Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
100. Terbaik dalam hidup


__ADS_3

Zein mengendap masuk ke dalam toilet di tengah malam buta, ia memanjat atap dan mengambil rokok disana.


"Eehhmm" suara itu mengagetkan Zein.


"Abang kenapa disini" tanya Zein panik menyembunyikan rokok ke arah belakang.


"Jalan jalan saja" singkat Rival.


"Apa Abang akan mengadu?" selidik Zein.


"Apa kamu ini seorang gadis yang khawatir aku akan mengadukan kelakuanmu??"


"Kurasa aku tidak sedang berhadapan dengan nona yang pandai mengadu" senyum Rival mendengar Zein yang sudah lebih santai padanya.


-------


Zein dan Rival duduk jauh di belakang kantin yang sudah tutup. Mereka membawa dua gelas kopi hitam yang sempat di buatnya diam diam.


"Rokok bang!!" Zein menyodorkan rokok menawari Rival. Rival menerima dan menyulutnya.


"Aku tidak merokok" ucap Rival sambil menyemburkan asap yang mengepul tebal, Zein mengeryitkan dahi.


"Tidak merokok bukan berarti tidak bisa menghisap" Rival menyecap rasa pada bibirnya yang seketika akan berubah mual. Rival mengepal menutup bibir dengan jarinya.


"Buang bang kalau tidak nyaman" ada sedikit rasa cemas pada hati Zein.


"Rokok dan kopi ini ibarat wanita dan pria Zein. Rokok ini pria bi***b dan kopi ini wanita pengkhianat" Rival menghisap rokoknya lagi tapi sekarang sudah sedikit lebih santai.


"Kenapa abang jadi melow begini?" Zein heran.


"Kamu akan merasakan kalau kamu bertemu wanita yang hanya ingin mengambil keuntungan darimu saja, tapi dia tidak pernah mencintaimu" jelas Rival.


"Siap bang. Insya Allah aku punya yang sekarang sedang menungguku dengan sabar bang!" ucap Zein yakin.

__ADS_1


Suasana hening sesaat hingga tiba tiba Rival merasa pusing karena rokok Zein.


"Sshh..aku tidak percaya hanya sebatang rokok mengalahkanku seperti ini" Rival meringis menggerutu sambil memijat pangkal hidungnya.


"Sudah habis baru Abang mau bilang tidak kuat!" Zein tertawa renyah melihat Rival. Suasana yang tadinya tegang hampir tidak terasa lagi pada mereka.


***


"Bagaimana kabar orang tuamu Zein?" tanya pelatih Nano yang muncul di depan Zein. Zein kaget dan langsung berdiri tegak di hadapan Nano.


"Hanya ada kita saja, tidak usah formal"


"Orang tua saya baik pelatih" jawab Zein.


"Apa ayahmu masih garang seperti mudanya dulu? Apa kabar ibumu Naya?"


"Papa bertambah galak saja pelatih, sedangkan mama selalu sabar mendampingi papa" senyum Zein mengartikan bahagianya hubungan Randy dengan istrinya yang Nano sendiri tau bagaimana kisah awal pertemuan mereka. Nano ikut bahagia mendengar itu.


"Mamamu wanita yang sabar Zein" tambah Nano.


"Tidak.. tapi saya tau awal pertemuan orang tuamu" ucap Zein. Zein menjadi tersenyum dan ingin tau kisah mereka.


"Kalau ingin tau, lain kali akan saya ceritakan" Zein mengangguk mengiyakan.


"Kau tau Zein, papamu sangat sayang padamu dan mengkhawatirkanmu. Dia mengancamku akan memberiku guna guna kalau sampai lalai mendidikmu" Nano tertawa renyah.


Zein terpaku mendengar ucapan pelatih Nano. Bagaimana tidak, Randy begitu tegas dan disiplin.. tidak ada penolakan dari setiap perintahnya tanpa alasan yang jelas.


"Pelatih.. apakah papa dulu sangat mencintai mama?" Zein malu menanyakannya.


"Awalnya mungkin saja tidak Zein, tapi kalau sudah ada dirimu berdiri di sini sudah tentu rasa cinta itu tidak perlu diragukan lagi" Nano merasa geli dengan pertanyaan anak dari sahabatnya itu.


"Yang jelas, papa dan mamamu itu adalah orang hebat yang pernah saya kenal"

__ADS_1


"Lain kali tolong cerita pada saya ya pelatih!" minta Zein.


"Tentu saja"


***


Zein memakai seragam pendidikan. Siang ini ada pesiar dan Zein pergi bersama beberapa orang teman ke pusat kota di Jawa. Zein ingat pada Yara dan membelikannya kerudung karena Yara belum lama memakai jilbab, tak lama ia membeli gamis dan baju Koko untuk orang tuanya. Terakhir Zein membeli mukena untuk kekasihnya Mutia. Setelah dirasa semua rapi, Zein mengirim semua barang tersebut.


Di jalan Zein melihat Rival memakai jacket dan topi seolah menutupi identitasnya, Rival tampak sedang berdebat dengan seseorang.


"Aku tidak mau susah hidup denganmu.. Alfario" ucap gadis bernama Anne pada Rival sambil menggandeng pria di sebelahnya.


"Silahkan kalau kamu mencari yang menurutmu lebih baik, aku berusaha bertahan dan memaafkan kamu berkali kali dan aku tidak suka caramu yang menduakanku An" protes Rival


"Ok..sekarang kita selesai" gadis itu menatap Rival tanpa bersalah. Rival kini kalut dengan perasaan sakit merasakan pengkhianatan. Rival memberi jalan agar gadis itu pergi. Zein mendekati Rival.


"Tinggalkan gadis seperti itu bang!" kata Zein memberi semangat pada Rival yang nampak lesu.


"Kalau kamu punya gadis untuk kunikahi.. segera bilang padaku!" datar Rival.


"Ku aamiinkan saja bang, tidak ada yang tidak mungkin" Zein mengajak Rival berjalan bersama. Sepanjang jalan wajah Rival masih saja lesu dan tidak bersemangat.


Rival berdiri dari duduknya di sebelah Zein.


"Abang mau kemana?" tanya Zein.


"Ke club malam" jawab Rival enteng.


"Gila kau bang" Zein melotot tidak percaya.


"Aku butuh penyegaran. Jangan mengikuti jejakku kalau nyali kalian hanya sampai mata kaki" mau tak mau Zein dan beberapa orang lainnya mengikuti kelakuan Rival setelah mengganti seragam mereka.


.

__ADS_1


.


__ADS_2