
"Bagaimana rasanya setelah liburan?? Apa terasa lebih segar??" suara pelatih menggelegar di lapangan.
Kini semua siswa termasuk Zein harus kembali menjalani rutinitas sebagai siswa. Hari demi hari harus di lalui lagi demi terwujudnya sebuah cita-cita. Terkadang Zein merasa lelah dengan semua ini tapi semangat harus tetap membara dalam jiwa.
Zein merebahkan tubuhnya di bawah truk Reo yang lelah sehabis latihan beladiri hari ini. Zein mengingat hari harinya bersama Mutia kemarin. Kalau saja Mutia sudah menjadi istrinya saat ini, pasti ia bahagia saat ini. Tapi memang benar apa yang di katakan papanya kemarin. Menggapai cita-cita demi orang tersayang itu lebih penting.
Zein sangat merindukan Mutia. Rasa rindu dalam dada mengantarkannya tidur nyenyak siang hari itu.
-------
"Mana Zein??????" teriak pelatih Baron melengking di telinga para siswa. Semua rekan Zein merasakan dag dig dug menunggu Zein yang tidak kunjung muncul.
"Kemana Zein?????" tanya pelatih Baron lebih keras lagi.
"Siap tidak tau" jawab rekan Zein kompak.
"CARIIIIIIII!!!!!!!"
Semua orang mencari keberadaan Zein. Pada saat itu pelatih Dani melintas dan melihat kaki di bawah truk Reo. Dani menunduk dan mengintipnya.
"Astagfirullah..kamu sungguh keterlaluan Zein, tapi maaf Zein om harus profesional dalam pendidikan" batin Dani melihat anak dari seorang Randy Prawira.
"Banguuunn" bentak Dani menyepak kaki Zein.
Zein sangat kaget hingga kepalanya terbentur Reo. Ia gelagapan tidak sadar sudah jam berapa saat ini. Beberapa pelatih sudah berdiri di hadapannya, ada yang berkacak pinggang juga ada yang siap membawa cambuk pusaka.
__ADS_1
"Nyenyak tidurmu???" tanya Nano dengan garang.
"Siap salah" tegas Zein.
"Temanmu yang lain juga lelah sepertimu, hanya kamu saja yang bisa tidur senyenyak ini"
"Siap salah"
"Bodoh sekali kamu. Bagaimana kalau truk ini di jalankan dan kamu ada di bawahnya. Apa lelah di tubuhmu membuat IQ mu tinggal satu digit????" bentak pelatih Baron.
***
Aaarrggghhh
"Kamu kenapa belum tidur?" suara medhok Yono menemani Zein bersama sunyinya malam.
"Nggak bisa tidur, badanku sakit semua Yon" keluh Zein.
"Owalah Zein, kamu pasti kangen yank mu to? sabar!! semua ini nanti pasti ada akhirnya! Mana minyak gosokmu, aku bantu oles di punggungmu!"
Zein ragu menyerahkan minyak itu, tapi karena badannya terlalu sakit akhirnya Zein menyerah. Yono pun mengoles minyak dan sedikit memijat punggung Zein.
"Tidurlah, jangan memikirkan apa yang akan terjadi besok. Jalani semua dengan ikhlas hingga pada akhirnya semua selesai dengan sempurna" bujuk Yono.
Teman-teman Zein akhirnya bangun dengan membawa botol minyak masing-masing.
__ADS_1
"Kami juga kena cambuk sepertimu walaupun kamu yang lebih parah. Kita satu rasa, satu jiwa. Susah senang sama-sama" ucap Sholeh. Rekan Zein pun duduk berjajar membelakangi temannya sambil saling membantu mengoleskan minyak gosok.
"Terima kasih bro, kalian memang saudara sejati" senyum Zein mengembang lalu ikut bergabung bersama rekan yang lain.
"Sekarang kita yang bantu oles bro.. lima tahun lagi sudah ada bini yang bantu" ucap Tarno dengan girang.
"Heh ampas tahu! Masih lama itu mah, pegang pistol aja masih miring sudah pikir bini" kesal Sholeh.
"Biar saja, namanya juga cita-cita. Harus di kejar setinggi langit" jawab Tarno bangga.
"Cita-cita apa?" tanya Zein dan temannya ikut bingung.
"Cita-cita di oles minyak gosok sama bini lah" bangga Tarno tanpa dosa. Zein yang kesal menyambar bantal untuk menimpuk wajah Tarno
***
Hari ini jadwal Zein berorientasi masuk ke beberapa Batalyon untuk mempelajari teknik kemiliteran.
"Jangan sampai kamu buat salah lagi. Kasihan papa mamamu Zein" tegur pelatih Dani.
"Siap pelatih! tidak akan salah lagi" tegas Zein mantap.
.
.
__ADS_1