Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Tidak perlu di buka


__ADS_3

“Sweetie, bantu aku mandi,” ucap Dante kepada Hana yang masih berada di dalam pelukannya.


Hana mendudukkan diri sembari menatap Dante dengan selidik.


“Jangan modus!” ucap Hana.


“Hei, kenapa kamu selalu berbicara dengan bahasa yang tidak aku pahami. Apa itu Modus?” tanya Dante lagi sambil tergelak.


“Itu bahasa gahul anak Jakarta, Dad. Daddy generasi 80’an mana mengerti” jawab Hana seraya beranjak dari atas tempat tidur.


“Kamu mau ke mana? Bantu aku mandi, aku berkata serius, karena sudah dua hari aku tidak mandi,” ucap Dante, mencekal tangan Hana menggunakan tangannya yang tidak sakit.


“Iyuh! Daddy jorok!” Tubuh Hana bergidik, seraya melepaskan cekalan Dante.


“Tapi aku masih tampan ‘kan?” tanya Dante dengan narsisnya.


“Tetap saja jorok! Pantas saja tadi tercium bau asam ketika memeluk Daddy,” gurau Hana.


Padahal tubuh Dante tercium wangi walau tidak mandi dua hari. Hem, apakah ini karena dirinya sudah sangat bucin kepada Dante? Maka dari itu, bau asam pun di katakan wangi?

__ADS_1


“Ya, bau asam tapi membuatmu mabuk kepayang.” Skakmat, Hana diam dan tidak berkata-kata lagi karena yang di katakan Dante adalah benar.


Dante menyibakkan selimut yang menutupi kakinya, lalu turun dari tempat tidur. Kaki kanannya sedikit pincang jika untuk berjalan. Ia butuh pegangan jika ingin berdiri.


Hana dengan sigap membantu Dante untuk berdiri, dan menuntunnya menuju kamar mandi.


“Pelan-pelan,” ucap Hana.


“Kenapa bisa separah ini?” tanya Hana merasa sedih ketika melihat keadaan Dante yang kesulitan berjalan, sembari mengangkat tangan yang sakit kirinya sebatas dada.


“Entahlah. Sudah musibah,” jawab Dante, meringis sakit saat merasakan tangan dan kakinya begitu nyeri.


Hana menuntun Dante agar duduk di Closet kamar mandi.


“Aku rasa yang ini tidak perlu di buka,” ucap Dante, mempertahankan penutup terakhirnya. Jangan sampai Hana tahu jika sisi liarnya saat ini terbangun.


Bisa-bisa kekasihnya itu menjerit ketakutan karena melihat belalai gajah yang super besar.


“Baiklah,” jawab Hana, ia pun tidak ingin memaksa. Karena dirinya sendiri juga merasa malu jika harus melihat sesuatu yang belum waktunya ia lihat.

__ADS_1


Hana mulai memandikan Dante seperti seorang ibu yang sedang memandikan anaknya.


“Sweetie, apakah kamu sudah meminta izin kepada kedua orang tuamu? Apakah mereka sudah memberikan restu?” tanya Dante kepada Hana yang sedang mengeringkan tubuhnya.


Hana menghentikan gerakan tangannya, menghela nafas sejenak. Merasakan sesak di dada jika mengingat kedua orang tuanya.


Melihat Han yang terdiam, membuat Dante mengambil kesimpulan sendiri.


“Jangan bilang kalau kamu kabur dari rumah?” tebak Dante.


Hana menggeleng sebagai jawaban, ia mengusap rambut Dante yang basah dengan penuh kelembutan. Setelah itu mengoleskan pomade ke rambut yang berwarna tembaga itu.


“Lalu?” Dante tidak sabar mendengarkan jawaban dari Hana.


“Aku ke sini karena sudah mendapatkan restu dari Mama, tapi tidak dengan Papa. Mama merestui kita menikah tanpa kehadiran mereka berdua,” jawab Hana dengan suara yang mendadak menjadi lirih, terdengar sangat sedih.


“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memaksamu untuk menikah denganku. Akibatnya, kamu dan kedua orang tuamu terpecah,” ucap Dante dengan rasa bersalah.


“Jangan berkata seperti itu, Dad. Aku pergi dari rumah atas keinginanku sendiri. Aku sudah tidak tahan dengan sikap Papa. Bolehkah saat ini aku juga bersikap egois dan menentukan jalan hidupku sendiri?” ucap Hana kepada Dante yang menatapnya dengan dalam.

__ADS_1


***


Jangan lupa like, komentar dan Vote, juga kasih ulasan bintang lima ya, please 🥺❤


__ADS_2