
"Anak anak tidak mau pulang mas, apalagi Yara melihatmu marah" ucap Velly pada sambungan telepon. Rasa bersalah Randy semakin kuat telah membuat anaknya menjadi ketakutan.
"Berikan ponselmu pada Yara" pinta Randy
"Iya tunggu" Velly memberikan ponselnya agar di dengar oleh Yara. Awalnya Yara menolak tapi setelah di bujuk Velly akhirnya Yara mau menjawab telepon dari papanya.
"Yara sayang.. pulang ya sama adik" bujuk Randy.
"Nggak mau papa jahat, papa mau pukul mama. Mama jadi sakit" tolak Yara.
Suara Randy seakan hilang dan tercekat, perbuatannya kemarin pasti meninggalkan trauma pada putrinya.
"Papa nggak pukul mama Yara. Yara salah lihat" Randy menjelaskan.
"Tadi papa juga gigit mama" polos Yara.
"Hmm..itu.. bukan gigit sayang. Papa Khan sudah bilang kalau papa tiup mata mama" ucap Randy setenang mungkin karena pasti Velly dan Reno juga mendengarnya.
"Papa bohong" Randy merasa kalah dan tak bisa menjawab putrinya lagi.
"Ren, titip anakku dulu ya! Aku tidak tau harus menjawab apa lagi" pinta Randy pada Reno di seberang sana
"Iya.. asalkan mama Yara tidak Abang gigit lagi" Reno terkekeh menahan geli. Randy mengulum senyum mengingat kejadian tadi pagi.
------
"Mas salah dek, sudah tidak jujur" Randy membelai rambut Naya yang memalingkan wajahnya menghindari Randy.
"Kenapa tidak jadi menamparku" ketus Naya.
Randy menatap wajah Naya yang tidak memperhatikannya.
__ADS_1
"Dua kali mas hampir menamparku karena wanita" lanjut Naya lagi.
"Dua kali juga kamu berteriak padaku karena para wanita yang tidak ku pedulikan" Randy berkata lembut sambil tetap membelai rambut istrinya.
"Untuk terakhir kalinya aku bicara padamu sayang. Di hatiku tidak ada yang lain. Kamu ibu dari anak anakku, yang melahirkan mereka ke dunia dengan pertaruhan nyawamu, sudah cukup alasan bagiku untuk membuatmu selalu di hatiku" Randy membungkuk mencium pelipis istrinya.
"Semoga marahmu cepat mereda" Randy berdiri meninggalkan Naya di dalam kamar seorang diri.
***
Dua hari Naya sakit, dan dua hari juga Yara dan Zein tidak masuk sekolah.
Hari ini Yara dan Zein sudah masuk sekolah. Naya menjemput kedua anaknya sambil menunggu Randy menjemput mereka.
Naya yang duduk di bawah sebatang pohon mangga melihat Fahira menjemput Azizah. Sangat cantik wajahnya hari ini dengan polesan lipstik berwarna merah terang.
Anak anak baru berhamburan keluar dari dalam kelas sedangkan Randy baru saja tiba dan keluar dari mobilnya. Fahira yang sudah lebih dulu keluar bersama Azizah segera menyapa Randy.
deegg..deeggg
Bunyi jantung Naya berpacu cepat, ada rasa sakit yang teramat sangat mendengar ucapan Fahira. Disisi lain Naya masih punya rasa kasihan pada Azizah yang tidak punya sosok bapak.
Azizah yang mendengar hal itu langsung menghambur memeluk Randy dengan manja dengan tangan di angkat ke atas seakan ingin Randy menggendongnya.
Mau tidak mau Randy menggendong gadis cilik tidak bersalah itu. Naya sudah berjalan mendekati Randy dengan raut wajah datar kecewa yang sangat di mengerti oleh Randy.
Yara tidak suka papanya menggendong anak lain, ia merengek.
"Turun dari gendongan papaku" pekik Yara.
"Heh.. papamu ini seharusnya menjadi papa Azizah kalau mamamu tidak datang mengganggu" Fahira menarik bahu Yara. Randy geram dan menurunkan Azizah agar kembali pada ibunya.
__ADS_1
"Bisakah kamu mengajari anakmu hal yang benar???" bentak Randy. Perdebatan itu di lihat oleh para guru dan orang tua murid yang lain.
"Aku lelah bang, tidak ada tempatku mengadu. Abang lebih memilih anak dan istri Abang padahal orang tuaku yang menyelamatkan hidupmu" teriak Fahira seperti orang gila.
Naya mengajak anaknya masuk ke dalam mobil. Yara dan Zein menangis ketakutan di pelukan Naya. Naya tau suaminya pasti akan tegas menyelesaikan ini semua.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" tantang Randy.
"Tidak masalah kalau Abang tidak menikahi ku, toh kita 'suami istri' tanpa menikah. Aku butuh seseorang sebagai sandaran hidupku, juga ayah untuk anakku" ucap Fahira tanpa ragu.
"Ternyata kamu belum jera dan belum lelah berulah gila. Buka telingamu dan masukkan ke hatimu yang paling dalam. Inilah bedanya kamu dengan Naya istriku.., Tidak perlu alasan untuk mempertahankan istriku yang sah dan juga inilah jawabanku bahkan mungkin lelaki lain memandangmu. Harga dirimu jauh di bawah telapak kakiku. Mengejar sesuatu yang bukan milikmu bahkan tidak mau denganmu sudah menunjukan seberapa rendahnya kamu di mataku. Aku..tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu. Karena wanitaku yang paling berharga adalah Naya, ibu dari anakku" mendengar ucapan Randy, Fahira begitu sakit hati dan sampai melukai harga dirinya.
"Baiklah bang, seperti ini Abang menolakku padahal banyak lelaki yang menginginkanku karena aku anak dari seorang Sikin. Aku kalah sekarang dari Naya. Tapi sakit hatiku akan kubalaskan suatu hari nanti" Fahira berlalu pergi sambil menggendong Azizah yang menangis melihat Randy.
Para orang tua murid yang belum pulang merasa ngeri terhadap pelakor yang mengganggu rumah tangga orang tua Zein dan Yara. Mereka merasa iba.
Randy membuka pintu mobil tempat Naya duduk.
"Turun sayang, kita pindahkan sekolah anak kita. Aku tidak mau ada Fahira dan Azizah lagi" tegas Randy.
"Tapi mas, sekolah yang dekat rumah kita itu mahal sekali apalagi harus memasukkan dua anak kita" Yara memandang takut raut wajah marah suaminya
"Apa kamu pikir aku tidak bisa membayar sekolah anak anakku???" bentak Randy. Naya terkejut, wajahnya berubah sendu.
Randy mengusap wajahnya meredakan emosinya melihat istrinya yang mulai takut dengan dalam hati berucap istiqhfar
"Jangan khawatir, aku akan bekerja keras. Aku bekerja untuk anak istriku. Apalagi yang aku lakukan kalau bukan untuk kebahagiaan, kenyamanan dan ketenangan kalian" Randy menggandeng tangan Naya masuk kembali ke dalam sekolah.
.
.
__ADS_1