Pesona Ayah Mertua

Pesona Ayah Mertua
Aku ingin!


__ADS_3

Allegra menemani Hana berkeliling Mansion yang megah dan mewah itu.


"Alle sejak kapan kamu kerja dengan Daddy?" tanya Hana sembari menatap Allegra yang berjalan di sampingnya.


"Sejak kecil aku sudah tinggal di sini. Karena mendiang kedua orang tuaku dulu bekerja di sini juga sebagai seorang pelayan. Bisa di bilang mengabdi kepada Keluarga William secara turun menurun," jawab Allegra.


Hana mengangguk pelan, bertanda mengerti. Obrolan mereka berdua mengalir begitu saja. Hana banyak bertanya tentang keluarga William dan juga mantan istri Dante.


"Mantan Istri Dante adalah orang Asia seperti dirimu, namun saat ini tidak di ketahui keberadaanya," jawab Allegra lagi.


Penjelasan Alle sama dengan jawaban Bibi kepala pelayan yang ada di Indonesia.


Mereka berjalan sampai di halaman belakang, yang ternyata ada sebuah taman bunga di sana. "Taman bunga ini adalah milik mendiang Nyonya William. Kami merawatnya sampai saat ini," ucap Allegra ketika Hana memandang taman yang di penuhi dengan berbagai tanaman hias dan berbagai macam bunga warna-warni yang indah di pandang mata.


"Sangat indah, Alle," jawab Hana seraya tersenyum tipis, karena dirinya juga menyukai bunga.


"Tentu saja. Apakah kamu ingin memetik bunga mawar?"


"Apakah boleh di petik?" tanya Hana.


"Ya, tentu saja," jawab Allegra lalu memetik satu tangkai bunga mawar merah untuk Hana.


"Tolong selipkan di sini." Hana menunjuk atas telinganya.

__ADS_1


Allegra menuruti permintaan Hana, menyelipkan Bunga mawar merah itu disela telinga Hana.


"Hana, kamu terlihat sangat cantik. Pantas saja Dante sangat tergila-gila denganmu," puji Allegra ketika melihat kecantikan Hana yang luar biasa.


Pipi Hana merona saat mendengar pujian dari Allegra. "Jangan terlalu menyanjungku, Alle," ucap Hana.


"Aku berkata jujur, Hana," ucap Alle, lalu membawa Hana kembali ke dalam mansion.


Allegra berjalan di belakang Hana, namun tiba-tiba ada yang menariknya menuju ruangan kosong.


"Alle, apakah kamu tahu, jika aku--" Hana menghentikan langkahnya ketika merasakan jika Allegra tidak mengikutinya. Ia menoleh ke belakang, dan benar saja, Allegra tidak ada di sana.


"Kemana dia?" Hana bergumam sembari celingukan, mengedarkan pandangan kesegala arah, namun tidak menemukan Allegra.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Hana dari belakang, membuat wanita itu terkejut bukan kepalang, lalu membalikkan badanya, dan menatap orang yang sudah mengejutkannya.


"Daddy!" Hana bernafas lega, lalu memeluk Dante dengan erat.


"Ada apa?" tanya Dante.


"Di sini ada hantu. Tadi Alle berjalan di belakangku, tapi langsung menghilang," jelas Hana mendongak menatap sang suami yang sangat tampat paripurna.


Cup

__ADS_1


Dante mengecup bibir semanis madu itu sekilas. Lalu menangkup wajah Hana dengan tangan kanannya.


"Mungkin dia sedang ke toilet," ucap Dante, lalu menggandeng tangan Hana, beranjak dari sana.


"Atau mungkin ada seorang mafia yang menculik Alle. Ah, Daddy aku takut!!" pikiran Hana menerka-nerka.


"Keamanan di Mansion ini sangat ketat jadi Mafia juga tidak bisa menerobosnya," jawab Dante, gemas dengan istrinya yang terlalu sering membaca novel tentang Mafia, membuat pikiran Hana terkontaminasi.


*


*


*


"Gery!!" pekik Allegra.


"Aku ingin," ucap Gery lalu menyambar bibir Allegra dengan sangat rakus. Kedua tangannya bergerak lincah melucuti semua kain yang menempel di tubuh Allegra.


Gery memang sangat gila dan tidak tahu tempat.


***


Jangan lupa, like, vote, dan komentarnya. Bestie-ku. ❤

__ADS_1


__ADS_2