
Zein memakai seragam putih abu-abu miliknya. Aroma parfum menyeruak membuat Naya tidak suka.
"Parfum apa itu Zein?" tanya Naya
"Ini mahal ma, aku nabung lama biar para wanita terpikat" sombong Zein yang di balas getokan kencang dari Randy di kepala Zein.
"Minyak nyong nyong aja bangga"
"Papa mana tau kalau parfum ini membuat cewek tergila-gila" ucap Zein meledek papanya.
"Kamu pikir dulu mama mu mengejar papa karena apa?"
"Apa sich mas, kok kalian malah saling sombong. Mama nggak ngejar papa lho ya!" Naya menegaskan. Randy terkekeh geli.
***
"Alia mau pulang bareng nggak?" ajak Zein
"Ayo Zein..di rumah aku lagi sepi. Mau main dulu nggak?" Alia seperti memberi umpan pada Zein. Zein yang menuju dewasa di awal kelas dua belas tentu saja semangat dan tidak melewatkan kesempatan ini.
"Ayo honey" jawab Zein nakal sambil menyerahkan helm miliknya pada Alia.
-------
"Mau main di kamar aku nggak?" tanya Alia dengan nada manjanya.
"Disini aja" Zein menolak ajakan Alia.
"Katanya tadi mau main" Alia bergelayut manja di lengan Zein.
"Aku lagi nggak mood nih sayang, tadi abis olahraga badanku capek"
"Payah kamu yank" Alia kesal mendapat penolakan dari Zein.
Bagaimana pun juga Zein masih memikirkan masa depannya. Ia tidak ingin masa depannya suram. Apalagi mamanya selalu menasihatinya. Zein sangat menyayangi mamanya.
"Iya..aku memang payah. Lebih baik aku pulang lagipula aku juga lelah" Zein mengambil jaketnya yang sempat ia letakkan di sofa lalu pulang.
__ADS_1
***
"Rok mu itu pendek sekali Ra" Zein melotot melihat rok kakaknya yang di atas lutut.
"Sepertinya ini salah ukur dech" Yara menurunkan roknya agak lebih menutupi paha. Yara baru saja pulang kuliah perhotelan.
"Kamu menyamakan ukuran apa??" kesal Zein sambil turun dari atas motornya melepas jaket.
"Ukuran rok denim ku" jawab Yara polos
"Eehh.. ikan gabus.. rok denim itu melar, ini kain nggak melar ( menarik rok Yara ), Kenapa pakai ukuran itu. Papa teriak baru tau rasa lu" celoteh Zein.
"Papa tadi sudah berangkat kerja, mama ada acara arisan kantor"
"Tuh Khan..iihh..ceroboh banget sich kamu ini" Zein menutup bagian bawah Yara dengan jaket yang dililitkan di pinggang Yara.
"Heeehh.. apa mata lu liat perempuan kebuka pada ngeres aja lu" geram Zein pada teman pria Yara yang tidak berhenti menatap gadis itu.
"Sudah Zein..jangan marah lagi. Aku malu" ucap Yara hampir menangis.
"Kamu ini perempuan, jangan mengundang penasaran. Kalau kamu sampai celaka, aku yang sakit hati" Zein menaiki motornya. Yara ikut naik motor dengan duduk miring. Bersandar di punggung Zein sambil menangis.
Randy pulang bersamaan dengan kedatangan Zein dan Yara. Naya dan Randy saling berpandangan melihat Yara masuk ke dalam rumah dengan cepat dan menangis.
"Ada apa kakakmu nak" tegur Naya sesaat setelah membuka pintu mobilnya. Pandangan Randy tajam mengarah ke mata Zein.
------
"Kamu nggak ukur dulu? itu terlalu pendek" Naya kecewa dengan jahitan seragam Yara.
"Ganti besok. Pakai jilbab yang rapat, nggak pakai yang terbuka begitu" Randy bergidik ngeri melihat seragam putrinya.
"Iya pa" jawab Yara takut.
"Terus kenapa menangis???" kesal Randy
"Zein memarahiku sepanjang jalan. Dia mengomel tanpa henti" Yara melirik Zein.
__ADS_1
Zein tetap dengan santai melahap makan siangnya.
"Besok kamu pakai itu lagi.. ku sobek rok itu buat lap kompor mama" Randy diam saja tapi sebenarnya dia juga tertawa melihat putra putrinya yang selalu menunjukkan perhatiannya dengan cara seperti ini.
Yara mendekati Naya meminta perlindungan. Randy membuka dompetnya menyerahkan beberapa lembar uang pada Naya.
"Ini ma, pegang uangnya, nanti papa antar buat beli bahan seragam Yara. Awas kalau papa lihat Minggu depan rok ini masih di pakai lagi" ancam Randy.
"Iya pa" Naya mengambil uang dari tangan Randy, Naya mengusap punggung suaminya agar tidak marah lagi lalu masuk ke dalam kamar menyimpan uang tersebut.
***
Tengah malam Zein mendapat telepon dari seseorang. Zein mengangkatnya dalam keadaan mengantuk. Ternyata Alia yang menelepon.
Alia : Besok jemput aku donk sayang.
Zein : Nggak bisa, aku berangkat sama Yara.
Alia : Memang kakakmu nggak bisa berangkat sendiri ya!
Zein : Nggak bisa Alia..aku yang antar jemput dia.
Alia : Papamu Khan ada. Kenapa nggak minta di antar papamu saja.
Zein : Sudah.. aku mau tidur jangan bahas ini lagi.
"Apa dia ini. Biarpun Yara itu bodoh aku tidak akan membiarkan dia sendirian" gumam Zein.
Randy yang sempat mendengar pembicaraan Zein kembali melanjutkan tidurnya. Sejak Zein dan Yara tumbuh dewasa, Randy seringkali tidur malam untuk mengawasi anak anaknya. Terutama Yara yang selalu membuatnya khawatir.
***
"Ra..cepat donk, nanti terlambat" Zein memanggil Yara yang belum juga keluar dari kamarnya.
"Sebentar Zein.." lirih Naya dari dalam kamar.
.
__ADS_1
.