
Waktu berputar dengan cepat. Tidak terasa malam hari telah menyambut. Allegra terdiam di teras rumah tepatnya duduk di kursi yang ada di sana. Di sebelahnya ada Dom menemani.
"Mungkin seharian ini dia sibuk," ucap Dom yang menjadi pendengar setia curahan hati Allegra.
"Entahlah, aku merasa--"
"Jangan berburuk sangka Alle," potong Dom dengan cepat.
"Kamu tidak mengerti perasaanku, Dom! Kamu tidak pernah merasakan jatuh cinta, jadinya kamu bisa berkata seperti itu!" ketus Allegra.
Sontak saja Dom langsung terdiam. Mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah. Lalu beralih menatap langit-langit teras tersebut, menatap cicak yang sedang bercinta di dekat lampu.
"Dasar cicak sialan!" umpat Dom di dalam hati.
Cicak aja gandengan, masa kamu enggak. 🤣🤣
Kedua orang tersebut saling diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Sudah malam, masuklah," ucap Dom sembari menyugar rambut gondrongnya ke belakang.
"Aku tidak selera memasuki kamar. Aku merindukan dia," rengek Allegra.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tidak berselera?" Dom menoleh ke arah Allegra sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Kamu tidak akan paham jika aku menjelaskannya. Karena kamu belum cukup umur," jawab Allegra.
Dom mendengus kesal menanggapinya. Usianya sudah 21 tahun, tentu saja dia sudah dewasa.
Dasar Alle! kesal Dom di dalam hati.
"Ya sudah, aku masuk lebih dulu," ucap Dom seraya beranjak dari duduknya, namun Allegra tidak mengizinkannya.
"Temani aku sampai mengantuk," ucap Allegra, memasang wajah imut.
"Ck! Jangan memasang wajah menjijikkan seperti itu!" umpat Dom, lalu menghempaskan dirinya di atas kursi lagi.
Bagaimana bisa ada orang yang kaku seperti kayu seperti itu?! Dumel Allegra di dalam hati.
"Kenapa diam? Bicaralah!" ketus Dom, menatap malas Allegra.
Allegra melirik tajam pria yang ada di sebelahnya itu sambil mengusap perutnya beberapa kali. "Jangan sampai anakku seperti dirimu!" sungut Allegra.
"Hah! Memangnya kenapa jika seperti aku? Aku ini tampan, cerdas, dan juga kaya. Aku lulus kuliah di umur 17 tahun karena otakku ini sangat cerdas, berharga seperti berlian!" Dom berbicara dengan sangat percaya diri, membanggakan dirinya dengan segala ke narsisannya.
__ADS_1
Allegra menggelengkan kepalanya, menatap sebal Dom. "Kenapa kamu selalu bersikap narsis seperti ini jika berdua denganku?!"
"Karena hanya kamu yang tahu tentang diriku," jawab Dom, membuat Allegra semakin mengelus perutnya.
Sepertinya Allegra sudah ketularan sikap Hana yang suka mengelus perut jika sedang berhadapan dengan Dom. 🤣
"Kau memang sangat menyebalkan!" Allegra berkata sambil menarik rambut gondrong Dom yang terurai.
"Shiit!" umpat Dom, merasakan sakit di permukaan kulit kepalanya karena rambutnya di tarik oleh ibu hamil itu.
"Apakah kamu tahu perawatan rambutku ini sangat mahal! Jika rontok sedikit saja, kamu harus ganti rugi!" kesal Dom, lalu menggulung rambutnya ke atas, tentu saja hal itu membuat Allegra tertawa terbahak-bahak.
"Ada yang lucu?" sinis Dom.
"Kamu seperti seorang wanita. Hem ... Aku curiga jika sebenarnya kamu ini adalah--"
"Stop! Jangan di lanjutkan ucapanmu yang menjijikkan itu!" Dom segera memotong ucapan Allegra, karena ia tahu arah pembicaraan wanita hamil itu.
Apalagi kalau bukan menuduhnya G*y.
Sial! Umpat Dom di dalam hati.
__ADS_1
Allegra semakin tertawa terbahak, seraya beranjak dari duduknya. Ia masuk ke dalam rumah, menuju kamarnya, meninggalkan Dom yang terus mengumpatinya di teras rumah.