dengan perasaan kecewa, Hana memunguti pakaiannya dan memakainya lagi.
Menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sudah 15 menit Dante di dalam sana. Hanya terdengar suara gemericik suara air shower berjatuhan.
Apakah pria tersebut sedang mandi? Pikir Hana.
Tidak berselang lama pintu kamar mandi tersebut terbuka. Dante keluar dari dalam kamar mandi dengan kondisi yang segar, dan rambut terlihat basah.
Pria tersebut hanya mengenakan celana panjang saja, tanpa mengenakan kaosnya memperlihatkan deretan roti sobek yang sangat menggoda dan membuat Hana tidak mampu untuk mengalihkan pandangannya.
Hot Daddy yang berjalan ke arahnya.
Pria itu Damage-nya nggak ada obat. Jerit Hana di dalam hati.
“Daddy mandi?” tanya Hana.
“Iya,” jawab Dante seraya mengulas senyum ke arah Hana.
__ADS_1
Mandi air dingin adalah solusi yang tepat untuknya.
Ah, kenapa dia terlihat begitu tampan? Jadi tidak rela melepasnya pergi, batin Hana menjerit.