
"Abang gapapa? lemas amat bang?" tanya Reno
"Gapapa Ren, pusing saja kepalaku" jawab Randy memejamkan mata dan mendongakkan kepala ke atas, Randy mengeryitkan kening berharap mual yang di rasakan akan hilang.
"Kalau abang sakit lebih baik abang istirahat saja, jangan di paksa. Setelah apel ini ada kurve lapangan bang" Reno mengingatkan
"Santai saja lah, ayo apel" Ajak Randy menuju lapangan. Reno memperhatikan langkah Randy yang berjalan di depannya
"Aku tidak yakin kalau melihat raut wajah bang Randy" gumam Reno dalam hati.
-----
Angin berhembus semilir pagi itu namun terik matahari begitu terasa menyengat kulit. Randy merasa semakin tidak enak badan, perutnya seakan di remas dan melilit. Peluh membasahi keningnya.
Apel pagi hampir usai, Randy masih bertahan menguatkan dirinya walaupun mual terasa kuat menderanya. Kakinya mulai gemetar, Reno melirik melihat Randy yang gelisah.
"Bang, ayo ke belakang" ucap Reno sangat lirih sambil sikap istirahat di tempat saat Komandan memberi arahan.
"Nggak Ren" Randy merenggangkan jarinya lalu mengepalkan jarinya lagi. Randy memicingkan mata dan sesekali menggigit bibir bawah menahan sakit.
Upacara pun usai, semua anggota balik kanan dan menghambur dari tempat itu untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya. Reno yang baru akan mengantar Randy harus di kejutkan karena Randy ambruk ke arahnya tak sadarkan diri. Reno dan anggota lain ikut ricuh dan mengangkat Randy ke ruang kesehatan.
-------
__ADS_1
Randy menggelinjang meremas perutnya. Randy kembali berjalan ke toilet. Nafasnya sesak karena tidak bisa muntah lagi. Reno yang sedari tadi menemaninya juga ikut panik.
Reno memapah Randy kembali pada ranjang di ruang kesehatan.
"Kenapa abang tadi tidak ijin saja. Daripada abang sakit begini"
"Istrimu hamil lagi to? Suami siaga itu siap berbagi rasa" ejek Firman pada Randy sambil tertawa melihat Randy meringis karena mual sejak tadi
"Udah Fir cukup terakhir ini saja. Rasanya luar biasa" Randy merasa tubuhnya begitu lemas.
"Sabar bang, demi Naya" ucap Reno yang duduk menemani Randy.
"Kurang sabar bagaimana aku Ren? Asalkan jangan Naya lagi uda apa aja aku terima lah" Nada Randy sangat pasrah.
***
"Loh mas, kenapa ini?" Tanya Naya pada Randy yang dipapah Reno masuk ke dalam rumah.
"Mabuk Nay" jawab Reno
"Ya ampun mas, ada ada aja sich" Sebenarnya Naya ingin sekali menertawakan suaminya tapi dia takut dosa.
------
__ADS_1
"Mas mau makan apa? dari berangkat kerja mas nggak makan loh" tanya Naya sambil mengusap tangan Randy
"Nggak Nay, perutku nggak enak rasanya" tolak Randy
"Nggak bisa, mas harus makan. kasihan anak kita" bujuk Naya
"Yang hamil khan kamu dek, memangnya mas ini hamil juga" ucap Randy heran.
"Aku nggak akan makan kalau mas nggak makan" ancam Naya
"Duuhh dek, kamu ini. Ya uda mana.. tapi setelah ini kamu makan juga ya"
"Iya mas" Naya segera ke dapur mengambil makan untuk Randy. Dengan penuh perjuangan Randy memakan makanan yang di bawakan Naya agar Naya mau makan juga.
Aku tau mas, kamu berusaha keras untuk makan karena kemarin aku juga merasakannya. Kamu memang suamiku yang terhebat.
***
Tengah malam hari Randy merasa badannya sudah segar dan seakan tidak merasakan apapun lagi. Randy duduk di belakang rumahnya dan merokok.
Sungguh berat perjuanganmu Nay. Akulah yang sangat pengecut menghadapi ini semua. Aku harap kamu dan anak kita selalu sehat. Yang terpenting aku bisa menemanimu lagi saat kamu berjuang menghadirkan anak kita ke dunia
.
__ADS_1
.