Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
88. Kenakalan Zein ( 1 )


__ADS_3

Zein sudah duduk di bangku kelas 4 sedangkan Yara duduk di bangku kelas 5. Yara dan Zein sama sama pintar, hanya saja Yara tidak punya nalar sebaik Zein. Kepintaran Yara hanya dalam akademik tapi tidak seratus persen paham dengan isinya.


Suatu ketika Zein yang sudah beranjak besar, berulah membuat Naya sangat kerepotan. Siang hari yang panas pukul dua belas siang Zein tak kunjung pulang di hari Minggu itu.


Randy pulang ke rumah setelah service mobilnya.


"Mama mana?" tanya Randy pada Yara yang sedang makan siang di rumah.


"Cari Zein pa" jawab Yara.


"Memangnya Zein pergi kemana?" Randy menyelidik.


"Lima menit setelah papa pergi, Zein main entah kemana. Mama sedang mencarinya khawatir papa akan pulang dan marah pada Zein" jelas Yara.


Randy memang akan marah pada Zein karena anak laki lakinya itu kalau sudah main tidak tau waktu bahkan sampai melewatkan jam makan.


Randy menelepon Naya tapi tidak ada jawaban. Di lihatnya ponsel Naya tertinggal di lemari hias.


"Selalu lupa membawa ponsel" gerutu Randy. Randy segera menyambar kunci mobil dan bergegas mencari Naya.


Tak lama Zein muncul dari balik pintu


"Darimana saja kamu" bentak Randy


"Main sebentar pa" jawab Zein datar


"Terus dimana mama???" Randy menengok ke arah pintu tidak ada tanda Naya pulang bersama Zein.


"Mama di rumah lah pa" jawab Zein tenang.

__ADS_1


"Jangan main main kamu, kalau mama ada di rumah papa nggak akan tanya. Mama sedang tidak enak badan ya Zein. Kalau mama kambuh sakitnya, kamu akan kena hajar papa" ancam Randy.


kreeeekk


Pintu ruang tamu terbuka, Naya melangkah dengan wajah pucat. Peluh membasahi keningnya.


"Mas, tolong inhaler ku" Naya merosot di depan pintu.


Randy segera membantu Naya berdiri dan mendudukkannya di sofa lalu secepatnya mengambil inhaler.


"Yara.. ambilkan minum untuk mama" perintah Randy. Yara datang dengan segelas minuman dan Naya meneguknya.


Naya memakai inhalernya hingga merasa lebih baik. Tatapan mata Randy tajam mengarah pada Zein dan Zein mulai takut dengan tatapan papanya.


"Sekali lagi kamu buat mama seperti ini, cambukan papa akan melayang di punggungmu" bentak Randy.


"Iya pa"


***


"Sudah baikan sayang?" tanya Randy


"Sudah mas, jangan marah lagi mas. Itu sensasinya punya anak laki laki dan mas juga sudah menikmati memiliki anak perempuan Khan"


"Iya dek, tapi mendidik anak kita menjadi lebih baik adalah tugas kita. Mau jadi apa anak kita kalau kita tidak mengajari mereka tentang akhlak, agama dan nilai moral" ucap Randy.


"Iya mas, suamiku yang bijaksana" Senyum Naya mengembang indah.


"Beladiri Zein harus di lanjutkan lagi"

__ADS_1


"Apa mas Reno yang mengajarinya beladiri??" Randy mengangguk.


"Kenapa tidak mas saja yang mengajarinya" tanya Naya


"Dia tidak akan menurut denganku, biar dia bersama Reno saja".


***


"Pak Randy, saya minta ganti rugi karena Zein memukul Tofan" Geram ibu Tofan. Naya sedikit takut melihat darah yang mengucur deras pada pelipis Tofan


"Kamu apakan Tofan nak" tanya Naya.


"Aku dorong ke kursi besi itu ma" jawab Zein tenang.


"Saya meminta maaf atas kelakuan anak saya, saya akan mengobati anak ibu"


"Tidak bisa, Zein nakal dan berbahaya. Dia harus di keluarkan dari sekolah" Ibu Tofan tidak mau tau.


"Saya tidak salah" ucap Zein.


"Anak saya bilang dia tidak salah" Randy sangat memahami sifat dan karakter putra putrinya.


"Sudah ya pak..Bu. Zein, apa yang membuatmu mendorong Tofan?" tanya ibu guru BK.


"Dia membuka rok Alisa berkali kali hingga Alisa menangis, itu sangat kurang ajar" kegeraman Zein membuat Tofan takut.


"Oohh..dia pantas di dorong. bahkan di colok juga masih pantas" ucap Randy tenang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2