Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
108. Keluarga


__ADS_3

Yara melihat pemandangan keluar jendela. Hatinya sudah tidak sepedih hari kemarin saat menyadari David tak lagi menghubunginya.


Randy melihat Yara dari balik pintu juga merasakan kesedihan putrinya.


Kelak jika kamu memiliki seorang kekasih, Papa tidak akan membiarkanmu sesedih ini dan papa yang akan menilai sendiri calon suamimu.


"Sudah makan?" tanya Randy menutupi rasa sedihnya.


"Sudah pa" jawab singkat Yara.


"Apa kamu benar-benar mencintai David?" tanya Randy yang melihat Yara masih murung.


"Sekarang tidak lagi pa" Yara memeluk Randy dengan erat dan menangis di pelukan papanya hingga seragam Randy basah oleh air mata Yara.


"Jangan menjadi trauma karena suatu hal, tidak semua pria itu sama ndhuk" bujuk Randy.


"Ini pertama kalinya papa memanggilku seperti itu lagi setelah aku beranjak dewasa. Aku rindu pelukan papa" Isak tangis Yara membuat pedih hati seorang ayah.


Apa jadinya jika kamu nanti kamu menikah nak, papa harap kamu menemukan pria yang tulus mencintaimu


"Sudah..sayanglah pada air matamu" Randy mengusap air mata di pipi Yara.


***


Zein mendengar kabar kakaknya masuk rumah sakit. Zein tidak bisa berbuat apa-apa walaupun sebenarnya ia sangat kesal. Zein pergi menemui Rival di barak senior.


"Apa Abang mengenal senior yang bernama David?" tanya Zein.


"David?? David yang mana ya?" Rival berpikir keras.

__ADS_1


"Yang kemarin baru pindah tugas setelah masa dinas di Kalimantan" jelas Rival.


"Hhmm..iya, saya kenal.. ada apa?" tanya Rival.


"Tidak ada bang, hanya ingin tau bagaimana orangnya"


"Biasa saja. Dia baik, sopan, menghargai yang lebih muda, yaa.. sewajarnya kita hidup lah" jelas Rival. Zein terus berpikir menyelaraskan pendapat ayahnya dengan penjelasan Rival.


Rival juga tidak mau mencampuri urusan pribadi Zein lebih jauh lagi. Maka ia tidak menanyakan lebih lanjut perihal ini.


***


David duduk termenung bersandar di ranjangnya sudah tepat satu bulan hilang sudah kontak Yara beserta seluruh data Yara yang ada dalam ponselnya. David mulai berpikir bahwa Yara yang berusaha menghindarinya.


Sesak Rasa hatinya menahan rindu, dan cinta tak terbalaskan. Di Biak bukan tak ada yang menarik atau masuk kriteria David, tapi saat ini memang hatinya masih tertutup untuk mencari pengganti Yara atau pelarian sekalipun.


Beberapa anggota melihat David terpejam meratapi kerinduannya.


***


Yara sudah pulang ke rumah dan kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik.


"Ma, saat dulu mama menikah dengan papa apa mama langsung mencintai papa?" tanya Yara sambil membantu Naya membuat tahu isi.


"Semua butuh proses sayang. tidak langsung cinta" jawab Naya.


"Oohh..jadi susah ya mencintaiku?" gumam Randy yang tiba-tiba muncul setelah pulang kerja. Naya menjadi tersenyum geli melihat Randy.


"Terus yang membuat mama langsung mencintai papa karena apa?" Yara masih penasaran.

__ADS_1


Naya tertunduk dengan senyum yang di tahan mengingat hal pribadi yang Randy lakukan pada Naya dulu. Walaupun dengan cara memaksa.


"Ingat apa hayoo???" tanya Randy genit melihat raut wajah istrinya. Usia yang sudah mendekati kepala lima tidak sedikit pun menyurutkan keromantisan pasangan ini. Bahkan Randy dan Naya tampak masih awet muda.


"Ya kesabaran papa dan rasa sayang papa untuk mama donk Yara" jawab Naya


"Ingat apa sih ma?" tanya Randy mengulang lagi pertanyaannya.


"Ingat mas aja!" lirih Naya saat Yara pergi ke arah dapur membawa nampan berisi tahu isi untuk di goreng.


"Nggak usah di ingat, ayo di ulang lagi!" mendengar celotehan Randy, Yara langsung membelalakan mata ingin menyudahi obrolan ini.


"Meskipun sudah berumur tapi menjaga keharmonisan rumah tangga kita juga penting donk sayang" ucap Randy bermanja pada istri tercinta.


"Iya mas, tapi tempatnya tidak disini donk" tolak Naya.


"Memangnya aku minta apa??? Kenapa tidak boleh disini??" goda Randy. Pertanyaan Randy membuat Yara menjadi salah tingkah tak mengira Randy akan bertanya ringan yang sulit di jawabnya.


"Kebiasaan kamu ma, tinggal bilang 'pengen' aja susah" gerutu Rival terus menggoda Naya. Secepat kilat Naya menjepit bibir Randy dengan jarinya agar Randy berhenti bicara.


"Iya..aku memang 'pengen'. Puas dengarnya mas??" jawab Naya melotot.


Randy tertawa mendengar Naya yang kini mulai kesal.


"Gitu khan suami senang dengarnya" Randy mencolek hidung mancung Naya. Randy dan Naya terus saja bercanda hingga tak terasa tahu isi yang di goreng Yara sudah matang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2