
Di Mansion Dante, tepatnya di ruang makan. Semua penghuni rumah tersebut akan makan siang bersama.
“Apakah di sini tidak ada nasi?” tanya Hana sembari menatap hidangan yang tersaji di atas makan. Semua berbau roti, keju dan saus tomat. Hana yang sudah satu minggu berada di sana, sangat merindukan masakan Indonesia.
Bukannya tidak bersyukur namun lidahnya belum terbiasa dengan Western Food.
Dante memanggil koki yang khusus memasak di Mansion-nya. “Katakan kepadanya kamu ingin memakan apa,” ucap Dante kepada istrinya, sembari menatap pria yang memakai chef jacket berwarna hitam berdiri di dekat meja makan.
“Tidak, ini saja sudah cukup. Aku hanya butuh nasi,” jawab Hana.
Bagi orang Indonesia, jika makan tidak memakai nasi itu rasanya kurang nendang dan terasa tidak kenyang.
Itulah yang di rasakan Hana saat ini.
“Ambilkan Nasi!” titah Dante dengan datar kepada koki tersebut.
“Baik.” jawab Koki tersebut lalu berjalan menuju dapur, dan tidak berselang lama kembali lagi dengan membawa semangkuk nasi, dan memberikannya kepada Hana.
“Terima kasih,” ucap Hana.
“Nah ini baru mantap!” Hana bertepuk tangan sembari mengaduk-aduk nasi yang masih mengepul itu dengan perasaan riang.
Gery dan Dom yang melihat Hana memakan pasta dengan nasi merasa aneh sendiri.
Rasanya memang sedikit aneh di lidah. Namun Hana sangat menikmatinya.
__ADS_1
“Han--” Gery yang ingin protes segera di cegah oleh Dante dengan cara menatap tajam putranya itu.
Gery yang akan kembali ke Indonesia nyatanya mengurungkan niatnya. Ia masih betah berada di sana, dan mengambil cuti kuliah selama dua minggu.
Ada udang di balik bakwan, ya Ger? 🤣
“Makan yang banyak agar kamu cepat tumbuh besar,” ucap Dante sembari mengelus pucuk kepala istrinya yang terlihat lahap makan.
“Iya, aku memang masih kecil, tapi bisa mencetak anak kecil. Ya ‘kan, Dad,” jawab Hana sangat frontal, membuat Dante yang sedang meminum air putih sampai tersedak.
“Uhuk ... uhuk ...” Dante menepuk dadanya berulang kali. Terkejut karena istrinya yang pendiam menjadi sangat frontal.
“Sweetie!” Dante mencoba mengingatkan istrinya agar tidak se-frontal itu jika berada di hadapan banyak orang. Beruntung pelayan yang ada di sana tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan Hana. Jika iya, dirinya pasti sudah sangat malu bukan kepalang.
Gery tersenyum mesem sembari menatap Ayahnya. Sedangkan Dom fokus pada makannya yang terasa lebih menarik dari pada harus mendengarkan pembahasan yang tidak bermutu menurutnya.
“Apakah Daddy bisa melakukannya?” tanya Gery sembari menatap lengan Dante yang gips dan di letakkan di atas pangkuan.
“Bukan urusanmu!” balas Dante dengan kesal.
Gery tertawa cekikikan, namun tawanya berhenti ketika melihat Allegra berjalan memasuki ruang makan, memberi tahukan informasi kepada Dante jika dokter sudah datang dan menunggu di ruang tamu.
“Katakan kepadanya, sebentar lagi aku akan ke sana,” ucap Dante.
“Baik, Dante,” jawab Allegra, melirik Gery yang juga tengah meliriknya.
__ADS_1
*
*
*
“Wow! Perkembangannya sangat bagus. Apakah ini karena Sweetie?” goda Dokter tersebut sembari menggerakkan tangan kiri Dante dengan perlahan.
Dante mendengus kesal, memilih diam dari pada meladeni dokter mesum itu.
“Sepertinya sudah tidak perlu menggunakan gips lagi,” ucap dokter tersebut.
“Syukurlah,” jawab Dante.
“Apakah sudah bisa ...”
“Hei! Jangan terburu-buru! Masih ada banyak waktu, yang terpenting saat ini adalah tanganmu sembuh dulu,” jawab dokter tersebut, membuat Dante mendengus kesal karena ia harus menunggu beberapa hari lagi.
Nasib!
***
Sabar ya Dad, Author masih ingin menghukummu🤣🤣
Dante: I hate you!
__ADS_1
Author: Bodo amat! 🤣😜
Jangan lupa, Like dan Vote-nya ya. ❤