Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Restu dari Mama


__ADS_3

Hana meneteskan air matanya. Ketika mendengar ucapan ayahnya.


Kenapa?


Kenapa ayahnya begitu kejam kepadanya?


Seolah dirinya tidak diizinkan untuk bahagia?


“Papa bicaranya di jaga!” bentak Kartika,


“Biarkan saja, biar dia tahu dan sadar diri! Dia ini hanyalah anak kecil yang sedang di butakan oleh cinta dari Pria tua itu!” jawab Fernan kepada istrinya.


“Apa sih salahku kepada kalian?” lirih Hana, lalu beranjak dari sana menuju kamarnya.


Setelah Hana tidak terlihat, pertengkaran hebat antara Kartika dan Fernan pun terjadi.


“Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu Fernan! Kenapa kamu begitu kejam kepada anak kamu sendiri, hah!” Kartika sudah tidak bisa membendung rasa sesak yang selama ini di tahannya.


Baru kali ini dirinya melawan suami yang selama ini ia agungkan dan sangat ia hormati. “Berikan restu kepada putri kita!” teriak Kartika hingga bergema di seluruh rumah tersebut.

__ADS_1


“Tidak akan!” jawab Fernan geram. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan sorot matanya kian menajam.


“Kenapa kamu begitu egois, hah? Apakah kamu berpikir bisa menjual putri kita lagi, iya? Pakai otak kamu!” teriak Kartika sembari menunjuk pelipisnya sendiri dengan perasaan emosi.


“Hentikan permainan judi online-mu itu!!!” Kurang sabar apa Kartika selama ini sudah begitu tunduk, bagai kerbau yang dicunguk hidungnya, ia selalu menurut dengan perkataan suaminya, entah itu benar atau salah.


Fernan mengurai genggaman tangannya. Emosinya sudah sedikit mereda.


Ia sadar dengan kesalahannya, namun ia tidak ingin di salahkan.


Sangat egois bukan?


“Tidak, kamu tidak boleh pergi. Jangan tinggalkan Mama.” Kartika memasukkan pakaian Hana ke lemari yang sudah tersusun di dalam koper berukuran sedang.


“Biarkan aku pergi, Ma. Biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri. Rumah ini sudah seperti neraka bagiku, hikss ... hiks ...” Hana menangkup wajahnya, tangisnya meledak seketika.


“Maafkan Mama dan Papa, Sayang.” Kartika memeluk putrinya dengan erat. Pilu dengan kehidupan mereka.


“Jika kamu sudah yakin dengan pilihanmu dan yakin dengan dia, maka pergilah. Mama memberikanmu restu,” ucap Kartika pada akhirnya.

__ADS_1


Mungkin ini saatnya melepaskan Hana dan membiarkan Hana terbebas dari kesengsaraan ini.


“Terima kasih, Ma,” ucap Hana sembari mengurai pelukan tersebut lalu mengecup pipi ibunya sekilas.


“Doa Mama selalu menyertaimu,” ucap Kartika dengan kedua mata yang berkaca-kaca, sembari membelai pucuk kepala putrinya dengan penuh kelembutan.


Hana mengangguk, terharu dengan keputusan ibunya, yang akhirnya memberikannya restu kepadanya.


Kartika akhirnya membantu Hana untuk berkemas. “Kamu ingin menemuinya?” tanya Kartika.


“Iya,” jawab Hana.


“Hana, kamu sudah pernah berumah tangga. Pastinya kamu sudah tahu cobaan di dalam rumah tangga itu begitu berat. Jika suatu saat nanti dia menyakitimu, datanglah ke Mama. Tangan Mama selalu terbuka lebar untukmu,” pesan Kartika kepada Hana—anak semata wayangnya.


Hana menganggukkan kepala, sembari berderai air mata. Lalu menubruk ibunya, memeluknya dengan sangat erat. “Terima kasih, Mama,” ucap Hana dengan suara seraknya, menahan tangis.


“Sudah jangan menangis lagi. Simpan air matamu, Sayang,” ucap Kartika kepada putrinya yang terisak di dalam pelukannya.


Setelah berpamitan kepada Ibunya, dan sudah mengantongi restu ibunya. Hana bertekat keluar dari rumah tersebut menggunakan Taxi menuju apartemen Dante. Ya, dirinya mempunyai akses untuk masuk ke dalam apartemen tersebut. Untuk beberapa hari dirinya akan tinggal di sana, sembari menunggu paspor dan Visa-nya jadi.

__ADS_1


__ADS_2