Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
92. Akibat Yara mengadu


__ADS_3

Siang ini begitu panas dan terik. Zein masuk ke dalam kamar Yara pamit untuk mengerjakan tugasnya. Zein melihat situasi ke kanan dan ke kiri. Di bukanya sebuah kertas kecil yang ada di saku celananya.


"Ini dia situsnya, aku penasaran banget pengen lihat" gumam Zein tak sabar


Zein sudah tau kalau ia membuka laptop akan terlihat jelas saat pintu kamar Yara terbuka. Maka Zein membukanya melalui ponsel. Zein memasukan email dan password miliknya. Tak lama situs itu terbuka sangat jelas dan gamblang.


Yara makan camilan buatan mamanya dan mondar mandir di sekitar kamar. Tak lama Yara mendengar suara orang merintih entah sakit atau apa Yara juga tidak paham. Yara menguping sambil terus mengunyah memperjelas pendengarannya di daun pintu kamarnya.


Semakin lama suara itu semakin mengusik telinga dan rasa ingin tau Yara. Yara membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat Zein yang sedang menonton adegan yang tidak pernah di lihat Yara sebelumnya.


"Zein..kamu lihat apa?" suara Yara mengagetkan Zein hingga Zein terburu mematikan ponselnya dengan gugup.


"Bukan apa apa. Sejak kapan kamu disini" tanya Zein yang tidak menyadari kehadiran Yara.


"Belum lama" jawab Yara, tapi perasaan Yara menjadi takut dan gelisah. Zein merasa tenang sekarang karena mengira Yara tidak melihatnya.


--------


"Pa, laki laki dan perempuan kalau sedang berdua, mereka melakukan apa?" Yara penasaran.


"Membuat tugas, bersih bersih, kerjasama dalam pekerjaan" jawab Randy ringan sambil menjawab pesan di group kantor.


"Kalau nggak pakai baju bareng pa?"


Dalam hati Randy sebenarnya sangat terkejut tapi ia menutupinya agar Yara tidak semakin jauh penasaran.


"Yara mau tanya apa sich?" Randy meletakkan ponselnya di karpet lantai ruang tengah.

__ADS_1


"Zein lihat laki sama perempuan di ponselnya sedang berpelukan pa" ucapan Yara sangat lancar.


"Teruuuss!!!!" suara tajam Randy membuat Yara mulai takut.


"Mereka cium cium gitu pa" lirih Yara sambil memperlihatkan wajah tanpa dosanya.


Randy merasa sesak di dadanya karena sangat kaget. Randy akan menegur anak laki lakinya tanpa Naya karena hal ini bisa membuat Naya terkejut dan berniat menceritakannya nanti. Naya masih pergi ke tetangga dan Randy memulai tegurannya dengan cepat.


"Zein..sini kamu!!!!!" panggil Randy dengan nada meninggi.


Zein berjalan menuju arah Randy. Dia heran dengan wajah papanya yang nampak tidak bersahabat tapi Yara berwajah sok imut.


"Kamu belajar di kamar dulu" titah Randy pada Yara.


"Darimana kamu dapat situs porno itu" tanya Randy langsung setelah Yara masuk ke dalam kamar.


"Jangan pura pura atau papa hajar kamu!!!!" tegas Randy tidak main main.


"Dari teman pa" Zein menunduk pada akhirnya mengakui perbuatannya.


"Kamu tau Khan hal itu belum pantas kamu lihat. Kenapa kamu coba" tatapan Randy mengintimidasi Zein. Zein yang memang bersifat jantan, ia mengakui kalau memang dirinya salah.


"Aku penasaran pa dengan kegiatan orang dewasa"


"Terus apa yang kamu rasakan setelah melihat video itu? enak, nyaman, pengen tau lagi!! Kamu jangan coba coba ya! ini peringatan Zein"


"Papa tau seusiamu ini rasa penasaran pasti tinggi tapi kalau kamu melihat hal seperti itu sekarang, itu bisa membuat pikiranmu terganggu karena terbayang hal yang tidak sepertinya. Kamu belum bisa mengontrol emosimu dengan baik Zein" Randy mejelaskan.

__ADS_1


"Mama jangan sampai tau video itu dan segera buang koleksimu. Papa tidak akan memberi kamu kesempatan kedua kalau kamu ulangi lagi" tegas Randy lagi.


"Iya pa, aku tau. Maaf pa" sesal Zein


------


Malam hari Randy mengobrol di teras belakang. Randy merasakan Naya menjadi genit padanya. Naya terus memeluk dan mencium menggoda Randy sejak tadi.


"Sayang.. sekarang apapun yang kita lakukan, di dalam kamar saja" bisik Randy.


"Bukannya kita selalu di dalam kamar mas saat anak kita beranjak besar!" Naya mengerutkan dahi sambil memeluk Randy. Randy pun membalas pelukan Naya.


"Waspadai anak laki lakimu itu, dia semakin tau hal hal dewasa" ucapan Randy walaupun lembut membuat Yara tersentak, wajahnya berubah kecewa. Naya melepaskan pelukannya tapi Randy menarik Naya pada pelukannya lagi.


"Darimana Zein tau hal seperti itu mas" Naya menyelidik" wajah Naya menjadi pucat penuh kecemasan. Tangannya meremas remas berpikir ke hal yang di takuti.


"Mas Khan pernah seusia Zein dan merasakan hal itu sayang, menuju dewasa..rasa ingin tau dan naluri penasaran juga tinggi. Jelas laki laki mencari tau dari sumber manapun"


"Bagaimana ini mas, aku takut Zein terjerumus dan mencoba hal hal yang tidak seharusnya" Naya gelisah sekali memikirkan Zein yang mulai bertingkah.


"Sebisa mungkin mas yang akan mengawasi dan mengarahkan dia ke hal positif, karena bagaimana pun anak yang ingin tau masih bisa membuat kita kecolongan" jelas Randy. Naya mengangguk merasa sedikit lebih tenang.


"Ngomong ngomong tanganmu ini nakal sekali dek" Randy menatap Naya dengan tatapan nakalnya berusaha mencairkan ketakutan istri tercintanya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2