
Orientasi di laksanakan selama dua minggu. Zein melaksanakan kegiatan dengan sungguh-sungguh tanpa kesalahan. Ia ingin segera menyelesaikan pendidikan.
Perubahan Zein sangat membanggakan. Randy yang mendengar kabar baik ini semakin bangga dengan putranya.
Hingga tiba di saat akan datangnya hari pelantikan.
***
Randy duduk berdua dengan Naya di belakang rumahnya.
"Anak kita sudah dewasa dek" Randy menyeruput jahe hangat buatan Naya. Randy juga menyulut rokoknya.
"Jangan banyak merokok lagi mas, punya anak perempuan, mas akan cepat punya cucu. Apa mas tidak ingin puas bermain dengan cucu kita nanti? Apa mas tidak merindukan tangis bayi lagi di rumah ini? Randy tersenyum mendengar Naya.
"Iya ma, papa kurangi rokoknya. Papa juga rindu saat menggendong Yara dan Zein. Papa tetap ingin ada putri dan pangeran kecil di rumah ini. Semoga Zein bisa berdinas disini dan Yara tetap berada disini"
"Aamiin pa" senyum Naya sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Randy.
"Tak menyangka ya ma, harga dua belas juta membawamu hidup bersamaku hingga saat ini" kenang Randy.
"Apa papa pernah menyesal menikah dengan mama?"
"Kalau papa menyesal tak kan ada 3 anak dalam hidup kita sayang" Rival mengecup sayang kening Naya yang kini sudah nampak sedikit keriput di sudut matanya.
Randy menyadari kalau ia sudah tak segagah seperti saat pertama bertemu dengan Naya dulu. Tapi di usia menjelang teduh tak merubah rasa cinta pada diri Randy untuk Naya. Gadis yang di nikahnya dulu dan telah memberinya dua orang anak yang berada di sisinya.
"Tetaplah disini bersamaku sampai akhir hayatku sayang. Jika aku nanti tiada lebih dulu. Maukah kamu selalu mencintaiku dan menyimpan seluruh kenanganku di hatimu?"
Naya sangat sedih mendengar kata-kata Randy. Ia sangat takut hidup tanpa Randy sebagai sandaran hidupnya saat ini. Naya tak sanggup membayangkan jika harus 'kehilangan' Randy sekali lagi.
"Nggak mas, jangan katakan itu. Aku mau mas tetap bersama denganku. Aku saja yang pergi lebih dulu. Aku nggak sanggup kalau mas pergi meninggalkanku" Naya memeluk Randy dengan rasa takut. Randy mengembangkan senyum walau hatinya terasa getir.
Bidadariku, sama seperti katamu. Aku pun tak sanggup berpisah denganmu. Kamulah yang mengisi hariku sampai hampir 24 tahun ini menikah denganmu. Kamu bagai jantung untukku. Dimana dia berhenti berdetak, maka disitulah hidupku ikut binasa.
Naya pun terisak mengingat awal pertemuan dirinya dengan Randy. Naya yang sangat takut akan sentuhan Randy hingga berbulan-bulan mengabaikan suaminya. Naya menyadari dirinya yang pencemburu mengantarkannya menjadi seorang istri dan menjadikannya seorang ibu. Di sanalah Yara merasakan begitu besar cinta Randy untuknya.
__ADS_1
Jika bukan kamu mas, tak akan sebahagia ini hidupku. Jika bukan karena kamu, mungkin aku akan terpuruk dan menangis di masa tuaku. Aku sangat bahagia memiliki imam sepertimu mas.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Dua Minggu lagi Zein akan di lantik. Beritahu Mutia agar ikut dengan kita kesana. Ajak Yara juga!"
***
Mutia sangat bahagia karena ia akan bertemu dengan Zein. Rasa gugup menyelimuti hatinya. Mutia memakai gaun yang sangat, ia memandang bucket bunga di tangannya. Yara mengusap bahu calon adik iparnya.
Sungguhkah aku yang menyambutnya dan sungguhkah aku yang akan menjadi istrinya.
"Sudah nak, ayo jalan ke tempat pelantikan Zein" Ajak Naya pada Mutia. Yara pun mengikuti mereka keluar dari dalam kamar.
Randy memakai seragam upacara kebanggaan dengan pangkat Lettu. Randy kini juga sudah menyandang pangkat itu di pundaknya. Randy menarik napasnya panjang. Degup jantung rasa bangga menguatkan langkahnya.
***
Para orang tua berdiri menunggu putra mereka selesai penyematan pelantikan. Randy dan Naya berdiri dengan harap cemas menunggu putra mereka.
Tak lama sosok yang mereka nantikan tiba. Zein berdiri memberi hormat di hadapan Randy.
Randy menyambut tanda hormat dari putranya. Zein menurunkan tangan, membuka topi pet dan menyelipkannya di lengan. Air mata tak bisa ia bendung lagi Zein bersujud di kaki Naya, tangannya memeluk kaki Naya dan Randy.
"Aku berhasil membawa pangkat ini di pundakku pa. Semoga aku bisa membawa nama baik papa seumur hidupku dan aku selalu menjadi kebanggaan mama. Terima kasih mama dan papa mengantarkan ku hingga titik ini. Tanpa mama dan papa aku tidak akan bisa seperti sekarang ini" tangisnya.
"Mama dan papa tidak ingin apapun nak. Hanya berhasil mu saja menjadi kebanggaan mama dan papa" Naya ikut menangis menarik Zein dan memeluknya. Zein pun memeluk mama Naya dengan erat sambil menarik tangan Yara.
"Apa kamu nggak mau memberiku selamat atas keberhasilanku Ra?" tanya Zein.
Selamat ya Zein. Kamu adikku yang terhebat. Kamu gagah sekali memakai seragam ini. Yara meneteskan air mata di dada Zein.
"Jangan terus seperti ini. Sayanglah pada air matamu. Semoga kamu selalu bahagia...kak" bisiknya sambil mencium pipi Yara.
Rekan Zein melihat adegan itu. Mereka mengira itu adalah kekasih Zein. Tak lama seorang wanita berjalan ke arah Zein membawa sebucket bunga mawar yang indah, ia menunduk malu di hadapan Zein. Zein melepas pelukannya pada Yara dan menghadap ke arah Mutia. Zein menarik kedua tangannya di belakang.
"Untuk siapa bunga itu kamu bawa?" senyum Zein melihat Mutia yang nampak malu. Randy, Naya dan Yara kembali ke tempat duduknya meninggalkan Zein dan Mutia.
__ADS_1
"Untukmu" Mutia menyerahkan bunga mawar itu dengan salah tingkah. Zein menerima bunga pemberian Mutia.
"Apa hanya bunga ini untukku?" Zein sengaja menggoda Mutia.
"Mas mau apa?" tunduk Mutia lebih dalam.
Zein maju mendekati Mutia, memakaikan topi pet di rambut Mutia yang tertutup.
"Aku mau kamu. Mau kamu jadi istriku, mau kamu jadi pendampingku, mau kamu jadi ibu dari anak-anakku. Angkatlah namaku di belakang namamu. Jadilah Nyonya Zein Armedya Prawira! Apa kamu bersedia?"
Tanpa di sadari Zein. Rekannya merekam adegan mereka berdua. Mereka menggoda Mutia agar mau menerima lamaran Zein di hadapan mereka. Wajah Mutia sangat merah menghadapi godaan rekan seletting Zein.
"Iya mas, aku bersedia" Sorak Sorai rekan seletting Zein membawa aura bahagia pada acara penutupan pelantikan Zein.
Zein mencondongkan tubuhnya. Rekan seletting Zein ikut berhenti memperhatikan apa yang akan Zein lakukan. Wajah Zein semakin mendekati wajah Mutia. Hingga tersisa dua centimeter lagi.
"Tunggu sebentar ya sayang, Aku sakit perut"
Kekesalan rekan Zein membuat seisi gedung ramai kembali. Mereka mengira akan mendapatkan tontonan romantis. Ternyata semua hanya karena Zein sakit perut.
Mutia yang tadinya sudah deg degan langsung menyusul Randy, Naya dan Yara untuk duduk.
"Ku kira bocah itu akan berbuat ulah" ucap Randy lega.
Tak berapa lama mereka semua sudah berkumpul dan berfoto bersama.
Cekreeeekk
Foto mereka menjadi saksi akan ada masa yang akan mereka sambut di esok hari.
TAMAT
Terima kasih atas dukungan pembaca semua yang telah setia mengikuti novel receh ini hingga tamat. Jika masih mungkin, Nara akan membuat masa muda Zein disini.😉
Jangan lupa ikuti kelanjutan nasib Yara di "Untuk Kamu 2". Wall NaraY
__ADS_1
Tetap sehat semua ya. 😍😍😍**