Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
91. Panik Karena anak gadisku


__ADS_3

Yara duduk di bangku kelas sembilan. Hari ini Yara pulang sekolah dengan menangis dan bersembunyi di dalam kamar. Wajahnya gelisah dan ketakutan.


"Anak gadismu kenapa pa?" Naya baru saja selesai menyapu halaman belakang sebelum sholat Jum'at sing hari itu.


"Coba mas tanya sana!" titah Naya pada Randy. Randy segera menghampiri putrinya di dalam kamar.


"Kenapa nangis? siapa ganggu anak papa?" tanya Randy.


"Nggak ada pa" jawab Yara.


"Mungkin sebentar lagi aku mau mati pa. Papa nggak akan melihatku lagi" Randy mengerutkan dahi tidak mengerti tentang ucapan putrinya.


"Hidup mati jodoh rejeki hanya Allah yang menentukan" Yara meyakinkan.


"Iya pa, tapi aku pasti kena santet" Yara menunduk sedih.


"Kena dimana?? pohon pisang??" Randy ingin tertawa tapi menahannya sekuat mungkin.


"Yara serius pa" tatapan serius mengarah ke Randy.


"Pulang sekolah Yara berdarah darah, padahal Yara nggak duduk di atas paku..nggak sakit juga nggak ada tanda apapun, tapi papa lihat ini..rok Yara berdarah pa" Yara berdiri membelakangi Randy menunjukkan roknya yang terkena noda darah.


Randy bingung salah tingkah harus mengatakan apa pada putrinya. Haruskah Naya yang menjelaskan atau dia yang pantas menjelaskan.


"Ma..sini ma!!!" teriak Randy.

__ADS_1


"Ada apa pa?" Naya melihat kode arah mata Randy pada rok Yara.


"Ya ampun Yara..kamu haid??" Naya terkejut melihat rok Yara.


"Ini haid ma?? Yara sudah dewasa donk?? Untung Yara nggak jadi mati ma, padahal Yara sudah takut banget.....Iiihh..papa jangan disini. Ini Khan rahasia wanita. Jangan nguping juga" Yara menghentakan kaki sedikit mendorong bahu Randy agar keluar dari kamarnya.


"Ini anak..tadi bilang mau mati lah, kena santet lah. Sekarang malah usir papanya" dengus Randy yang membiarkan Naya berdua saja dengan putrinya di kamar.


-----


Randy duduk di ruang tengah melihat berita di televisi. Yara mondar mandir dengan babydoll kesayangannya. Ada perasaan gelisah dan hari melihat Yara


Anak gadis papa sudah beranjak dewasa. Padahal sepertinya papa baru saja melihatmu terlahir kedunia. My inces..kesayangan papa. Kalau melihatmu semakin dewasa. Kadang papa takut membayangkanmu akan menikah dan meninggalkan papa bahkan tidak ingat papa lagi.


"Yara..kalau sudah haid nggak boleh pegang cowok ya, apalagi Yara yang di pegang. Nggak boleh. Kalau ada teman Yara yang nakal begitu..cepat bilang papa" Randy menasehati Yara sambil makan kue donat buatan Naya. Randy sangat membatasi ruang gerak Yara.


"Pegangan tangan kalau nggak ada yang mendesak, nggak boleh. Apalagi cium ciuman. Bisa hamil kamu nanti!" Randy menegaskan dan mendoktrin agar putrinya yang polos agar bisa menjaga diri.


"Iya pa, seperti yang di TV itu" polos Yara. Randy hanya mengangguk santai menanggapi putrinya sambil terus mengunyah donatnya.


"Kapan kamu haid?" tanya Zein yang memang lebih peka segala galanya.


"Tadi.. setelah pulang sekolah" jawab Yara ikut mengambil donat.


"Oohh..denger tuh kata papa. Jangan ciuman nanti hamil" ledek Zein dengan tersenyum nakal.

__ADS_1


"Zein..diam. Jangan buat masalah" tegur Naya.


"Iya mama. maaf" Zein memang sangat menurut pada Naya.


"Aku kira tadi kena santet lho Zein" Yara mengucapkannya dengan ekspresi culunnya.


"Santet pala lu, dukun santetnya juga ogah kirim jin nya, takut balik tugas..itu jin udah ketularan onengnya" tawa senang Zein membuat Yara cemberut kesal.


"Pa.. Minggu depan Yara berenang ya?" ijin Yara pada Randy.


"Nggak sayang, kalau berenang nanti tenggelam, itu kolam renang tentara kedalamannya ada kalau dua meter" tolak Randy.


"Aku minta di ajarin om om di sana aja pa" usul Yara.


"Eeiiittss..nggak boleh juga sayang. Ingat apa kata papa tadi?" pancing Randy.


"Khan nggak ciuman pa!" protes Yara.


"Yara tau nggak kalau banyak racun dan kuman laki laki di kolam itu. Yara mau kena kadas, kurap, kutu air???" pelotot Randy pada Yara. Yara menoleh pada mamanya.


"Sudah sayang, nurut papa ya! papa hanya ingin menjaga kamu. Papa ingin anak gadisnya selalu aman. Yara tau Khan keinginan papa?" bujuk Naya.


"Tau ma, biar Yara nggak kena kadas, kurap, dan kutu air" jawab Yara mantap.


"Subhanallah.." Randy tersenyum getir, padahal dalam hati menangis merasakan kepolosan putrinya. Di sisi lain Zein sudah tertawa terbahak bahak mendengar Yara begitu lugu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2