
Randy keluar dari ruang IGD di dorong oleh perawat di atas brankar. Randy sudah sadar sepenuhnya.
"Ada apa Ren?" Tanya Randy pada Reno yang sesaat tadi mendengar suara keributan.
"Naya pingsan bang" Jawab Reno sambil mengangkat tubuh Naya dan merebahkannya pada kursi tunggu.
"Astagfirullah Ren, khan sudah kubilang jangan hubungi Naya. Ini pasti terjadi kalau kamu memberitaunya!" Randy sangat kesal. apalagi saat ini tubuhnya sangat sulit di gerakan karena banyak luka.
"Aku tidak bilang apapun bang, Naya datang sendiri tiba tiba berlari mencari abang" Reno menjelaskan sambil mengawasi dokter yang membantu menyadarkan Naya
Naya pun tersadar, pandangan matanya langsung melihat suaminya. Naya menangis dan berlari ke arah Randy tapi tangannya di cegah Reno
"Jangan dulu, badannya penuh luka, abang baik baik saja" Reno menjelaskan pada Naya. Naya mengangguk tidak berkata apapun.
***
"Pulanglah dek, kasihan Yara. Mas gapapa"
"Iya mas, sebentar ya!" Naya tidak tega meninggalkan suaminya.
"Yara sama aku dan mas Reno. Mbak Naya pasti bingung kalau nggak liat mas Randy" ucap Velly yang datang bersama Reno
Yara tidur di pelukan Reno, karena perut Velly yang membesar tidak akan nyaman untuk menggendong Yara.
"Kamu ngapain disini Vell, nggak baik berlama lama di rumah sakit" Randy menyuruh adiknya untuk pulang. "Nanti tolong antar Naya sekalian ya Ren. liat saja wajahnya" Randy sangat kasihan melihat wajah Naya yang lelah
Papa dan Mama Randy datang ke rumah sakit. Mama melihat Naya yang sedang duduk di sofa lalu memeluknya
"Kamu mau pulang sama Mama Papa Nay?" Tanya mama lembut. Naya langsung memeluk mama mertuanya itu. Mama menyambutnya dengan senang hati.
"Mas Randy akan baik baik saja khan ma? Lukanya membuatku takut. Mama tau Naya sangat mencemaskan Randy. Mama hanya tersenyum menguatkan atas pertanyaan menantunya
__ADS_1
"Hal seperti ini sangat biasa untuk lelaki sayang, ini hanya lecet kecil saja" Randy jengah melihat Naya yang menangisinya sejak tadi.
Apa jadinya kalau ini di medan perang sesungguhnya. Apa Naya akan menangisiku sepanjang hari jika hal buruk terjadi padaku?? Kamu harus kuat sayang...
"Ma..Naya ingin menemani mas Randy..apa boleh" tatapan Naya pada mama mertuanya seakan memohon. Mama Randy tak bisa menolak menantu cantiknya itu
"Iya sayang, Yara biar sama mama. ada bibi juga disana. kamu tenanglah disini bersama Randy" Jawab mama mengusap punggung Naya.
----
"Biar saya!!" Naya menatap seorang perawat wanita dan Randy secara bergantian. Naya sangat kesal pada Randy karena tubuhnya di kompres seorang perawat yang juga membersihkan tubuh atas Randy. Baru saja dia kembali dari mengambil pakaian Randy di rumahnya. Padahal sebelum pulang tadi Naya menawarkan diri pada Randy untuk merawatnya, tapi suaminya itu menolaknya
Randy menaikan selimutnya secara perlahan dengan menahan sakit.
"Apa di rumah sakit ini tidak ada perawat pria" tanya Naya dengan ketus
Randy memberi isyarat pada perawat itu untuk segera pergi sebelum Naya meledakan kamarnya saat ini. Perawat pun meninggalkan Naya dan Randy.
Naya mencubit perut Randy. Randy pun melonjak kaget, Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Naya bingung melihat suaminya
"Ada apa mas?"
Naya ingin membuka selimut Randy tapi ditahan oleh tangan Randy. Naya kesal melihat suaminya
"Perawat itu boleh memegang dan melihatmu. Siapa sebenarnya istrimu?
Naya membalas perkataan Randy dulu saat pernah berucap hal yang sama dalam situasi darurat.
"Kamu istriku..satu satunya istriku" Randy pun melepaskan genggaman tangannya dari selimut yang di pegangnya erat sejak tadi. Naya pun membukanya. Matanya melotot, ia terduduk lemas
"Ya ampun mas..itu luka yang besar, pasti lukanya sangat dalam. apa yang terjadi mas?"
__ADS_1
Tangan Naya gemetar menyentuh luka itu perlahan. Randy mengusap rambut Naya
"Ini tertusuk patahan dahan pohon. Jangan khawatir..suamimu ini pasti akan cepat sembuh"
Naya tertunduk menangis pada ranjang Randy.
"Maaf pak saya baru kembali. kain kasa yang tadi kurang. saya bantu membasuh badan bapak juga" Kata seorang perawat pria yang baru saja masuk kamar rawat Randy.
Naya berdiri dari duduknya. Perawat pria itu sedang merawat luka Randy. Sesekali raut wajah Randy meringis kesakitan dan mengepalkan jarinya sesaat, bibir bawahnya digigit perlahan.
"Sakit sekali ya mas?" Naya sangat takut melihat luka itu. Randy hanya tersenyum sesaat.
Perawat sudah selesai mengganti perban ada luka Randy dan keluar dari ruangan karena Naya meminta untuk merawat suaminya sendiri.
Naya melihat tubuh Randy yang kekar dengan perut six packnya yang kini penuh luka. Di basuhnya perlahan dengan handuk dan air hangat. Randy memperhatikan istrinya yang merawatnya tanpa bicara. Randy tersenyum melihat Naya, ingat saat pertama kali mereka bertemu. Kini wanita yang sudah menjadi istrinya itu merawatnya dengan sepenuh hati. Wanita yang juga sudah memberinya seorang putri
"Jika cinta pada tanah airku membuatku harus meninggalkanmu, apa kamu akan tetap mencintaiku dalam hatimu?"
"Kenapa mas bicara begitu, mas tidak boleh meninggalkanku, aku dan Yara sangat membutuhkanmu mas" Naya menghentikan tangannya yang sedang membasuh tubuh Randy. air mata matanya perlahan menetes.
"Berjanjilah untuk menjadi kuat walaupun terasa berat. Berusahalah kuat walau seakan hatimu tak mampu. Jika hatimu merasa tak mampu, pasrahlah pada Tuhan..hingga terjawab seluruh sakit di hatimu"
Naya memeluk Randy yang masih berbaring, Naya mencium pipi Randy
"Jangan katakan itu lagi, aku sayang kamu mas!!"
Randy membalas pelukan istrinya dengan sayang, di kecupnya kening Naya.
"Aku tau sayang"
.
__ADS_1
.